Arsip

Archive for 24 November 2009

Shalat Bukan Sekadar Ritual Pada bulan R…

24 November 2009 Tinggalkan komentar

Shalat Bukan Sekadar Ritual

Pada bulan Rajab ini, umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu hikmah Isra Mi’raj yang terpenting adalah kewajiban shalat bagi setiap Muslim lima kali sehari semalam. Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi (seharusnya) merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Shalat berasal dari kata shalla-yushalli-shalat-shilat, yang berarti hubungan. Dalam konteks sufisme, shalat berarti adanya keterjalinan atau hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik, antara hamba dan Tuhannya. Shalat merupakan wahana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ber-taqarrub kepada Allah SWT, penguasa jagat raya ini. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang. Pernah suatu kali Imam Hasan bin Ali ditanya orang, ”Mengapa orang yang melaksanakan shalat itu wajahnya berseri dan jiwanya tenteram?” Imam Hasan bin Ali menjelaskan, ”Karena mereka berdialog (munajat) pada Tuhannya.

” Shalat juga merupakan identitas bagi seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, ”Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia sudah kufur nikmat.” (HR Baihaqi). Dalam hadis lain dikatakan, ”Shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ikut meruntuhkan agama.” (HR Turmudzi). Begitu pentingnya kewajiban shalat bagi seorang Muslim, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat, hingga ia sendiri malah dishalatkan. Pengecualian khusus hanya berlaku untuk wanita Muslimah yang sedang menstruasi. Dalam menunaikan shalat, setiap Muslim dianjurkan untuk berjamaah. Ini mengandung makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Persaudaraan yang didasarkan oleh ikatan religius, ukhuwah Islamiyah, untuk menebarkan kebenaran dan kemaslahatan bagi umat manusia. Rasa persamaan juga dipupuk dalam shalat berjamaah.

Shalat berjamaah mengandung asas equality before law, persamaan di hadapan hukum. Siapa yang datang ke masjid lebih awal berhak menempati shaf pertama, tanpa memandang jabatan dan posisi seseorang. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi sebenarnya sudah ditanamkan pula di masjid melalui ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Seorang Muslim yang benar-benar shalat jiwanya tenang dan hati pun tenteram. Karena, orang yang shalat selalu merasa dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, perbuatan keji dan munkar seperti praktik KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme), penipuan, penggelapan, dan manipulasi, mestinya dapat dicegah dalam masyarakat yang shalatnya baik. Ini semua bisa terjadi karena masyarakat akan selalu merasa berada dalam kontrol dan pengawasan Ilahi. Wallahu a’lam. (RioL)

Shalat Bukan Sekadar Ritual

Umat Islam tidak diwajibkan “melaksanakan” shalat, tetapi harus “mendirikan” shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifarnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku sehari-hari. Bahwa shalat merupakan “tiang agama” (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mafhum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).

Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang Muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi SAW pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah SWT melainkan semakin jauh (bu’da).

Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan “asal jadi”. Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi. Firman Allah SWT: Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya) (QS. 107:5-6).

Shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut “melaksanakan” shalat, tetapi “mendirikan” shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual), tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku, berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah SWT. Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah “penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah,” sebagaimana makna asal kata “Islam,” aslama, yakni menyerahkan diri.

Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah SWT. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah SWT akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah SWT, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku’, sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah SWT, serta ketenangan jiwa (QS. 2:45). Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma’arij: 19).

Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan daki yang ada di badan (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

Tiada perintah Allah SWT yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang Muslim dalam kehidupannya.

Takbir –sebagai pembuka shalat– menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang Muslim hanya Allah yang Mahabesar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah semata.

Gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, i’tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.

Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. “Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya” (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi SAW menegaskan, “Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi “trouble maker” atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. “Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain,” demikian sabda Nabi SAW dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam.

http://swaramuslim.net

Kategori:status Tag:

Kebenaran Al-Quran Bag.2

24 November 2009 Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bersama ini kami ucapkan salam sejahtera ke seluruh hamba-hamba Allah dimana saja berada, semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Barokah-Nya kepada kita, dan semoga Allah melindungi kita dari gangguan syaitan yang terkutuk, dan semoga Allah menetapkan kasih sayang-Nya kepada kita selama-lamanya. Dan dengan seiring Rahmat dan kasih sayang-Nya itu mari bersama-sama kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan semesta alam. Dan mari kita memohon kepada-Nya :

(Yaa Allah) yaa Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan atasku dan atas kedua orang tuaku, bahwa aku hendak beramal sholeh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.“
“ Yaa Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku (dalam mengerjakan perintah-Mu ini). Dan lepaskanlah (perkataan-Mu) dari tali ikatan lisanku ini, (supaya mereka mengerti terhadap apa yang Engkau bicarakan kepada mereka dengan melalui) perkataanku ini, (karena sesungguhnya aku hanya menyampaikan perkataan-Mu yang Engkau perintahkan kepadaku). Dan jadikanlah untukku seorang pembantu yang dari keluargaku. (Yaitu) Harun saudaraku (supaya dia membacakan ayat-ayat Engkau kepada mereka). Dan teguhkanlah kekuatanku dengan dia. Dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku ini (supaya aku dan dia sama-sama satu urusan dalam mengerjakan perintah-Mu. Dan) supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau. Dan (supaya) kami banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat terhadap apa yang kami (kerjakan). Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sesungguhnya tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.“

Dan semoga Allah melimpahkan salam hormat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dan kepada para Anbiya, para Utusan-Nya, keluarganya dan kepada sahabatnya sekalian. Amin, amin, amin yaa Robbal ‘alamin. Amma Ba’du.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sebelum kami mengemukakan apa yang hendak kami sampaikan kepada saudara-saudara, maka terlebih dahulu kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya atas kelancangan kami ini, yang mana bahwa kami telah lancang mengirimkan surat ini kepangkuan saudara-saudara dengan tanpa kabar berita yang dari sebelumnya. Akan tetapi karena keadaan waktu yang sangat sempit bagi kami untuk mengunjungi saudara-saudara, maka kami lakukan menjalankan perintah Allah itu dengan cara seperti ini. Maka itu ma’afkanlah kami, karena yang demikian itu bukanlah kami menghinakan saudara-saudara, dan bukan pula kami tidak menghormati saudara-saudara dengan penghormatan yang sebagaimana mestinya, akan tetapi yang demikian itu hanya karena keadaan waktu saja yang tidak mencukupi bagi kami, kalau kami menjalankan perintah Allah itu dengan mengunjungi saudara-saudara.

Oleh karena itu kami kirimkan surat ini ke pangkuan saudara-saudara untuk menunaikan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya, yaitu supaya kami menyampaikan amanat Allah kepada saudara kami di mana saja berada, maka itu mari kita terima apa yang Allah amanatkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an itu.

Akan tetapi sebelum dan sesudahnya tidak lupa kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya, apabila ada perkataan kami yang tidak berkenan di hati saudara-saudara atau apa saja kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini, karena kesalahan itu bukanlah kami sengaja melakukannya dan bukan pula sesuatu yang kami inginkan, melainkan itu hanya semata-mata dari kebodohan kami sendiri. Maka itu semoga saudara-saudara sudi kiranya mema’afkan segala kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sebelum kami mengemukakan amanat Allah dengan kebenaran Al Qur’an dalam buku jilid ke dua ini, maka terlebih dahulu mari kita saling bertanya-tanya terhadap diri kita masing-masing.

BENARKAH AL QUR’AN ITU PETUNJUK ALLAH UNTUK 0RANG-0RANG YANG BERTAQWA KEPADA ALLAH DENGAN MENGERJAKAN SEGALA PERINTAH-NYA … ?

“ Ya Benar, sebagaimana yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya ” :

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alif – Lam – Mim. (Q.S. 2 : 1)

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan didalamnya, (sebagai) petunjuk untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya). (Q.S. 2 : 2)

(Mereka itu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mereka mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. (Q.S. 2 : 3)

Dan (mereka) orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepadamu, dan kepada kitab-kitab yang di turunkan sebelummu, dan mereka yakin kepada (kehidupan) hari akhirat. (Q.S. 2 : 4)

Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah yang beruntung. (Q.S. 2 : 5)

Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja atas mereka, apakah kamu peringatkan mereka atau kamu tidak peringatkan mereka, mereka tidak akan beriman.(Q.S. 2 : 6)

Allah mengunci mati hati mereka dan menutup pendengaran mereka dan penglihatan mereka, dan bagi mereka azab yang sangat berat. (Q.S. 2 : 7)

Dan sesungguhnya (di akhirat) benar-benar Al Qur’an akan (menjadi bahan) penyesalan atas orang-orang kafir itu. (Q.S. 69 : 50)

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sehubungan dengan adanya Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka mari kita saling bertanya kepada diri kita masing-masing, karena kita orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, yaitu orang-orang yang mengerjakan perintah Allah.

Maka bagaimana, sudahkah kita menggunakan petunjuk Allah dengan Al Qur’an dalam mengerjakan perintah-Nya itu ? Tentu saja bukan ! Karena sungguh bagaimana kita akan dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki, seandainya kita tidak menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, dan jika kita tidak menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, maka tentu kita akan ragu-ragu apabila kita mengaku orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya itu.

Adapun yang demikian itu karena bagaimana kita akan mengaku orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Seandainya kita tidak menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu karena kita tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki dalam mengerjakan perintah-Nya.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita mengerjakan perintah seseorang yang ada di antara kita, apakah orang yang menyuruh kita itu tidak memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintahnya ? Tentu saja bukan !. Karena kita tidak mengetahui apa yang di kehendaki orang itu dalam mengerjakan perintahnya. Dan jika kita mengerjakan sesuatu tanpa petunjuk dari orang lain, maka yang demikian itu kita tidak termasuk orang yang mengerjakan perintah orang lain, melainkan itu bahwa kita hanya mengerjakan sesuatu itu dari kehendak kita sendiri, bukan mengerjakan perintah orang lain.

Dan demikan pula kita dalam mengerjakan perintah Allah, maka jika kita tidak menggunakan petunjuk Allah atas apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu, maka yang demikian itu tentu kita akan ragu-ragu apabila kita hendak mengaku orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Maka itu ambilah petunjuk Allah dalam Al Qur’an apabila kita hendak mengerjakan perintah Allah, kemudian gunakanlah petunjuk itu dalam mengerjakan perintah-Nya, supaya kita tidak ragu-ragu apabila kita mengaku orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Adapun yang demikian itu karena Al Qur’an sudah jelas yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, baik itu untuk mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rizki yang telah Allah berikan kepada kita dan sebagainya, jika kita percaya kepada Kitab Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, dan kepada kitab-kitab yang di turunkan sebelumnya, dan kita meyakini akan kehidupan hari akhirat yang telah Allah terangkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu.

Dan tidaklah mungkin Allah menyuruh kita dengan tidak memberi petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya, karena bagaimana kita akan dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki, jika Allah tidak memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena kita tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki dalam mengerjakan perintah-Nya.

Oleh karena itu Allah berikan Al Qur’an kepada kita dengan melalui rosul-Nya Nabi besar Muhammad SAW, yaitu sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita tidak kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya, dan dengan mengikuti petunjuk-Nya itu supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki.

Maka itu terimalah Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan gunakanlah petunjuk itu dalam mengerjakan perintah-Nya, supaya kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk Allah, dan supaya kita termasuk orang-orang yang beruntung, karena dengan mengikuti petunjuk-Nya itu niscaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari perintah-Nya, dan jika demikian tentu kita akan mendapat pahala dari sisi Allah yang sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu.

Dan sungguh bagaimana kita akan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, jika kita tidak mau mengambil petunjuk-Nya. Dan bagaimana kita akan termasuk orang-orang yang beruntung dalam mengerjakan perintah Allah, jika kita tidak mau menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya.

Adapun yang demikian itu karena seorangpun tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah Allah, kecuali Allah sendiri.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita mengerjakan perintah seseorang yang ada diantara kita, maka tentu orang itu akan memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintahnya, supaya kita dapat mengerjakan perintahnya dengan sebagaimana apa yang ia kehendaki.

Adapun yang demikian itu karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang di kehendaki orang itu dalam mengerjakan perintahnya kecuali dia sendiri, maka jika orang yang menyuruh kita itu tidak memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintahnya, niscaya kita akan kesalahan dalam mengerjakan perintahnya, karena kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki orang itu dalam mengerjakan perintahnya.

Akan tetapi seandainya orang yang menyuruh kita itu sudah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintahnya, kemudian kita kesalahan dalam mengerjakan perintahnya, maka jika demikian tentu kita termasuk orang-orang yang mendapat kerugian, bukan termasuk orang-orang yang beruntung dalam mengerjakan perintahnya, karena apa yang kita kerjakan dari perintahnya itu salah tidak sebagaimana apa yang ia kehendaki dari petunjuknya itu. Dan demikian pula kita dalam mengerjakan perintah Allah, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya.

Maka itu mari kita terima Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan janganlah kita seperti orang-orang kafir yang mengingkari Al Qur’an dengan tidak mau menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan mereka di ingatkan bahwa Al Qur’an itu sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, akan tetapi mereka sama saja seperti orang yang tidak pernah di ingatkan, dan mereka tidak percaya bahwa Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka mereka tidak mau mengambil petunjuk Allah dalam Al Qur’an, dan tidak pula mereka mau menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena mereka kafir dengan mengingkari Al Qur’an yang telah Allah turunkan sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya.

Maka Allah mengunci mati hati mereka dan menutup pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sehingga mereka seakan-akan tidak mendengar peringatan itu, walaupun mereka melihat sendiri dengan membacanya atau mendengarkan pembicaraan Allah yang menerangkan segala sesuatunya dengan melalui Al Qur’an, maka mereka tidak mau menerima Al Qur’an sebagai petunjuk Allah dan tidak pula mereka mau mengambil petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan bagi mereka hanya azab yang sangat berat, karena mereka kafir dengan mengingkari Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya.

Padahal sungguh di akhirat nanti benar-benar Al Qur’an akan menjadi bahan penyesalan atas orang-orang kafir itu, karena mereka tidak mau menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan tidak pula mereka mau mengambil petunjuk Allah dalam Al Qur’an untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan tidak pula mereka mau menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan jika demikian tentu mereka termasuk orang-orang yang rugi dalam mengerjakan perintah Allah.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan orang-orang kafir dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah yang menjadi penghuni neraka dan mereka kekal didalamnya. (Qs 2 : 39).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, maka jika kita kafir dengan mengingkari Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, berarti kita mendustakan ayat-ayat Allah, dan jika demikian tentu kita termasuk orang-orang yang rugi dalam mengerjakan perintah Allah.

Adapun yang demikian itu karena Al Qur’an sudah jelas sebagai penerangan dari sisi Allah kepada kita, dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

(Al Qur’an) ini sebagai penerangan bagi manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs 3 : 138).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwasanya Al Qur’an sebagai penerangan dari sisi Allah kepada manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa kapada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya. Maka janganlah kita ragu-ragu apabila kita hendak menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, karena Al Qur’an sudah jelas yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah, dan Allah telah menyempurnakan kalimat-Nya dalam Al Qur’an dengan kebenaran dan keadilan, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan (Al Qur’an) telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan. Yang (seorangpun) tidak ada yang dapat merobah (apa yang telah Allah tetapkan) pada kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs 6 : 115)

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang dimuka bumi, (niscaya) mereka menyesatkan kamu dari jalan (petunjuk) Allah, (karena) mereka tidak mengikuti (petunjuk Allah) melainkan mereka hanya (mengikuti) prasangka belaka, dan tidaklah mereka (mengatakan bahwa mereka mengikuti petunjuk Allah) melainkan mereka hanya berdusta. (Qs 6 : 116)

Sesungguhnya Tuhanmu Dia lebih mengetahui terhadap orang yang tersesat dari jalan (petunjuk)-Nya, dan Dia lebih mengetahui (pula) kepada orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs 6 : 117)
Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa Allah telah menyempurnakan kalimat-Nya dalam Al Qur’an dengan kebenaran dan keadilan, yang seorangpun tidak ada yang dapat merobah apa yang telah Allah tetapkan pada kalimat-Nya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dan jika kita mengikuti kebanyakan orang dimuka bumi, bukan mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, niscaya mereka akan menyesatkan kita dari jalan petunjuk Allah, karena Allah telah menerangkan kepada kita bahwa kebanyakan mereka tidak mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, melainkan mereka hanya mengikuti prasangka belaka, dan tidaklah mereka mengatakan bahwa mereka mengikuti petunjuk Allah, melainkan mereka hanya berdusta.
Dan sesungguhnya Allah lebih mengetahui terhadap siapa diantara kita yang tersesat dari jalan petunjuk Allah, dan Allah lebih mengetahui pula kepada siapa diantara kita yang mendapat petunjuk Allah.

Oleh karena itu mari kita terima Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, karena sungguh siapa lagi yang akan menerima Al Qur’an, jika bukan kita selaku orang Islam, dan bukankah Al Qur’an itu Kitab orang-orang Islam ? Ya benar, Yaitu Kitab yang telah Allah berikan kepada mereka dengan melalui Rosul-Nya Nabi besar Muhammad SAW, dan itu sebagai petunjuk untuk membenarkan apa yang telah ada bersama mereka dalam urusan mengerjakan perintah Allah, supaya mereka tidak kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya.

Dan Al Qur’an sebagai pemimpin mereka yang memimpin kejalan yang lurus, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, dan Dia tidak menjadikan (Al Qur’an) menyimpang baginya (dari jalan yang lurus). (Qs 18 : 1 )

(Al Qur’an sebagai pemimpin yang memimpin ke jalan yang) lurus dan untuk memberi peringatan akan siksaan yang sangat keras dari sisi-Nya, dan untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah (disediakan) pahala yang baik. (Qs 18 : 2 )

Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. (Qs 18 : 3 )

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa Al Qur’an sebagai pemimpin kita yang memimpin ke jalan yang lurus, dan Allah tidak menjadikan Al Qur’an menyimpang bagi kita dari jalan yang lurus, dan Al Qur’an untuk memberi peringatan kepada kita akan siksaan yang sangat keras dari sisi Allah, dan untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah disediakan pahala yang baik disisi Allah. Mereka kekal dalam sorga selama-lamanya.

Dan janji Allah bukan menurut angan-angan kosong kita, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Kami masukkan mereka ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?. (Qs 4 : 122 )

(Pahala dari Allah) bukan menurut angan-anganmu yang kosong dan bukan (pula) menurut angan-angan kosong Ahli Kitab. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas dengan (kejahatan), dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong dari selain Allah. (Qs 4 : 123 )

Dan barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itulah yang masuk sorga dan sedikitpun mereka tidak dianiaya. (Qs 4 : 124 )

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bahwasanya kelak Allah akan masukkan mereka ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ? Tidak ada bukan ! Kecuali Allah

Maka itu berpegang teguhlah kita kepada perkataan Allah, karena Pahala dari Allah bukan menurut angan-angan kosong kita, yang tidak ada dalam hati kita bahwa kita akan memberikan sorga yang penuh kenikmatan kepada siapa yang mengerjakan perintah kita, dan bukan pula menurut angan-angan kosong Ahli Kitab, yang tidak ada dalam hati mereka bahwa mereka akan memberikan sorga yang penuh kenikmatan kepada siapa yang mengerjakan perintah mereka.

Dan Allah menjanjikan, barang siapa yang melakukan kejahatan niscaya ia dibalas dengan kejahatan, yaitu neraka jahanam ia kekal didalamnya selama-lamanya, dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong dari selain Allah. Dan barang siapa yang beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itulah yang masuk sorga dan sedikitpun mereka tidak dianiaya.

Itulah yang dijanjikan Allah kepada kita, apabila kita beriman kepada Allah dan beramal sholeh dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala cegahan-Nya. Maka itu mari kita terima Al Qur’an dari sisi Allah, dan jadikanlah Al Qur’an sebagai pemimpin kita yang memimpin kejalan yang lurus atau yang benar, karena Allah tidak menjadikan Al Qur’an menyimpang bagi kita dari jalan yang benar, melainkan Al Qur’an benar-benar akan memimpin kita dengan menunjukan jalan yang lurus agar kita sampai kepada Allah, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan Kami telah menurunkan cahaya terang kepadamu (dengan Al Qur’an). (Qs 4 : 174 )

Maka adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan mereka berpegang teguh kepada (perkataan)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka kedalam rahmat dan karunia dari pada-Nya, dan Allah akan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus (agar mereka sampai) kepada-Nya. (Qs 4 : 175 )

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa sesungguhnya Allah telah mendatangkan bukti-bukti kebenaran kepada kita, dan Allah telah menurunkan cahaya terang kepada kita dengan melalui Al Qur’an. Maka apabila kita beriman kepada Allah dan kita berpegang teguh kepada perkataan-Nya, maka Allah akan memasukkan kita kedalam rahmat dan karunia dari pada-Nya, dan Allah akan memberi petunjuk kepada kita ke jalan yang lurus agar kita sampai ke sisi Allah.

Maka itu jadikanlah Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan gunakanlah petunjuk itu dalam mengerjakan perintah-Nya, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Demikianlah kami sampaikan kepada saudara-saudara semoga bermanfa’at bagi kita semua, dan mari kita terima amanat Allah atas apa yang Allah amanatkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah menyuruh kita, supaya kita menjadi orang yang menegakkan keadilan karena Allah, dan supaya kita menegakkan kebenaran dengan menjadi saksi terhadap perbuatan manusia dalam mengerjakan perintah Allah, yaitu apakah mereka mengerjakan perintah Allah itu benar sebagaimana apa yang telah Allah tunjukkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian !

Adapun yang demikian itu karena Allah telah memberi petunjuk kepada kita dengan Al Qur’an yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya. Dan yang demikian itu karena Allah tidaklah menyuruh manusia agar mereka mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, melainkan itu dengan memberikan petunjuknya, supaya mereka dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari perintah-Nya itu, dan supaya mereka tidak kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya.

Maka saksikanlah oleh kita perbuatan manusia itu, walaupun itu terhadap perbuatan kita sendiri, atau terhadap perbuatan ibu-bapak kita dan kaum kerabat kita, dan jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui terhadap perbuatan keduanya dan demikian pula terhadap perbuatan kita, maka janganlah kita mengikuti hawa nafsu kita sendiri dalam menyaksikan perbuatannya itu, supaya kita dapat berbuat adil dalam menegakan kebenaran, yaitu apabila diantara kita ada yang mengerjakan perintah Allah itu salah tidak sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka yang demikian itu kitapun ikut menyalahkan terhadap perbuatannya dengan mengatakan salah. Dan apabila diantara kita ada yang mengerjakan perintah Allah itu benar sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka yang demikian itu kitapun ikut pula membenarkan terhadap perbuatannya dengan mengatakan benar.

Dan janganlah kita memutar balikkan perbuatan kita sendiri, setelah kita menyaksikan bahwa perbuatan kita itu ada yang salah, yaitu bahwa kita memutar balikkan dengan menganggap benar terhadap perbuatan kita yang salah, seandainya perbuatan kita ada yang salah dalam mengerjakan perintah Allah, dan jangan pula kita menganggap salah terhadap perbuatan kita yang benar, apabila perbuatan kita ada yang benar dalam mengerjakan perintah-Nya itu. Karena yang demikian itu kita hanya menipu diri kita sendiri setelah kita menyaksikan bahwa apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu ada yang salah, atau ada yang benar sebagaimana yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan jangan pula kita menentang kebenaran yang telah Allah turunkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kita kerjakan. Dan jangan pula kita membantah kebenaran dengan tidak mau berbuat yang benar dalam mengerjakan perintah Allah, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

(Yaitu) sebagaimana Tuhanmu menyuruh kamu supaya kamu pergi dari rumahmu dengan (membawa) kebenaran, dan sungguh segolongan dari orang-orang yang beriman itu mereka ada yang tidak menyukai (kebenaran). (Qs 8 : 5).

Mereka membantah kamu dalam kebenaran sesudah (kebenaran itu) nyata, (yang bantahannya itu) seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, padahal mereka melihat (bahwa yang mereka bantah itu kebenaran dari Tuhanmu).(Qs 8 : 6).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa Allah menyuruh kita supaya kita pergi dari rumah kita dengan membawa kebenaran, untuk membenarkan apa yang telah ada bersama kita dalam urusan mengerjakan perintah Allah, yang salah satu diantaranya ialah urusan sholat, supaya kita memperbaiki sholat kita agar sholat kita benar sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita mendirikan sholat untuk menyembah Allah, yaitu ketika kita sholat bersujud menyembah kepada-Nya. Dan segolongan dari orang-orang yang beriman itu mereka ada yang tidak menyukai kebenaran, atau mereka tidak mau berbuat yang benar dalam urusan mengerjakan sholat.

Maka mereka membantah kebenaran sesudah kebenaran itu nyata untuk mereka, yang bantahannya itu seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, maka mereka menangguh-nangguhkan untuk memperbaiki sholatnya, yaitu seperti mereka minta diberi tempo dari kematiannya. Padahal mereka melihat bahwa itu kebenaran untuk mereka, agar mereka benar sholatnya, dan agar mereka beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menurunkan kebenaran kepada kita dengan Al Qur’an, sesudah Allah menurunkan kebenaran yang telah ada bersama kita, dan dengan dua kebenaran itu supaya kita dapat berlaku adil atau benar dalam mengerjakan perintah Allah.

Sebagai perumpamaan, apabila kita mengerjakan perintah seseorang yang menyuruh kita dengan berdasarkan suatu perjanjian, yaitu bahwasanya ia akan memberi upah kepada kita sebagai pembayaran atas apa yang telah kita kerjakan dari perintahnya, maka yang demikian itu tentu sesudah kita menyanggupi apa yang telah ia perintahkan kepada kita dengan perjanjiannya itu, pasti kita kerjakan dengan sungguh-sungguh serta benar sebagaimana yang ia kehendaki dari perintahnya itu.

Dan demikian pula kita dalam mengerjakan perintah Allah, yaitu sesudah kita menyanggupi apa yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan perjanjian-Nya itu, maka pasti kita kerjakan dengan sungguh-sungguh serta benar sebagaimana yang Allah kehendaki dari perintah-Nya itu, jika kita berlaku adil kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya.

Itulah dua kebenaran yang telah ada bersama kita, supaya kita berlaku adil serta benar dalam mengerjakan suatu perintah. Dan janganlah kita tidak berlaku adil kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, yaitu apabila kita mengerjakan perintah Allah, maka kita bermalas-malasan seakan-akan Allah tidak memberi upah kepada kita atas apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu, padahal Allah telah menjanjikan pahala yang baik kepada kita sebagai upah atas apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya, yaitu sorga yang penuh kenikmatan yang tidak dapat dibeli walaupun dengan emas sepenuh bumi, kecuali dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Maka itu berlaku adilah kita kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan janganlah kita asal mengerjakan saja dalam melaksanakan perintah Allah, yaitu seakan-akan kita tidak menggunakan akal untuk mengusahakan yang baik atau yang benar dalam mengerjakan perintah-Nya itu, karena jika apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu rusak atau salah tidak sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari perintah-Nya, maka tentu Allah tidak menerima amal perbuatan kita yang rusak atau yang salah itu.

Dan jika demikian tentu Allah akan memberi peringatan kepada kita dengan mengemukakan kerusakan atau kesalahan kita dalam mengerjakan perintah-Nya, dan tentu Allah akan memberi petunjuk lagi kepada kita, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita dengan sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari perintah-Nya, yaitu supaya kita dapat memperbaiki kerusakan atau kesalahan kita dalam mengerjakan perintah-Nya, dan jika kita tidak mau memperbaiki apa yang rusak atau yang salah dalam mengerjakan perintah-Nya, maka tentu Allah akan murka kepada kita dengan mengutuk kita.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita mengerjakan perintah seseorang, kemudian apa yang kita kerjakan dari perintahnya itu ada yang rusak atau yang salah tidak sebagaimana apa yang ia kehendaki dari perintahnya, maka tentu orang yang menyuruh kita itu akan memberi peringatan kepada kita dengan mengemukakan kerusakan atau kesalahan kita dalam mengerjakan perintahnya, dan tentu ia akan memberi petunjuk lagi kepada kita sesudah ia memberi petunjuk dengan sebagaimana apa yang ia kehendaki dari perintahnya itu, supaya kita dapat memperbaiki kerusakan atau kesalahan kita dalam mengerjakan perintahnya, dan jika kita tidak mau memperbaiki apa yang rusak atau yang salah dalam mengerjakan perintahnya, maka tentu orang yang menyuruh kita itu akan marah kepada kita dan mengutuk kita dengan mencaci maki kepada kita.

Itulah dua kebenaran yang kita harus berlaku adil serta benar dalam mengerjakan suatu perintah. Maka itu berlaku adilah kita kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, yaitu sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Katakanlah :” Tuhanku menyuruh berbuat adil, (maka) luruskanlah mukamu disetiap (sholat) dengan bersujud (menyembah kepada-Nya), dan berdo’alah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya, sebagaimana Dia mulai menciptakan kamu yang kamu akan dikembalikan kepada-Nya. (Qs 7 : 29 )

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar, dan itu (lakukanlah dalam) sholat, dan sesungguhnya (sholat itu) sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyu. (Qs 2 : 45 )

(Yaitu) orang-orang yang meyakini, sesungguhnya mereka (sholat) hendak menemui Tuhannya, dan (yang demikian itu) sesungguhnya mereka kembali (menghadap) kepada-Nya. (Qs 2 : 46 )

Itulah yang telah Allah perintahkan kepada kita supaya kita berlaku adil kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu bahwa Allah minta keadilan kepada kita dalam mengerjakan segala perintah-Nya, baik itu dalam melakukan sholat maupun dalam mengerjakan perintah Allah yang lainnya. maka apabila kita hendak melakukan sholat luruskanlah wajah kita kepada Allah dengan bersujud menyembah kepada-Nya, dan berdo’alah kita kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kita kepada perintah-Nya, sebagaimana Allah mulai menciptakan kita yang kita akan dikembalikan kepada-Nya.

Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar, dan itu lakukanlah dalam sholat, dan sesungguhnya sholat itu sungguh berat bagi kita, kecuali kita khusyu serta sungguh-sungguh mengusahakannya, dan meyakini bahwa sesungguhnya kita sholat hendak menemui Allah, dan yang demikian itu sesungguhnya kita kembali menghadap kepada Allah, sebagaimana Allah mulai menciptakan kita yang kita akan dikembalikan kepada-Nya.

Yaitu, bagaimana Allah mulai menciptakan kita dari setetes air mani, maka ketika itu tentu Allah menghadap kepada kita, dan tentu Allah selalu kembali menghadap kepada kita hingga sempurna kejadian kita sebagamana yang Allah kehendaki. Dan sesudah itu Allah mengeluarkan kita, kemudian Allah mengembalikan kita kepada-Nya dengan menyuruh kita, supaya di setiap sholat kita meluruskan wajah kita kepada Allah dengan bersujud menyembah kepada-Nya, maka bersujudlah kita kepada Allah dan sembahlah Dia, dan janganlah kita meninggalkan sholat, karena sholat itu merupakan suatu jalan kembali kita kepada Allah yang telah ditentukan waktunya.

Maka apabila kita telah kedatangan waktu sholat, maka berdirilah kita untuk melakukan sholat, dan rukulah kita dan sujudlah kita dan sembahlah Allah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa (kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya itu). (Qs 2 : 21).

Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap(nya), dan Dia turunkan air (hujan) dari langit, lalu dengannya itu Dia keluarkan buah-buahan sebagai rizki untukmu, maka (yang demikian itu) janganlah kamu jadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (bahwa ciptaan-Nya itu tidaklah sama dengan-Nya). (Qs 2 : 22).

(Ingat !) sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan (sesuatu dalam penyembahannya) dan Allah akan mengampuni (segala dosa) selain (dosa) yang demikian kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang mempersekutukan Allah dengan (sesuatu dalam penyembahannya), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar. (Qs 4 : 48).

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang membersihkan dirinya (dari mempersekutukan Allah dengan sesuatu dalam penyembahannya) ? Bahkan (sebenarnya) Allah-lah yang membersihkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan sedikitpun mereka tidak dianiaya. (Qs 4 : 49).

Perhatikanlah, bagaimana mereka mengada-adakan kedustaan kepada Allah (dalam penyembahannya) ?, dan cukuplah (perbuatan)nya itu menjadi dosa yang nyata. (Qs 4 : 50).

Itulah yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya, supaya kita menyembah Allah Tuhan yang telah menciptakan kita dan orang-orang yang sebelum kita, dan supaya kita bertakwa mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu.

Dan janganlah kita mempersamakan Allah dengan ciptaan-Nya sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk menyembah-Nya itu, dan yang demikian itu karena Allah telah mengingatkan kita bahwa ciptaan-Nya itu tidaklah sama dengan-Nya.

Dan yang demikian itu tentu kita harus bertanya-tanya kepada diri kita masing-masing, dimanakah kita mempersamakan Allah dengan ciptaan-Nya itu ?” Yaitu ketika kita bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama Allah sedang rasa hati dan ingatan kita tercurah kepada sesuatu, bukan tercurah kepada Allah yang telah menciptakan kita, dan jika kita berbuat demikian dalam penyembahan kita kepada Allah, maka sungguh kita termasuk orang-orang yang mempersamakan Allah dengan sesuatu.

Maka itu berusahalah kita meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah, apabila kita sholat bersujud menyembah-Nya itu, supaya kita tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, adapun yang demikian itu karena Allah tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu dalam ingatannya ketika mereka bersujud menyembah-Nya itu, dan Allah akan mengampuni segala dosa selain dosa yang demikian kepada siapa yang Dia kehendaki.

Dan barang siapa diantara kita ada yang mempersamakan Allah dengan sesuatu dalam ingatannya ketika ia bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama Allah, maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar kepada Allah. Adapun yang demikian itu karena Allah tidaklah sama dengan sesuatu yang ia ingat selain Allah ketika ia bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama-Nya itu.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila manusia menciptakan sesuatu, apakah ciptaan itu sama dengan manusia yang telah menciptakannya itu ?” Tidak sama bukan !

Maka itu perhatikanlah oleh kita, bagaimana ia mengada-adakan kedustaan kepada Allah dalam penyembahannya ?, yaitu ketika ia bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama Allah sedang rasa hati dan ingatannya tercurah kepada sesuatu selain Allah, dan jika demikian cukuplah perbuatannya itu menjadi dosa yang nyata kepada Allah, karena ia telah menipu Allah dengan mengada-adakan kedustaan kepada Allah dalam penyembahannya,.

Dan sungguh seandainya ia bersujud hendak menyembah sesuatu selain Allah, maka mengapa ketika ia bersujud itu menyebut-nyebut Nama Allah, bukan menyebut-nyebut nama sesuatu selain Allah yang ia ingat ketika ia bersujud menyembahnya itu, adapun yang demikian itu karena Nama Allah yang ia sebut-sebut itu bukan nama sesuatu selain Allah yang ia ingat ketika itu, maka cukuplah perbuatannya itu menjadi dosa yang nyata kepada Allah, karena ia telah menipu Allah dengan mengada-adakan kedustaan kepada Allah dalam penyembahannya, jika ia berbuat demikian dalam penyembahannya kepada Allah.

Maka bagaimana, apakah perbuatan kita dalam mengerjakan perintah Allah itu sudah benar, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita dengan melaui ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian !

Dan jika keadaan kita dalam penyembahan kita itu masih mempersamakan Allah dengan sesuatu, maka mari kita bersihkan rasa hati dan ingatan kita dari mempersamakan Allah dengan sesuatu dalam penyembahan kita kepada Allah, karena Allah telah menegur kita :” Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang membersihkan dirinya dari mempersekutukan Allah dengan sesuatu dalam penyembahannya ? Bahkan sebenarnya Allah-lah yang membersihkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan sedikitpun mereka tidak dianiaya.

Maka itu mari kita bersihkan rasa hati dan ingatan kita dari mempersamakan Allah dengan sesuatu, mudah-mudahan Allah membersihkan kita dari berbuat demikian, dan yang demikian itu karena Allah tidak akan merubah ketetapan kita sebelum kita merubahnya terlebih dahulu, dan sungguh tidaklah Allah membersihkan kita dari mempersekutukan Allah dengan sesuatu, melainkan itu dengan memberi peringatannya kepada kita supaya kita tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu.

Maka itu janganlah kita malas untuk membersihkannya, sesudah Allah memperingatkan kita agar kita tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, dan janganlah kita malas untuk mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, karena yang demikian itu seakan-akan kita memusuhi Allah, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Katakanlah : “ Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya dia telah menurunkan (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, untuk membenarkan apa yang telah ada diantara kedua tangannya, dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Qs 2 : 97 ).

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rosul-rosul-Nya, Jibril dan Mika’il, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir. (Qs 2 : 98 ).

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang fasik. (Qs 2 : 99 ).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa barang siapa diantara kita ada yang menjadi musuh Malaikat Jibril, maka sesungguhnya Malaikat Jibril telah menurunkan Al Qur’an ke dalam hati kita dengan izin Allah, yaitu untuk membenarkan apa yang telah ada diantara kedua tangan kita yang menjadi pegangan kita, atau itu untuk membenarkan antara kedua pegangan kita dalam urusan mengerjakan suatu perintah, yaitu antara urusan kita dalam mengerjakan perintah Allah dan urusan kita dalam mengerjakan perintah manusia.

Sebagai perumpamaan, apabila kita mengerjakan sesuatu dari perintah manusia, maka tentu yang menjadi pegangan kita itu dari perkataan manusia yang telah menyuruh kita, dan demikian pula petunjuknya yang kita pegang untuk mengerjakan perintahnya, supaya kita tidak kesalahan apabila kita menggunakan petunjuknya dalam mengerjakan perintahnya, dan supaya kita dapat mengerjakan perintahnya dengan benar sebagaimana yang ia tunjukan kepada kita dari perintahnya itu, dan demikian pula upah kerjanya yang kita pegang dari perjanjiannya kepada kita sebagai balasan atas apa yang telah kita kerjakan dari perintahnya, dan yang demikian itu sebagai kabar gembira bagi kita yang percaya kepada janjinya itu.

Dan demikian pula apabila kita mengerjakan sesuatu dari perintah Allah, maka itu sudah pasti yang menjadi pegangan kita itu dari perkataan Allah yang telah menyuruh kita, dan demikian pula petunjuk-Nya yang kita pegang untuk mengerjakan perintah-Nya, supaya kita tidak kesalahan apabila kita menggunakan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan benar sebagaimana yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu, dan demikian pula pahala yang Allah janjikan kepada kita sebagai upah atas apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya, dan yang demikian itu sebagai kabar gembira bagi kita yang beriman kepada janji-Nya itu.

Itulah dua pegangan kita dalam urusan mengerjakan suatu perintah, supaya kita dapat membenarkan apabila diantara kedua pegangan kita itu ada yang salah atau tidak adil dalam urusan mengerjakan suatu perintah. Maka berlaku adilah kita kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan berpegang teguhlah kita kepada perkataan Allah apabila kita hendak mengerjakan perintah Allah. Dan janganlah kita menjadi musuh Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rosul-rosul-Nya, Jibril dan Mika’il, karena sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir yang mengingkari perintah-Nya itu.

Dan yang demikian itu karena sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepada kita, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang malas untuk mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu.

Maka janganlah kita malas untuk mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, karena dengan adanya kemalasan kita itu niscaya kita akan mengingkari perintah Allah dengan tidak mau mengerjakannya, dan jika demikian tentu kita akan menjadi musuh Allah, karena kita termasuk orang-orang kafir yang mengingkari perintah Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu bagaimana apabila kita dimusuhi oleh seseorang yang ada diantara kita, maka apakah orang yang memusuhi kita itu mau mengerjakan perintah kita dengan mengikuti petunjuk kita untuk mengerjakan perintah kita itu ? Tidak mungkin bukan ! Kecuali berpaling.”

Maka itu janganlah kita malas untuk mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, jika kita bukan orang-orang yang memusuhi Allah. Dan ingatlah kita akan perkataan Malaikat Jibril yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan (ingatlah ketika Jibril berkata) : “ Tidaklah kami turun melainkan (kami membawa) perintah Tuhanmu. Sungguh kepunyaan Dia apa yang ada dihadapan kami dan apa yang ada dibelakang kami dan apa yang ada diantara keduanya, dan sekali-kali Tuhanmu tidaklah lupa (atas milik-Nya).“ (Qs 19 : 64).

“(Sesungguhnya Tuhanmu) Tuhan (pencipta) langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah kamu dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui (bahwa ciptaan-Nya itu ada) yang sama dengan-Nya ?” (Qs 19 : 65).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita, bahwa Tidaklah Malaikat Jibril turun melainkan itu membawa perintah Allah, yaitu supaya menurunkan Al Qur’an ke dalam hati kita dengan izin Allah, atau supaya memasukan perkataan Allah kedalam hati kita, agar kita memahami apa yang Allah bicarakan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu. Dan ingatlah ketika Malaikat Jibril berkata :” Sungguh kepunyaan Allah apa yang ada dihadapan kami dan apa yang ada dibelakang kami dan apa yang ada diantara keduanya, dan sekali-kali Tuhanmu tidaklah lupa atas milikNya.“

Maka bagaimana, apakah perkataannya itu tidak masuk kedalam hati kita sehingga kita tidak dapat memahaminya ? tentu saja bukan ! Yaitu bahwa apa yang ada dihadapan kita dan apa yang ada dibelakang kita dan apa yang ada diantara kedua langit dan bumi itu kepunyaan Allah, maka janganlah kita mempersamakan Allah dengan milik-Nya sesudah kita memahaminya, dan sekali-kali Allah tidaklah lupa atas milik-Nya yang kita sembah dengan meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada milik-Nya itu, maka Allah menerangkannya kepada kita dengan benar, karena sesungguhnya Allah Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya.

Maka sembahlah Allah Tuhan pencipta langit dan bumi, dan janganlah ingatan kita tercurah kepada sesuatu selain Allah, karena itu bukan Allah melainkan semua itu milik Allah, maka janganlah kita menyembah milik-Nya sesudah kita mengetahui bahwa milik-Nya itu tidaklah sama dengan-Nya, dan berteguh hatilah kita dalam beribadat dengan menyembah kepada-Nya itu, sesudah kita mengetahui bahwa Allah tidaklah sama dengan milik-Nya, dan yang demikian itu supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan sebagaimana yang Allah kehendaki,

Maka itu mari kita berusaha untuk meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah dalam penyembahan kita kepada-Nya, yaitu sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk (menyembah-Ku) dengan mengingat-Ku. (Qs 20 : 14 )

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku-pun ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (petunjuk)-Ku. (Qs 2 : 152 )

( Ingat ! ) Allah tidak dapat di capai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan,dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Qs 6 : 103 )

(Sungguh) Dia melihat kamu ketika kamu berdiri (sholat). (Qs 26 : 218 )

Dan (Dia melihat) gerak-gerikmu dalam bersujud, (maka ketika itu kepada siapakah kamu menyembah ?). (Qs 26 : 219 )

Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (apa yang kamu sembah ketika bersujud). (Qs 26 : 220 ).

Katakanlah : “ Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak kuasa memberi mudharot kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at ? “ Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.(Qs 5 : 76 ).

Maka bersujudlah (kamu) kepada Allah dan sembahlah (Dia). (Qs 53 : 62 )

Wahai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan kerjakanlah kebaikan (supaya kamu beruntung). (Qs 22 : 77 )

Sesungguhnya orang-orang yang di sisi Tuhanmu, mereka tidak menyombongkan diri dari beribadat kepada-Nya, dan mereka selalu mensucikan dari (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan hanya kepada Allah-lah mereka bersujud (menyembah kepada-Nya). (Qs 7 : 206 )

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya, supaya kita mendirikan sholat untuk menyembah Allah dengan mengingat kepada-Nya, maka itu sembahlah Allah dengan bersujud menyembah kepada-Nya, karena sungguh tidak ada Tuhan yang hak kita sembah kecuali Allah Tuhan yang telah menciptakan kita.

Dan ingatlah kita kepada Allah supaya Allah ingat kepada kita, adapun yang demikian itu karena Allah telah mengingatkan kita, yaitu apabila kita ingat kepada Allah niscaya Allah-pun ingat pula kepada kita, dan bersyukurlah kita kepada Allah yang telah mengingatkan kita dengan memberi petunjuk kepada kita untuk menyembah-Nya itu, dan janganlah kita mengingkari petunjuk Allah, karena yang demikian itu niscaya kita akan tersesat dari jalan petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya. Dan berusahalah kita untuk meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah dalam penyembahan kita kepada-Nya itu.

Adapun yang demikian itu karena Allah tidak dapat di capai oleh penglihatan kita, sedang Allah dapat melihat segala yang kelihatan, dan yang demikian itu karena Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sungguh Allah melihat kita ketika kita berdiri sholat. Dan Allah melihat gerak-gerik kita dalam bersujud, maka ketika itu kepada siapakah kita menyembah ?

Ingat ! Amal perbuatan kita yang pertama akan di tanyakan Allah kepada kita, adalah urusan mengerjakan sholat menyembah kepada Allah.

Maka itu ingat-ingatlah oleh kita kepada siapakah kita menyembah ketika kita bersujud ? Dan tidaklah mungkin Allah memberi peringatan kepada kita dengan mengatakan :” Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak kuasa memberi mudharot kepadamu dan tidak pula dapat memberi manfa’at ? “ Jika penyembahan kita itu benar menyembah Allah ketika kita bersujud menyembah-Nya itu, adapun yang demikian itu karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Yaitu bahwa Allah Maha Mendengar ketika kita bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama-Nya itu, dan Allah Maha Mengetahui kepada siapa kita meluruskan rasa hati dan ingatan kita ketika kita bersujud menyembah dengan menyebut-nyebut Nama-Nya itu. Adapun yang demikian itu karena Nama Allah yang kita sebut-sebut ketika kita bersujud itu bukan nama sesuatu selain Allah yang kita ingat ketika kita bersujud menyembahnya itu, melainkan Nama Allah adalah Nama Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang telah ada diantara keduanya, yaitu Nama Tuhan yang telah menciptakan kita.

Maka bagaimana, benarkah yang kita sembah ketika kita bersujud itu adalah Allah yang telah menciptakan kita ?” Ataukah kita tidak merasa menyembah apa-apa ketika kita bersujud itu ?

Dan jika benar bahwa yang kita sembah ketika kita bersujud itu adalah Allah yang telah menciptakan kita, maka tentu tidaklah kita menyebut-nyebut Nama Allah ketika kita bersujud menyembah-Nya, melainkan rasa hati dan ingatan kita itu benar-benar lurus tercurah kepada Allah yang telah menciptakan kita. Yaitu sebagaimana kita menyeru bapak-bapak kita, maka ketika itu tentu ingatan kita tercurah kepada bapak-bapak kita.

Maka itu ingat-ingatlah oleh kita, karena siapa lagi yang akan mengingat-ingat perbuatan kita jika bukan kita sendiri yang telah melakukannya, dan tidaklah mungkin bahwa kita tidak ingat terhadap perbuatan kita sendiri yang kita telah lakukan itu, karena sejauh-jauhnya kita menanam di tengah hutan belantara, maka tentu kita ingat terhadap apa yang telah kita tanamkan itu, walaupun itu sudah beberapa tahun lamanya, apa lagi terhadap suatu pekerjaan kita yang kita kerjakan setiap hari.

Maka itu ingat-ingatlah oleh kita supaya kita menyaksikan terhadap perbuatan kita yang telah kita lakukan dalam penyembahan kita kepada Allah, karena sungguh bahwa amal perbuatan kita yang pertama akan di tanyakan Allah kepada kita dalam urusan mengerjakan perintah-Nya itu, adalah urusan mengerjakan sholat menyembah kepada-Nya, maka seandainya kita kesalahan dalam mengerjakan sholat, sehingga kita tidak merasa berbicara apa-apa kepada Allah, dan tidak merasa menyembah apa-apa dalam mengerjakan sholat ketika kita bersujud, maka jika demikian berusahalah kita untuk menyembah Allah dengan meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada-Nya, sesudah Allah menyuruh kita supaya kita menyembah Allah yang telah menciptakan kita, dan sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk menyembah-Nya.

Dan janganlah kita sholat seakan-akan kita tidak menggunakan akal, sehingga kita tidak mengetahui apa yang kita bicarakan kepada Allah, dan apa yang kita sembah ketika kita bersujud menyembah-Nya itu, dan jika demikian, maka tentu kita sholat seakan-akan kita tidak merasa berbicara apa-apa kepada Allah dan tidak merasa menyembah apa-apa ketika kita bersujud menyembah-Nya itu. Maka gunakanlah akal kita supaya kita dapat berusaha meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah, dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita bicarakan kepada Allah dalam melakukan sholat.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menyuruh kita, supaya kita menegakkan keadilan karena Allah, dan menjadi saksi terhadap perbuatan manusia dalam mengerjakan perintah Allah, maka saksikanlah perbuatan manusia itu oleh kita walaupun itu terhadap perbuatan kita sendiri, maka apakah yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu sudah benar sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian !

Maka itu ingat-ingatlah oleh kita supaya kita menyaksikan terhadap perbuatan kita yang telah kita lakukan dalam mengerjakan sholat menyembah Allah. Adapun yang demikian itu karena Allah tidak kelihatan oleh kita sedang Allah melihat kita, maka Allah memberi petunjuk kepada kita untuk menyembah-Nya, supaya kita tidak kesalahan apabila kita hendak menyembah Allah dalam mengerjakan sholat.

Maka luruskanlah rasa hati dan ingatan kita kepada Allah yang telah menciptakan kita, apabila kita bersujud hendak menyembah Allah, dan yang demikian itu karena Allah tidak kelihatan oleh kita, maka kita harus mentaati perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya yang telah Allah tunjukan kepada kita, yaitu supaya kita menyembah Tuhan yang telah menciptakan kita, dan sungguh jika kita bersujud menyembah Allah dengan meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah yang telah menciptakan kita, maka sungguh tidak ada yang menerima penyembahan kita itu kecuali Allah yang merasa telah menciptakan kita.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada seruan Allah yang menyeru kita:” Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu.” Maka itu tidak ada yang menerima seruan-Nya kecuali kita yang merasa dirinya selaku manusia. Dan demikian pula Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Maka itu luruskanlah rasa hati dan ingatan kita kepada Allah yang telah menciptakan kita, apabila kita bersujud hendak menyembah Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui kepada siapa kita menyembah dengan meluruskan rasa hati dan ingatan kita itu.

Ingat ! Sesungguhnya orang-orang yang di sisi Allah, mereka tidak menyombongkan diri dari beribadat kepada-Nya, dan mereka tidak merasa enggan untuk mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, dan mereka selalu mensucikan dirinya dari mempersekutukan Allah dengan sesuatu, dan hanya kepada Allah-lah mereka bersujud menyembah kepada-Nya.

Maka itu bersujudlah kita kepada Allah dan sembahlah Allah dengan berusaha meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah yang telah menciptakan kita, dan janganlah kita tidak mau berusaha untuk meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah ketika kita bersujud menyembah-Nya itu, karena yang demikian itu niscaya kita akan kesalahan menyembah, yaitu bukan menyembah Allah melainkan kita menyembah sesuatu yang nampak nyata dengan rasa hati dan ingatan kita tercurah kepadanya, dan jika demikian sungguh kita telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu, atau kita telah mempersamakan Allah dengan sesuatu yang nampak nyata kelihatan oleh kita, sedang Allah Maha Ghaib tidak kelihatan oleh kita, maka itu berusahalah kita sebagaimana yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu, supaya kita tidak kesalahan menyembah.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah telah menyuruh kita supaya kita mendirikan sholat, yaitu agar kita berdiri menghadap kepada Allah, kemudian sesudah itu rukulah kita, sujudlah kita dan sembahlah Allah yang telah menciptakan kita, dan yang demikian itu sebagai peragaan untuk gerak-gerik kita dalam melakukan sholat, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita ingat terhadap apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu.

Dan apabila kita hendak melakukan sholat, maka bersucilah kita terlebih dahulu, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai pada siku (tanganmu), dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai pada kedua mata kakimu, dan jika kamu junub (atau berhadas besar), maka bersucilah kamu (atau mandilah), dan jika kamu dalam keadaan sakit atau kamu dalam perjalanan atau kamu kembali dari tempat buang air atau kamu menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu dengan debu tanah yang bersih, lalu sapulah mukamu dan tanganmu dengan debu tanah itu. Allah tidak menghendaki untuk menyulitkan kamu, akan tetapi Allah hendak membersihkan kamu (atau mensucikan kamu), dan hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kamu supaya kamu bersyukur. (Qs 5 : 6)

Dan ingatlah akan ni’mat Allah atasmu dan perjanjian-Nya, yang dengannya itu Dia janjikan kepadamu, ketika kamu mengatakan : ‘ Kami dengar dan kami ta’ati “. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu). (Qs 5 : 7)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah serta menjadi saksi terhadap (perbuatan manusia) dengan adil. Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum itu dapat membuatmu (jadi) berdosa karena tidak berlaku adil. Berlaku adillah kamu (karena) adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs 5 : 8)

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Qs 5 : 9)

Dan orang-orang yang mengingkarinya dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (Qs 5 : 10).

Itulah yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita bersuci dengan air yang bersih apabila kita hendak mengerjakan sholat, yaitu sebagaimana yang telah kita lakukan apabila kita hendak mengerjakan sholat, dan jika kita berhadas besar maka mandilah kita terlebih dahulu sebelum kita bersuci untuk melakukan sholat, dan jika kita dalam keadaan sakit atau kita dalam perjalanan atau kita kembali dari tempat buang air atau kita menyentuh perempuan, kemudian kita tidak memperoleh air untuk bersuci, maka bertayamumlah kita dengan debu tanah yang bersih, kemudian sapulah muka kita dan tangan kita dengan debu tanah yang bersih itu. Adapun yang demikian itu karena Allah tidak menghendaki untuk menyulitkan kita, melainkan Allah hendak membersihkan kita atau mensucikan kita, dan yang demikian itu karena Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita supaya kita bersyukur kepada-Nya.

Maka itu ingatlah kita akan ni’mat Allah yang telah Allah anugrahkan kepada kita dan perjanjian-Nya, karena dengan perjanjian-Nya itu Allah janjikan kepada kita ketika kita membaca ayat-ayat-Nya atau mendengarnya, yaitu ketika kita mendengar perintah Allah sedang hati kita menyanggupi untuk mengerjakannya, dan ketika itu seakan-akan kita mengatakan kepada Allah : Kami dengar dan kami ta’ati perintah-Mu “. Maka bertakwalah kita kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kita ketika kita menyanggupi perintah-Nya itu.

Dan jadilah kita orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah serta menjadi saksi terhadap perbuatan manusia dengan adil, maka itu saksikanlah oleh kita bagaimana perbuatan manusia dalam mengerjakan perintah Allah, yaitu apakah benar yang mereka kerjakan itu sebagaimana yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian !”

Maka itu berlaku adilah kita kepada Allah dan tegakanlah kebenaran dalam mengerjakan perintah-Nya, supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan benar sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya.

Dan janganlah kebencian kita kepada suatu kaum itu dapat membuat kita jadi berdosa kepada Allah, yaitu karena kita benci kepada kaum itu sehingga kita mengingkari ayat-ayat Allah yang di sampaikan kaum itu, maka berlaku adilah kita kepada Allah, karena Allah bukan kaum yang kita benci kepadanya, dan janganlah kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang di sampaikan kaum itu kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, karena kaum yang kita benci itu tidak ada hubungannya dengan urusan kita dalam mengerjakan perintah Allah, maka kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu, walaupun yang menyampaikan ayat-ayat-Nya itu kaum yang kita benci kepadanya,

Dan patutkah kita benci kepada suatu kaum kemudian kita mengingkari ayat-ayat Allah sesudah kita beriman kepada Allah dan kepada ayat-ayat-Nya ? Tidak patut bukan ! Karena yang demikian itu kita telah menukarkan iman kita dengan kekafiran, sesudah kita beriman kepada Allah dan kepada ayat-ayat-Nya.

Dan yang demikian itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita bekerja di suatu perusahaan yang ada pengurusnya untuk urusan kita dalam bekerja, kemudian pengurus kita itu menyuruh kita dengan melalui seseorang yang kita benci kepadanya, maka apakah kita akan berpaling keluar dari perusahaan itu dengan tidak mau bekerja lagi karena kita benci terhadap orang yang menyampaikan perintahnya itu ? Tidak mungkin bukan ! Karena orang yang kita benci itu tidak ada hubungannya dengan urusan kita dalam mengerjakan perintahnya sesudah kita percaya kepada pengurus perusahaan itu.

Maka berlaku adillah kita kepada Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, karena adil itu lebih dekat kepada takwa, dan dekatnya kepada takwa itu sehingga kita bersegera mengerjakan perintah-Nya, maka bertakwalah kita kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dan bagi orang-orang yang mengingkari perintah-Nya dan mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka mereka itulah yang menjadi penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Maka itu terimalah apa yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan kerjakanlah dengan segera, supaya kita tidak termasuk orang-orang yang mengingkari perintah Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.

Dan apabila kita hendak melakukan sholat, maka bersucilah kita terlebih dahulu, sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, yaitu sebagaimana yang telah kita lakukan apabila kita hendak mengerjakan sholat.

Dan demikian pula do’a-do’a untuk setiap gerak-gerik kita dalam bersuci atau wudhu, maka Allah telah memberikannya kepada kita untuk bahan pembicaraan kita kepada Allah, dan itu untuk menuntun rasa hati dan ingatan kita, agar rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada Allah dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita ucapkan kepada Allah dalam bersuci.

Sebagai perumpamaan.” Apabila kita bersuci dan kita telah siap untuk bersuci, maka ambilah apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk bahan pembicaraan kita yang kita akan bicarakan kepada-Nya itu, seumpamanya yang kita akan ucapkan dalam bersuci itu do’a do’a ini, maka ucapkanlah kepada Allah dengan meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada-Nya :

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Yaa Allah, sesungguhnya aku niat wudhu (bersuci) menghilangkan hadast kecil wajib karena (memenuhi perintah) Engkau yaa Allah, yaa Tuhan yang Maha Tinggi.

Kemudian sesudah itu cucilah kedua telapak tangan kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, semoga Engkau menjaga kedua tanganku dari berbuat maksiat.
Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon keberkahan dan kekuatan berbakti kepada Engkau, dan aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan dan kerusakan”.

Kemudian sesudah itu kita mencuci mulut atau berkumur dengan mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, semoga aku selalu ingat kepada-Mu dan selalu mensyukuri (nikmat-Mu), dan selalu bertambah baik dalam beribadat kepada-Mu. Yaa Allah, semoga aku selalu membaca kitab-Mu dan banyak mengingat Engkau, dan teguhkanlah aku dengan perkataan-Mu yang kuat untuk (peganganku) dalam kehidupan dunia dan akhirat.”

Kemudian sesudah itu kita menghirup air kedalam hidung sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, semoga Engkau menciumkan penciumanku ke sorga yang Engkau ridhoi untuk aku (memasukinya)”.

Kemudian sesudah itu keluarkanlah air itu dari hidung sambil mengucapkan do’a ini :

“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari pada mencium neraka, karena sesungguhnya itu yang sejelek-jeleknya tempat menetap.”

Kemudian sesudah itu kita membasuh muka sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, semoga Engkau menyinari tujuanku dengan cahaya Engkau, yaitu pada hari bersinarnya semua tujuan kekasih-kekasih Engkau, dan janganlah Engkau gelapkan tujuanku, yaitu pada hari gelapnya semua tujuan musuh-musuh Engkau yang kegelapan.”

Kemudian sesudah itu basuhlah tangan kanan kita sampai pada siku tangan kanan kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, semoga Engkau memberikan kitab catatan amalku pada tangan kananku. Dan hisablah aku dengan hisaban yang mudah.

Kemudian sesudah itu basuhlah tangan kiri kita sampai pada siku tangan kiri kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari menerima kitab catatan amalku pada tangan kiriku ini atau menerimanya itu dari belakang punggungku.”

Kemudian sesudah itu kita mengusap rambut sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepadaku, dan turunkanlah keberkahan-Mu kepadaku dan naungilah aku dibawah Arsy-Mu, yaitu pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan Engkau, Yaa Allah, haramkanlah rambutku dan kulitku (dari tersentuh) api neraka.”

Kemudian sesudah itu basuhlah kedua telinga kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, jadikanlah aku dari pada orang yang mendengar perkataan-Mu dengan mengikuti apa yang terbaik dari pada (petunjuk-Mu). Yaa Allah semoga aku selalu mendengar suara panggilan yang memanggil aku ke sorga, yaitu beserta orang-orang yang berbakti (yang ta’at tunduk patuh kepada perintah-Mu).”

Kemudian sesudah itu basuhlah leher kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, bebaskanlah leherku dari (dari belenggu) api neraka. Dan aku berlindung kepada Engkau dari rantai yang membelenggu (leherku ini).”

Kemudian sesudah itu basuhlah kaki kanan kita sampai pada mata kaki kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, tetapkanlah pendirianku pada jalan petunjuk-(Mu) yang lurus beserta pendirian hamba-hamba-Mu yang sholeh”.

Kemudian sesudah itu basuhlah kaki kiri kita sampai pada mata kaki kita sambil mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, aku berlindung kepada Engkau dari tergelincirnya pendirianku ke dalam neraka, yaitu pada hari tergelincirnya semua pendirian orang-orang munafik dan orang-orang musyrik ke dalam api neraka.

Kemudian sesudah itu berdo’alah kita kepada Allah dengan mengucapkan do’a ini :

“ Yaa Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang haq disembah) kecuali Engkau Tuhan yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Mu. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu.” Yaa Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat (kepada Engkau dengan tidak mengulangi perbuatanku yang jelek itu), dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang selalu membersihkan (diri dari mempersekutukan Engkau dengan sesuatu), dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.

Yaa Allah, sungguh Engkaulah Penyelamat, dan dari sisi Engkaulah datangnya keselamatan, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali dengan selamat, maka selamatkanlah kami dalam kehidupan kami ini yaa Tuhan kami, dan masukanlah kami ke tempat keselamatan Sorga Darussalam, dan berkatilah kami, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali, yaa Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Itulah sebagai perumpamaan, do’a do’a yang kita ucapkan kepada Allah pada setiap gerak-gerik kita dalam bersuci atau wudhu, apabila kita hendak mengucapkannya kepada Allah. Dan yang demikian itu supaya rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada Allah dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita ucapkan kepada Allah dalam bersuci.

Maka itu luruskanlah rasa hati dan ingatan kita kepada Allah dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita ucapkan kepada Allah, dan lupakanlah segala sesuatu yang sekiranya itu membuat kita jadi termasuk orang-orang yang mempersamakan Allah dengan sesuatu, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Katakanlah : “ Apakah pendapatmu jika azab Allah datang kepadamu atau hari kiamat datang kepadamu (dengan tiba-tiba), apakah kamu akan menyeru (tuhan) selain Allah ? jika kamu orang-orang yang benar ?.“ (Qs 6 : 40).

Bahkan (seharusnya) kepada Allah-lah kamu menyeru, lalu Dia akan menghilangkan (azab-Nya) yang kamu serukan kepada-Nya itu, jika Dia menghendaki, dan (seharusnya ketika itu) kamu lupakan apa yang kamu sekutukan (dengan-Nya). (Qs 6 : 41).

Dan Allah menyeru (kamu) ke tempat keselamatan, (yaitu ke sorga Darussalam), dan Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (untuk menempuh jalan ke sorga itu). (Qs. 10 : 25).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan itu merupakan suatu jawaban dan pertanyaan kepada kita dari sisi Allah. Yaitu bagaimana pendapat kita jika azab Allah datang kepada kita atau hari kiamat datang kepada kita dengan tiba-tiba, apakah kita akan menyeru tuhan selain Allah ? Jika kita orang-orang yang merasa benar dalam seruan kita kepada-Nya itu !

Bahkan Allah menyuruh kita seharusnya kepada Allah-lah kita menyeru, kemudian Allah akan menghilangkan azab-Nya yang kita serukan kepada Allah ketika kita mohon kepada-Nya agar kita terhindar dari azab-Nya itu, jika Allah menghendaki.

Dan Allah telah mengingatkan kita, seharusnya kita ketika menyeru kepada Allah itu, kita lupakan segala sesuatu yang sekiranya itu membuat kita jadi mempersamakan Allah dengan sesuatu, dalam ingatan kita ketika kita menyeru kepada Allah dengan menyebut-nyebut Nama-Nya itu, jika kita benar-benar ingin terhindar dari azab-Nya, dan ingin masuk sorga yang kita mohon kepada Allah ketika kita bersuci atau wudhu hendak melakukan sholat.

Maka itu mari kita berusaha untuk meluruskan rasa hati dan ingatan kita kepada Allah, karena Allah telah menyeru kita ke tempat keselamatan, yaitu ke sorga Darussalam, dan yang demikian itu bahwa Allah telah memberi petunjuk kepada kita ke jalan yang lurus untuk menempuh jalan ke sorga itu. Maka itu lupakanlah segala sesuatu yang sekiranya itu membuat kita jadi termasuk orang-orang yang mempersamakan Allah dengan sesuatu, yaitu janganlah kita mengingat sesuatu selain Allah ketika kita bersuci menyeru kepada Allah dengan menyebut-nyebut Nama-Nya itu, mudah-mudahan Allah menghilangkan azab-Nya dari kita dan memasukan kita ke tempat keselamatan sorga Darussalam.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah telah menyuruh kita agar kita mendirikan sholat, dan Allah telah memberi petunjuk kepada kita untuk cara-cara kita menghadap kepada-Nya, yaitu apabila kita menghadap kepada Allah, maka palingkanlah muka kita ke arah Masjidil Haram, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan apa saja dari kebaikan yang kamu dahulukan untuk dirimu, niscaya kamu mendapatinya di sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(Qs 2 : 110).

Dan kepunyaan Allah timur dan barat, maka dimana kamu menghadap (kepada Allah), maka disitulah wajah Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs 2 : 115).

Orang-orang yang bodoh diantara manusia akan berkata : “ Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang mereka telah berkiblat kepadanya ? “ Katakanlah : “ Kepunyaan Allah timur dan barat, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (Qs 2 : 142).

Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kamu ummat dipertengahan, supaya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan supaya Rosul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan tidaklah Kami menjadikan kiblat yang kamu menghadap kepadanya, melainkan itu supaya Kami mengetahui siapa {diantara kamu} yang mengikuti Rosul dan siapa yang berbalik kedua tumitnya (kembali kafir dengan tidak mau mengikuti Rosul). Dan sesungguhnya (perpindahan kiblat dengan mengikuti Rosul itu) sungguh berat, kecuali orang-orang yang telah diberi petunjuk Allah, dan Allah tidak berkehendak untuk mensia-siakan imanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Qs 2 : 143).

Sesungguhnya Kami (seringkali) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada maka palingkanlah mukamu kearahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberi Al Kitab sungguh mereka mengetahui, bahwa (berpaling ke Masjidil Haram itu) benar dari (perintah) Tuhan mereka, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Qs 2 : 144).

Dan sungguh jika kamu mendatangkan (pengetahuan itu) kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dengan (membawa) semua keterangan (dari ayat-ayat Kami, niscaya) mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh jika kamu mengikuti (kiblat) dari keinginan mereka sesudah datang pengetahuan itu kepadamu, jika demikian kamu termasuk golongan orang-orang zalim. (Qs 2 : 145).

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab, mereka mengenal (pengetahuan) itu seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya segolongan diantara mereka sungguh mereka telah menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Qs 2 : 146).

(Ingat !) kebenaran itu dari Tuhanmu, maka sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Qs 2 : 147).

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang masing-masing menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu (dalam mengerjakan) kebaikan, (niscaya) Allah mendatangkan (balasannya) kepadamu sekalian di mana saja kamu berada, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs 2 : 148).

Dan dari mana saja kamu keluar (atau datang), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan sesungguhnya ketentuan itu benar-benar dari Tuhanmu, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Qs 2 : 149).

Dan dari mana saja kamu keluar (atau berangkat) maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada maka hadapkanlah mukamu kearahnya, supaya bagi manusia tidak ada alasan (untuk membantah) kamu, kecuali orang-orang zalim diantara mereka, maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kamu kepada-Ku, supaya Aku menyempurnakan ni’mat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Qs 2 : 150).

(Yaitu) sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rosul kepadamu dari kalangan kamu, (supaya) dia membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan (kesalahanmu dalam mengerjakan perintah Kami), dan (supaya) dia mengajarkan Kitab dan Hikmah kepadamu dan mengajar kamu apa yang kamu tidak mengetahui. (Qs 2 : 151).

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pengajaran dari Tuhanmu, dan penyembuh bagi penyakit dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Qs 10 : 57).

Dan pada hari Kiamat, semua mereka akan datang menghadap kepada Allah sendiri-sendiri. (Qs. 19 : 95)

Katakanlah :” Sesungguhnya aku memberi nasehat kepadamu dengan satu perkara, (yaitu) supaya kamu menghadap kepada Allah berdua-berdua dan sendiri-sendiri, kemudian berfikirlah kamu, bahwa kawanmu tidak berpenyakit gila, melainkan dia seorang pemberi peringatan kepadamu sebelum (kamu kedatangan) azab yang keras “. (Qs. 34 : 46).

Itulah yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita memahaminya, yaitu bahwasanya Allah menyuruh kita, apabila kita menghadap kepada Allah maka palingkanlah muka kita ke arah Masjidil Haram, dan itu sudah merupakan suatu ketentuan dari Allah untuk peragaan kita dalam melakukan sholat, dan yang demikan itu karena Allah hendak mengetahui siapa diantara kita yang mengikuti sholat Rosul-Nya, dan siapa diantara kita yang kembali kafir dengan tidak mau mengikuti sholat Rosul-Nya.

Dan sesungguhnya perpindahan kiblat dengan mengikuti sholat Rosul-Nya itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang telah diberi petunjuk Allah, dan yang demikan itu karena Allah tidak berkehendak untuk mensia-siakan iman kita dalam mengerjakan sholat, jika sholat kita mau mengikuti sholat Rosul-Nya. Maka janganlah kita sia-siakan iman kita dalam mengerjakan sholat, karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kita.

Dan yang demikian itu sebagai peragaan untuk gerak-gerik kita dalam melakukan sholat, yaitu berdirinya, rukunya, sujudnya dan sebagainya, maka itu perhatikanlah oleh kita apa yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita ingat terhadap apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu, dan supaya kita ingat terhadap apa yang telah Allah nasehatkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu.

Dan demikian pula akan do’a-do’a untuk setiap gerak-gerik kita dalam melakukan sholat, karena yang demikian itu Allah telah memberikannya kepada kita untuk bahan pembicaraan kita kepada Allah, dan itu untuk menuntun rasa hati dan ingatan kita, agar rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada Allah, dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita ucapkan kepada Allah dalam melakukan sholat.

Sebagai perumpamaan.” Apabila kita melakukan sholat subuh, dan kita telah siap berdiri menghadap kepada Allah, maka ucapkanlah niat sholat dengan mengucapkan do’a ini :

(Yaa Allah), aku niat sholat subuh dua roka’at menghadap kiblat kearah masjidil haram mengikuti Rosul, wajib karena (perintah Engkau) yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Tinggi.

Kemudian sesudah itu ucapkanlah Takbiratul ihram dengan mengangkat kedua belah tangan kita setinggi telinga sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu sedakeplah kita dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri, kemudian ambilah apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk bahan pembicaraan kita yang akan kita bicarakan kepada Allah dalam melakukan sholat, seumpamanya yang akan kita ucapkan itu do’a-do’a ini, maka ucapkanlah :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung. Segala puji bagi Engkau yaa Allah dengan sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Engkau yaa Allah sepanjang masa.

(Yaa Allah, sungguh) aku menghadap kepada Engkau yang telah menciptakan langit dan bumi dengan lurus menyerahkan diri (kepada Engkau), dan aku bukan dari golangan orang-orang musyrik (yang mempersamakan Engkau dengan sesuatu).

Yaa Allah, sesungguhnya sholatku, usahaku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Engkau yaa Tuhan pemelihara semesta alam. Sungguh tidak ada sekutu bagi-Mu dan yang demikian itu Engkau perintahkan kepadaku supaya aku tidak mempersekutukan Engkau (dengan sesuatu dalam penyembahanku ini). Dan sesungguhnya aku dari golongan orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Engkau).

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau adalah Raja (yang berkuasa di langit dan di bumi, dan) tidak ada Tuhan (yang menguasai keduanya itu) kecuali Engkau. (Yaa Allah, sungguh) Engkau adalah Tuhanku, dan aku hamba-Mu yang telah menganiaya diriku sendiri, dan aku mengakui terhadap kesalahanku (dalam mengerjakan perintah-Mu itu), maka ampunilah segala dosaku (yaa Allah). Karena sungguh tidak ada yang mengampuni segala dosaku kecuali Engkau.

(Yaa Allah), berilah aku petunjuk untuk memperbaiki akhlak (perbuatanku dalam mengerjakan perintah-Mu) karena sungguh tidak ada yang menunjukkan cara-cara untuk memperbaikinya itu kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari kejelekan (perbuatanku dalam mengerjakan perintah-Mu), karena sungguh tidak ada yang memalingkan aku dari kejelekan perbuatanku itu kecuali Engkau.

(Yaa Allah), sungguh aku menghadap kepada-Mu, dan aku menghadap kepada-Mu dengan memenuhi panggilan-Mu, dan aku siap menerima segala perintah-Mu, karena segala kebaikan ada dalam perintah-Mu yang kembali kepada-Mu, dan segala kejelekan tidak kembali kepada-Mu.

(Yaa Allah), sungguh aku hamba-Mu yang telah kembali menghadap kepada-Mu, maka berkatilah aku, agar aku kembali lagi menghadap kepada-Mu dengan seiring ampunan-Mu, dan hanya kepada Engkaulah aku bertaubat.

Yaa Allah yaa Tuhanku, jauhkanlah aku dari kesalahanku (dalam mengerjakan perintah-Mu), yang jauhnya itu sebagaimana Engkau menjauhkan antara masyrik dan maghrib.

Yaa Allah yaa Tuhanku, bersihkanlah aku dari (mempersekutukan Engkau dengan sesuatu, karena yang demikian itu) amat jelek bagi diriku, maka bersihkanlah aku yang bersihnya itu sebagaimana pakaian putih yang telah pisah dari kotoran.

Yaa Allah yaa Tuhanku, bersihkanlah aku dari kekotoran diriku ini dengan air bersih, atau air salju dan air embun yang sejuk, (yaitu) dengan seiring rahmat-Mu yaa Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Kemudian sesudah itu ucapkanlah ummul do’a, yaitu surah Al Fatihah tujuh ayat yang di ulang-ulang yang telah Allah berikan kepada kita untuk bahan penbicaraan kita kepada-Nya, supaya kita mengulang-ulanginya apabila kita kembali menghadap kepada Allah dalam melakukan sholat, maka itu ucapkanlah :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, (sungguh) dengan seiring Nama baik-Mu ini (kami panjatkan) puja dan puji (syukur kehadirat-Mu) yaa Allah Tuhan (pujaan ummat) semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. (Yaa Allah, sungguh) hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Maka) tunjukanlah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan ke jalan orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan pula ke jalan orang-orang yang tersesat. (Qs 1 : 1-7)

Kemudian sesudah itu ucapkanlah surah-surah yang lainnya, atau supaya kita ingat akan permohonan kita, bahwa kita telah minta petunjuk jalan yang lurus kepada Allah, yaitu minta di tunjukan ke jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka, maka ucapkanlah ayat-ayat-Nya ini supaya Allah menerangkannya kepada kita dengan melalui lisan kita, yang Firman-Nya :

Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah dan Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan mereka orang-orang yang tunduk patuh (kepada perintah Allah).(Qs 5 : 55).

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “ Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,“ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil diantara mereka; dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pengajaran yang telah (Kami) berikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). ( Qs 4 : 66 ).

Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. ( Qs 4 : 67 ).

Dan pasti Kami beri petunjuk mereka ke jalan yang lurus. ( Qs 4 : 68 ).

Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rosul-(Nya), maka mereka itulah yang bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah atas mereka, yaitu para Nabi, para siddiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh. Dan mereka itu yang sebaik-baiknya teman. ( Qs 4 : 69 )

Yang demikian itu karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang mengetahui. ( Qs 4 : 70 )

Mereka itu orang-orang yang telah Allah beri ni’mat atas mereka, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Isra’il, dan dari keturunan orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan yang Kami pilih. (Dan) apabila dibacakan ayat-ayat (Tuhan) Yang Maha Pemurah atas mereka, lalu mereka menyungkur bersujud dan menangis. ( Qs 19 : 58 )

Kemudian sesudah (mereka) itu datanglah penggantinya yang menyia-nyiakan sholat, dan (sholat mereka itu) mengikuti hawa nafsunya, (bukan mengikuti petunjuk Allah), maka mereka bakal menemui kesesatan mereka dalam (melakukan shalat). ( Qs 19 : 59 )

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itulah yang masuk sorga, dan sedikitpun mereka tidak dianiaya. ( Qs 19 : 60 )

(Yaitu) sorga ‘Adn yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, (sekalipun sorga itu) tidak ditampakan. Sesungguhnya janji-Nya itu pasti terjadi. ( Qs 19 : 61 )

Didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia kecuali (ucapan) selamat. Dan didalamnya mereka (mendapat) rizki pagi dan petang. ( Qs 19 : 62 )

Itulah sorga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa. ( Qs 19 : 63 )

Itulah petunjuk Allah yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui lisan kita yang kita ucapkan itu, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita memahaminya, yaitu bahwa Allah telah memberi petunjuk kepada kita sebagaimana yang kita mohon kepada Allah ketika kita mengucapkan : Tunjukanlah kami kejalan yang lurus, yaitu ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan ke jalan orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan pula ke jalan orang-orang yang tersesat. Maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita ingat akan permohonan kita kepada Allah.

Kemudian sesudah itu rukulah kita sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita ruku sambil mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya dengan mengucapkan :

Maha Suci Engkau Yaa Tuhan Yang Maha Agung, segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.

Maha Suci Engkau yaa Allah, dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikan aku orang yang senantiasa ruku, sujud dan beribadat dengan penuh ketaatan kepada perintah-Mu.

Yaa Allah yaa Tuhanku, semoga Engkau memuliakan aku dengan menetapkan ketaatanku kepada perintah-Mu, dan janganlah Engkau hinakan aku karena aku telah berbuat maksiat (dengan melakukan yang telah) Engkau (haramkan). Yaa Allah yaa Tuhanku, semoga Engkau menambah kekhusyuanku (dalam mengerjakan perintah-Mu).

Kemudian sesudah itu berdirilah kita dengan mengangkat kedua tangan kita setinggi telinga, sambil mengucapkan :

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau mendengar pujianku yang memuji-muji Engkau.

Kemudian sesudah itu ucapkanlah tasbih dan do’a kepada Allah dengan mengucapkan :

(Yaa Allah) yaa Tuhan kami, sungguh kami panjatkan segala puji kepada Engkau dengan pujian sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari sesudah itu.

Segala puji bagi Engkau yaa Allah, Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menjadikan gelap dan terang. Kemudian orang-orang kafir (tetap saja) mempersamakan Tuhan mereka dengan (sesuatu). ( Qs. 6 : 1)

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)

Segala puji bagi Engkau yaa Allah, (sungguh Engkaulah) yang menunjukan kami kepada petunjuk-Mu, dan tidaklah mungkin bagi kami akan mendapat petunjuk-Mu, jika Engkau tidak memberi petunjuk kepada kami. Yaa Allah sesungguhnya telah datang kepada kami Rosul Engkau dengan membawa kebenaran. Dan dia menyeru kepada kami, bahwa sesungguhnya sorga itu akan di wariskan kepada kami dengan apa yang telah kami kerjakan dari perintah-Mu. (Qs. 7 : 43)

(Yaa Allah) yaa Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang menyerahkan diri kepada Engkau (dengan tunduk patuh kepada perintah-Mu), dan (jadikanlah) dari keturunan kami ummat yang menyerahkan diri kepada Engkau (dengan tunduk patuh kepada perintah-Mu), dan tunjukanlah kepada kami cara-cara untuk ibadat kami (dalam mengerjakan perintah Engkau), dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. 2 : 128)

Yaa Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, (supaya) dia membacakan ayat-ayat Engkau kepada mereka dan mengajarkan Al Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan (supaya) dia mensucikan (kesalahan) mereka (dalam mengerjakan perintah Engkau), sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. 2 : 129)

Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari (tersentuh) siksa neraka .” ( Qs. 2 : 201).

Yaa Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami dari (kekejaman) orang-orang kafir. ” (Qs. 2 : 250).

Yaa Tuhan kami, sesungguhnya kami akan kembali kepada Engkau.” (Qs. 2 : 285).

Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau bersalah. “ Yaa Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yang berat, sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang sekiranya kami tidak sanggup memikulnya, dan ma’afkanlah (kesalahan) kami dan ampunilah (dosa-dosa) kami dan rahmatilah kami, (dan sesungguhnya) Engkau penolong kami, maka tolonglah kami atas (kekejaman) kaum yang kafir. ” (Qs. 2 : 286)

Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (rahmat). (Qs 3 : 8)

Yaa Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya”. Yaa Allah, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji. (Qs. 3 : 9)

Yaa Tuhan kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka. ( Qs. 3 : 16)

Yaa Tuhan kami, sungguh siapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau hinakan dia, dan bagi orang-orang zalim tidak ada penolongnya. (Qs. 3 : 192)

Yaa Tuhan kami, sungguh kami mengakui terhadap kesalahan kami (dalam mengerjakan perintah-Mu), maka ampunilah dosa-dosa kami dan (kesalahan) kami yang berlebih-lebihan dalam urusan (mengerjakan perintah-Mu), dan teguhkanlah pendirian kami dengan (petunjuk-Mu), dan tolonglah kami dari (kekejaman) orang-orang kafir. (Qs. 3 : 147)

Yaa Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan sungguh jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak (pula) memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. (Qs. 7 : 23).

Yaa Tuhan kami, sungguh kami telah mendengar seruan orang-orang yang menyeru kami agar kami beriman, bahwa berimanlah kamu kepada Tuhanmu.” Maka kami beriman kepada (Engkau). Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuslah segala kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang yang mengerjakan kebaikan. (Qs. 3 : 193)

Yaa Tuhan kami, sungguh kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan kami akan mengikuti Rasul, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (terhadap perbuatan manusia).” (Qs. 3 : 53)

Yaa Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami (dengan janji yang telah Engkau berikan) kepada Rosul Engkau, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji. (Qs. 3 : 194)

Yaa Tuhan kami limpahkanlah kesabaran atas kami dan wafatkanlah kami (sebagai) orang-orang yang telah menyerahkan diri (kepada Engkau).“ (Qs. 7 : 126)

(Yaa Allah) yaa Tuhan kami, terimalah (do’a-do’a) kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. 2 : 127)

Kemudian sesudah itu, bersujudlah kita menyungkur ke bumi dengan meletakan tujuh anggauta badan kita sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu, sembahlah Allah sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita bersujud menyembah Allah dengan mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya, maka ucapkanlah :

Maha Suci Engkau yaa Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.” ( 3 X )

Maha Suci Engkau yaa Allah, dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)

Maha Suci Engkau yaa Allah, sungguh sebenarnya apa yang ada di langit dan di bumi ini semuanya kepunyaan Engkau, yang masing-masing tunduk patuh kepada (perintah)-Mu.” (Q.S. 2 : 116)

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau, (dan jadikanlah aku orang yang senantiasa) mendirikan (sholat) dengan (mengerjakan segala) perintah-Mu, sesungguhnya aku takut akan (tertimpa) azab-Mu.

Yaa Allah yaa Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku orang yang menyombongkan diri (kepada-Mu dengan tidak mau menyembah Engkau), dan jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau, dan kepada Engkaulah aku beriman, dan kepada Engkaulah aku bertawakal dengan mengharap ampunan Engkau, maka ampunilah segala dosaku yaa Tuhanku. Sesungguhnya ampunan Engkau amatlah luas.” (Qs 60 : 4)

(Yaa Allah yaa Tuhanku), sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau yang telah menciptakan aku dengan membentuk rupa tubuhku. Dan aku tidaklah ragu terhadap apa yang aku dengar dan apa yang aku lihat dari penyampaian petunjuk-Mu itu, dan sungguh hanya perkataan Engkau-lah yang kuat untuk peganganku dalam mengerjakan perintah-Mu.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, terimalah (sembah sujudku ini) sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (kepada siapa aku menyembah.” Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh hanya kepada Engkaulah aku menyembah).”

Kemudian sesudah itu bangkitlah kita duduk diantara dua sujud sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu berdo’alah kita kepada Allah dengan mengucapkan :

(Yaa Allah) yaa Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan dan ma’afkanlah segala kesalahanku.

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Mulia, (dan) sesungguhnya Engkau menyukai orang-orang yang meminta ma’af, maka ma’afkanlah segala kesalahanku, dan segala kesalahan kedua orang tuaku, dan segala kesalahan semua kaum muslimin dan muslimat, (yaitu) dengan seiring rahmat-Mu yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Yaa Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana (kasih sayangnya kepadaku ketika keduanya) memelihara aku di waktu kecil. (Qs. 17 : 24)

Yaa Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan atasku dan atas kedua orang tuaku, dan bahwasanya aku hendak beramal shaleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam (golongan) hamba-hamba-Mu yang shaleh “. (Qs. 27 : 19)

Yaa Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan dari apa yang Engkau turunkan kepadaku. (Qs. 28 : 24)

Yaa Tuhanku, bangunlah sebuah rumah untukku dalam surga yang ada di sisi-Mu, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan dari perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari (kekejaman) kaum yang zalim “. (Qs. 66 : 11)

Yaa Tuhanku, masukkanlah aku ketempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku (dari) tempat keluar yang benar, dan jadikanlah kekuasaan untuk penolongku yang dari sisi Engkau.” (Qs. 17 : 80)

Yaa Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku (berada) di antara orang-orang yang zalim, (dan jauhkanlah aku dari padanya).” (Qs. 23 : 94)

Yaa Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan syaitan,” (Qs. 23 : 97)

Dan yaa Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari kehadirannya.” (Qs. 23 : 98)

Yaa Tuhanku, ampunilah aku dan rahmatilah aku dan Engkau yang sebaik-baiknya pemberi rahmat.“ (Qs. 23 : 118)

Yaa Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang tetap mendirikan sholat. Yaa Tuhan kami perkenankanlah do’a ku ini.“ (Qs. 14 : 40)

Kemudian sesudah itu, bersujudlah kita untuk sujud kedua kali menyungkur ke bumi dengan meletakan tujuh anggauta badan kita sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu, sembahlah Allah sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita bersujud menyembah Allah dengan mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya, maka ucapkanlah :

Maha Suci Engkau yaa Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.” ( 3 X )

Maha Suci Engkau yaa Allah, dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)

Maha Suci Engkau yaa Allah, sungguh sebenarnya apa yang ada di langit dan di bumi ini semuanya kepunyaan Engkau, yang masing-masing tunduk patuh kepada (perintah)-Mu.” (Q.S. 2 : 116)

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau, (dan jadikanlah aku) orang yang tetap khusyu dalam mengerjakan perintah-Mu.

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau, (dan jadikanlah aku orang yang senantiasa) bertasbih dengan memuji Engkau, dan aku berlindung kepada Engkau dari pada aku menjadi orang yang menyombongkan diri (kepada-Mu dengan tidak mau menyembah Engkau).

Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau, dan kepada Engkaulah aku beriman, dan kepada Engkaulah aku bertawakal dengan mengharap ampunan Engkau, maka ampunilah segala dosaku yaa Tuhanku. Sesungguhnya ampunan Engkau amatlah luas.” (Qs 60 : 4)

(Yaa Allah yaa Tuhanku), sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau yang telah menciptakan aku dengan membentuk rupa tubuhku. Dan aku tidaklah ragu terhadap apa yang aku dengar dan apa yang aku lihat dari penyampaian petunjuk-Mu itu, dan sungguh hanya perkataan Engkau-lah yang kuat untuk peganganku dalam mengerjakan perintah-Mu.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, terimalah (sembah sujudku ini) sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (kepada siapa aku menyembah.” Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh hanya kepada Engkaulah aku menyembah).”

Kemudian sesudah itu berdirilah kita untuk berdiri dalam roka”at kedua dengan mengangkat kedua tangan kita setinggi telinga sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu sedekaplah kita dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri. Kemudian ucapkanlah Ummul Do’a :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, (sungguh) dengan seiring Nama baik-Mu ini (kami panjatkan) puja dan puji (syukur kepada Engkau) yaa Allah Tuhan (pujaan ummat) semesta alam. (Yaa Allah sungguh Engkaulah) Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. (Yaa Allah yaa Tuhan kami, sungguh) hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Maka) tunjukanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan ke jalan orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan pula ke jalan orang-orang yang tersesat.

Kemudian sesudah itu ucapkanlah surah-surah yang lainnya, atau supaya kita ingat akan permohonan kita kepada Allah, bahwa kita telah minta petunjuk jalan yang lurus kepada Allah, yaitu minta di tunjukan ke jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka, maka ucapkanlah ayat-ayat-Nya ini supaya Allah menerangkannya kepada kita dengan melalui lisan kita, yang Firman-Nya :

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar :” Apakah kamu menjadikan berhala-berhala itu (sebagai) Tuhan ? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Qs 6 : 74).

Dan yang demikian itu karena Kami telah memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Ibrahim, dan agar dia menjadi dari (golongan) orang-orang yang yakin. (Qs 6 : 75).

Maka ketika malam telah gelap atasnya, dia melihat bintang, berkatalah dia :” Inilah Tuhanku,” maka ketika (bintang) terbenam dia berkata:” Aku tidak menyukai (Tuhan) yang terbenam.” (Qs 6 : 76).

Maka ketika dia melihat bulan terbit, berkatalah dia : “ Inilah Tuhanku,“ maka ketika (bulan) terbenam, dia berkata :” Sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk dari golongan orang-orang yang tersesat.” (Qs 6 : 77).

Maka ketika dia melihat matahari terbit, berkatalah dia :” Inilah Tuhanku, ini lebih besar”, maka ketika (matahari) terbenam, dia berkata :” Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (kepada Allah).“ (Qs 6 : 78).

Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung (kepada-Nya), dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs 6 : 79).

Dan membantahlah kaumnya kepada (Ibrahim), berkatalah dia :” Apakah kamu hendak membantah aku tentang (penyembahanku) kepada Allah ?, padahal sungguh Dia telah memberi petunjuk kepadaku, dan aku tidak takut terhadap apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (malapetaka), dan ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu, maka apakah kamu tidak ingat (ketika kamu mempersamakan Allah dengan sesuatu dalam penyembahanmu itu)?.” (Qs 6 : 80).

Dan bagaimana aku takut terhadap apa yang kamu persekutukan (dengan Allah), sedang kamupun tidaklah takut (kepada Allah) bahwa kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu atasmu, Maka (golongan) yang manakah (diantara) dua golongan yang lebih berhak mendapat keamanan (dari azab Allah) jika kamu mengetahui?. (Qs 6 : 81).

Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mereka tidak mencampur-adukan iman mereka dengan kezaliman (atau mereka tidak mempersamakan Allah dengan sesuatu, maka) bagi mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs 6 : 82).

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk (menghadapi) kaumnya. Kami tinggikan bebarapa derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Qs 6 : 83).

Dan Kami berikan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’kub, yang masing-masing Kami beri petunjuk, dan sebelumnya Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan (demikian pula) kepada keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Dan yang demikian itu Kami telah membalasnya sebagai ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik. (Qs 6 : 84).

Dan (demikian pula) kepada Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, yang semuanya itu termasuk orang-orang sholeh. (Qs 6 : 85).

Dan (demikian pula) kepada Ismail, Alyasa, Yunus dan Luth, yang masing-masing Kami lebihkan atas ummat semesta alam. (Qs 6 : 86).

Dan (demikian pula) diantara bapak-bapak mereka, keturunan-keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk di jadikan Nabi dan Rosul), dan Kami telah memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus. (Qs 6 : 87).

Itulah petunjuk Allah yang dengannya itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya. Dan kalau mereka mempersekutukan (Allah dengan sesuatu dalam penyembahannya), niscaya hilanglah amal mereka apa yang telah mereka kerjakan. (Qs 6 : 88).

Mereka itulah yang telah Kami berikan kepada mereka Kitab, hikmat dan kenabian. Maka jika mereka mengingkarinya, maka sungguh Kami akan menyerahkan urusan itu kepada kaum yang tidak mengingkarinya. (Qs 6 : 89).

Mereka itulah yang telah diberi petunjuk Allah, maka ikutilah petunjuk itu bersama mereka. Katakanlah : “ Aku tidak meminta upah kepadamu atas (penyampaianku ini, dan) tidaklah lain (Al Qur’an) ini kecuali peringatan untuk ummat semesta alam.“(Qs 6 : 90).

Itulah orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka, yang telah Allah terangkan kepada kita dengan melalui lisan kita, maka ikutilah petunjuk Allah bersama mereka yang telah mengikutinya. Dan janganlah kita membantah penyembahan mereka kepada Allah dengan tidak mau menyembah Allah, yaitu sebagaimana Bapaknya Nabi Ibrahim As, dan kaunnya yang telah membantah penyembahan Nabi Ibrahim kepada Allah dengan tidak mau menyembah Allah. Maka itu sembahlah Allah yang telah menciptakan kita, mudah-mudahan Allah memasukan kita ke perkumpulan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka.

Kemudian sesudah itu, rukulah kita sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita ruku sambil mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya dengan mengucapkan :

Maha Suci Engkau Yaa Tuhan Yang Maha Agung, segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.

Maha Suci Engkau yaa Allah, dan dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikan aku orang yang senantiasa ruku, sujud dan beribadat dengan penuh ketaatan kepada perintah-Mu.

Yaa Allah yaa Tuhanku, semoga Engkau memuliakan aku dengan menetapkan ketaatanku kepada perintah-Mu, dan janganlah Engkau hinakan aku karena aku telah berbuat maksiat (dengan melakukan apa yang telah) Engkau (haramkan). Yaa Allah yaa Tuhanku, semoga Engkau menambah kekhusyuanku (dalam mengerjakan perintah-Mu).

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku dari orang yang senantiasa mengingat Engkau dan menambah khusyu dalam mengerjakan perintah-Mu.”

Kemudian sesudah itu berdirilah kita dengan mengangkat kedua tangan kita setinggi telinga, sambil mengucapkan :

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau mendengar pujianku yang memuji-muji Engkau.

Kemudian sesudah itu ucapkanlah tasbih dan do’a kepada Allah dengan mengucapkan :

(Yaa Allah) yaa Tuhan kami, sungguh kami panjatkan segala puji kepada Engkau dengan pujian sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari sesudah itu.

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)
Yaa Allah yaa Tuhanku, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, dan berilah aku kesehatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan, dan pimpinlah aku sebagaimana Engkau memimpin (orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk ke jalan yang lurus), dan berkatilah aku sebagaimana Engkau memberkati orang yang menta’ati (perintah-Mu), dan peliharalah aku dengan rahmat-Mu dari kejahatan (syaitan) yang telah Engkau tentukan, karena sesungguhnya itu Engkaulah yang menentukannya, dan tidak ada yang menentukannya itu kecuali Engkau sendiri, dan sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau beri kekuasaan, dan tidak akan mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha berkah Engkau yaa Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau (yaa Allah). Segala puji bagi Engkau (yaa Allah) atas apa yang telah Engkau tentukan. (Yaa Allah yaa Tuhanku, sesungguhnya aku mengharap) ampunan Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Yaa Allah yaa Tuhanku sampaikanlah aku (keperkumpulan) Nabi yang Umi, (yaitu) Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta sahabatnya, dan (mereka itu orang-orang yang telah Engkau) selamatkan (dari kejahan syaitan).

Yaa Tuhan kami, sungguh kami beriman (kepada apa yang Engkau turunkan), maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (terhadap perbuatan manusia) .“ (Qs. 5 : 83)

Yaa Tuhan kami, turunkanlah atas kami makanan dari langit, yang (turunnya itu) menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang pertama dan yang datang kemudian dari sesudah kami, dan jadikanlah itu sebagai tanda-tanda dari kekuasaan Engkau, dan berilah kami rizki, dan Engkau yang sebaik-baiknya pemberi rizki .“ (Qs. 5 : 114)

Yaa Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman, (yaitu) di sisi rumah-Mu yang dihormati. Supaya mereka mendirikan sholat yaa Tuhan kami, maka jadikanlah hati manusia agar cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan agar mereka bersyukur (kepada Engkau).“ (Qs. 14 : 37)

Yaa Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Dan bagi (Engkau) yaa Allah, tidak ada yang tersembunyi di langit dan di bumi.” (Qs. 14 : 38)

Yaa Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan orang-orang mu’min pada hari berdirinya perhitungan (amal).” (Qs. 14 : 41)

Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman kepada Engkau, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Yaa Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Qs. 59 : 10)

Yaa Tuhan kami jauhkanlah kami dari azab neraka jahanam, (karena) sesungguhnya itu azab kebinasaan yang kekal. (Dan) sesungguhnya itu sejelek-jeleknya tempat menetap dan tempat kediaman. (Qs. 25 : 65 – 66)

Yaa Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu, dan sediakanlah petunjuk jalan yang lurus untuk urusan kami (dalam mengerjakan perintah Engkau).“ (Qs. 18 : 10)

Yaa Tuhan kami, anugerahkanlah (nikmat -Mu) kepada kami dan kepada isteri-isteri kami, dan kepada keturunan kami yang menjadi penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (Qs. 25 : 74)

Yaa Tuhan kami, sungguh rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat kepada Engkau dengan mengikuti jalan petunjuk-Mu, dan peliharalah mereka dari (tersentuh) azab neraka yang menyala-nyala. (Qs. 40 : 7)

Yaa Tuhan kami, masukkanlah mereka ke sorga ‘Adn yang Engkau janjikan kepada mereka, dan kepada orang-orang yang beramal sholeh di antara bapak-bapak mereka dan istri-istri mereka dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. 40 : 8)

Dan peliharalah mereka dari kejahatan-kejahatan, dan orang yang Engkau pelihara dari kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya Engkau telah merahmatinya dan yang demikian itu keuntungan yang besar (baginya). (Qs. 40 : 9)

Yaa Tuhan kami, kepada Engkaulah kami bertawakal dan kepada Engkau kami bertaubat dan kepada Engkaulah kami kembali “. (Qs. 60 : 4)

Yaa Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya-Mu bagi kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (Qs. 66 : 8)

(Yaa Allah) yaa Tuhan kami, terimalah (do’a-do’a) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. 2 : 127)

Kemudian sesudah itu, bersujudlah kita menyungkur ke bumi dengan meletakan tujuh anggauta badan kita sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu, sembahlah Allah sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita bersujud menyembah Allah dengan mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya, maka ucapkanlah :

Maha Suci Engkau yaa Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.” ( 3 X )

Maha Suci Engkau yaa Allah, dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Maha Suci Engkau yaa Allah, yang telah meurunkan Al Furqan atas hamba-Nya, (yaitu sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil), agar dia menjadi pemberi peringatan bagi (manusia) di semesta alam. (Qs. 25 : 1)

Maha Suci Engkau (yaa Tuhanku ), tidaklah patut bagiku bahwa aku mengatakan apa yang bukan hak aku untuk (mengatakannya), dan jika pernah aku mengatakannya, maka sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu, dan sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara gaib.” (Qs. 5 : 116)

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)

Maha Suci Engkau yaa Allah, sungguh sebenarnya apa yang ada di langit dan di bumi ini semuanya kepunyaan Engkau, yang masing-masing tunduk patuh kepada (perintah)-Mu.” (Q.S. 2 : 116)

Yaa Allah yaa Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku orang yang menyombongkan diri (kepada-Mu dengan tidak mau menyembah Engkau), dan jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau, dan kepada Engkaulah aku beriman, dan kepada Engkaulah aku bertawakal dengan mengharap ampunan Engkau, maka ampunilah segala dosaku yaa Tuhanku. Sesungguhnya ampunan Engkau amatlah luas.” (Qs 60 : 4)

(Yaa Allah yaa Tuhanku), sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau yang telah menciptakan aku dengan membentuk rupa tubuhku. Dan aku tidaklah ragu terhadap apa yang aku dengar dan apa yang aku lihat dari penyampaian petunjuk-Mu itu, dan sungguh hanya perkataan Engkau-lah yang kuat untuk peganganku dalam mengerjakan perintah-Mu.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, terimalah (sembah sujudku ini) sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “(kepada siapa aku menyembah.” Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh hanya kepada Engkaulah aku menyembah).”

Kemudian sesudah itu bangkitlah kita duduk diantara dua sujud sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu berdo’alah kita kepada Allah dengan mengucapkan :

(Yaa Allah) yaa Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan dan ma’afkanlah segala kesalahanku.

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Mulia, (dan) sesungguhnya Engkau menyukai orang-orang yang meminta ma’af, maka ma’afkanlah segala kesalahanku, dan segala kesalahan kedua orang tuaku, dan segala kesalahan semua kaum muslimin dan muslimat, (yaitu) dengan seiring rahmat-Mu yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Yaa Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya, (yaitu) kepada siapa diantara mereka yang beriman kepada Engkau yaa Allah dan kepada hari akhirat. (Qs. 2 : 126)

Yaa Tuhanku, sesungguhnya kaumku mengambil Al Qur’an ini sesuatu yang tidak diperdulikan.” (Qs. 25 : 30)

Yaa Tuhanku, sungguh mereka kaum yang tidak beriman (kepada Al Qur’An).”(Qs. 43 : 88)

Yaa Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman (sentausa), dan jauhkanlah aku dan anak-anakku (dari) penyembah berhala.” (Qs. 14 : 35)

Yaa Tuhanku, sesungguhnya kebanyakan mereka telah menyesatkan manusia, maka barang siapa yang mengikuti aku, maka sesungguhnya dia dari (golongan)ku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. 14 : 36)

Yaa Tuhanku, berilah aku hikmah (ilmu pengetahuan), dan masukkanlah aku (ke dalam golongan) orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang (datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi sorga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, sesungghnya dia termasuk orang-orang yang tersesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (Yaitu) pada hari harta dan anak anak lelaki tidak berguna, Kecuali orang yang menghadap kepada Engkau dengan hati yang bersih (dari mempersekutukan Engkau) yaa Allah. (Qs. 26 : 83-89)

Yaa Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mensyukuri ni’mat-Mu yang Engkau anugerahkan atasku dan atas kedua orang tuaku, dan bahwasanya aku hendak beramal shaleh yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan dan keturunanku, sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang telah menyerahkan diri (kepada Engkau). (Qs. 46 : 15)

Yaa Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang tetap mendirikan sholat. Yaa Tuhan kami perkenankanlah do’a-do’aku ini.“ (Qs. 14 : 40)

Kemudian, sesudah itu bersujudlah kita untuk sujud kedua kalinya menyungkur ke bumi dengan meletakan tujuh anggauta badan kita sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu, sembahlah Allah sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita, supaya kita bersujud menyembah Allah dengan mengucapkan tasbih dan do’a kepada-Nya, maka ucapkanlah :

Maha Suci Engkau yaa Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan segala puji bagi Engkau yaa Tuhanku.” ( 3 X )

Maha Suci Engkau yaa Allah, dengan seiring puja dan puji yang aku panjatkan kepada-Mu ini, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yaa Allah.

Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sungguh tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 32)

Maha Suci Engkau yaa Allah, sungguh sebenarnya apa yang ada di langit dan di bumi ini semuanya kepunyaan Engkau, yang masing-masing tunduk patuh kepada (perintah)-Mu.” (Q.S. 2 : 116)

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau, (dan jadikanlah aku) orang yang tetap beribadat dengan penuh keta’atan kepada perintah-Mu, dan jauhkanlah aku dari berbuat maksiat yang Engkau haramkan.

Yaa Allah yaa Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau dengan menta’ati perintah-Mu, (dan jadikanlah aku orang yang senantiasa) beramal shaleh untuk akhir tujuanku dari buah tutur nasehat-Mu.

Yaa Allah yaa Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku orang yang menyombongkan diri (kepada-Mu dengan tidak mau menyembah Engkau), dan jadikanlah aku orang yang senantiasa menghadap kepada-Mu bersujud (menyembah) Engkau.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau, dan kepada Engkaulah aku beriman, dan kepada Engkaulah aku bertawakal dengan mengharap ampunan Engkau, maka ampunilah segala dosaku yaa Tuhanku. Sesungguhnya ampunan Engkau amatlah luas.” (Qs 60 : 4)

(Yaa Allah yaa Tuhanku), sungguh aku bersujud (menyembah) Engkau yang telah menciptakan aku dengan membentuk rupa tubuhku. Dan aku tidaklah ragu terhadap apa yang aku dengar dan apa yang aku lihat dari penyampaian petunjuk-Mu itu, dan sungguh hanya perkataan Engkau-lah yang kuat untuk peganganku dalam mengerjakan perintah-Mu.”

Yaa Allah yaa Tuhanku, terimalah (sembah sujudku ini) sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (kepada siapa aku menyembah.” Yaa Allah yaa Tuhanku, sungguh hanya kepada Engkaulah aku menyembah).”

Kemudian, sesudah itu duduklah kita sebagai duduk Tahyat Akhir, sambil mengucapkan :

Yaa Allah yaa Tuhan yang Maha Agung.”

Kemudian sesudah itu, ucapkanlah do’a-do’a ini :

Yaa Allah, (sesungguhnya) segala kehormatan, keberkatan, kebahagiaan dan kebaikan hanyalah untuk Engkau. Yaa Allah, (sesungguhnya) keselamatan yang Engkau limpahkan atas Nabi Engkau tetapkan dengan seiring rahmat-Mu dan keberkatan. (Dan) keselamatan atas kami Engkau tetapkan beserta hamba-hamba-Mu yang sholeh.”

Yaa Allah, sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang hak di sembah) kecuali Engkau. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Engkau.”

Yaa Allah, (sesungguhnya) sholatku ini (mengikuti sholat) Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad. (Yaitu) sebagaimana sholat Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan (berilah aku keberkatan sebagaimana) Engkau memberi keberkatan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Dan sebagaimana Engkau memberi keberkatan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Dan di semesta alam sesungguhnya Engkau Maha Mulia lagi Maha Terpuji.

Yaa Allah, sungguh terpuji Engkau, bahwa Engkau telah mendirikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dan sungguh terpuji Engkau, bahwa Engkau kuasa (mendirikan) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dan sungguh terpuji Engkau, bahwa Engkau telah menyinari langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.

Dan benar-benar terpuji Engkau bahwa (apa) yang telah Engkau ( kerjakan) itu adalah benar, dan janji Engkau adalah benar, dan pertemuan dengan Engkau adalah benar, dan perkataan Engkau adalah benar.

Dan sorga (yang Engkau janjikan) adalah benar, dan neraka yang Engkau (janjikan) adalah benar, dan para nabi adalah benar, dan Nabi Muhammad SAW. Adalah benar, dan hari kiamat adalah benar.

Yaa Allah, sungguh kepada Engkau-lah aku menyerahkan diri, dan kepada Engkau-lah aku beriman, dan kepada Engkau-lah aku bertawakal, dan kepada Engkaulah aku bertaubat, dan kepada Engkau-lah aku mohon ampunan dari pada kesalahanku itu, dan kepada Engkau-lah aku minta keputusan.

Yaa Allah, semoga Engkau mengampuni segala dosaku yang telah lalu dan yang kemudian dan segala dosaku yang tersebunyi dan yang nampak, dan segala kesalahanku yang berlebih-lebihan (dalam urusan mengerjakan perintah Engkau, dan) Engkau lebih mengetahui dari pada aku. Engkau-lah Yang terdahulu dan Yang terkemudian Yang tidak ada Tuhan kecuali Engkau.

(Yaa Allah, yaa Tuhan) yang membolak-balikan hati, balikanlah hatiku agar aku tetap teguh terhadap agama-Mu dan agar aku menta’ati segala (perintah)-Mu.

Maha Suci Engkau (yaa Allah), sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang zalim (karena aku telah menipu diriku sendiri dalam kesanggupanku terhadap perintah-Mu).

Yaa Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhanku, (sungguh) tidak ada Tuhan bagiku kecuali Engkau yang telah menciptakan aku. Dan aku hamba-Mu yang telah berjanji kepada-Mu (dengan janji yang telah Engkau berikan kepada Rosul Engkau, dan dengan itu) aku berjanji kepada-Mu (bahwa aku akan menta’ati perintah-Mu) apa yang telah aku sanggupi (dari perjanjian-Mu itu).

(Yaa Allah), aku berlindung kepada Engkau dari kejahatanku terhadap apa yang telah aku sanggupi itu, karena sungguh bahwa aku akan kembali kepada-Mu dengan seiring nikmat-Mu yang telah aku (usahakan dari perintah-Mu itu), dan aku akan kembali kepada-Mu dengan seiring dosaku (yang telah aku perbuat dari kesalahanku itu). Maka ampunilah segala dosaku (yaa Allah), karena tidak ada yang mengampuni segala dosaku kecuali Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Yaa Allah, semoga aku tetap ingat kepada (perintah)-Mu dan semoga aku selalu bersyukur kepada-Mu (dengan menerima segala perintah-Mu), dan semoga aku bertambah baik dalam mengerjakan perintah-Mu.
(Yaa Allah), semoga Engkau menghubungkan (sholatku ini dengan sholat) Nabi Muhammad beserta keluarganya dan semua sahabatnya, dengan rahmat-Mu Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kemudian sesudah itu, menengoklah kita ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri sambil mengucapkan :

(Yaa Allah, semoga Engkau) menyelamatkan aku (dan seluruh kaum muslimim dan muslimat) dengan rahmat dan keberkahan (dari sisi-Mu).

Kemudian sesudah itu, kerjakanlah kebaikan apa yang telah Allah perintahkan kepada kita, yaitu berdzikir dengan mengingat Allah, bertasbih dengan mensucikan Allah dan memuji-muji-Nya. Atau apa saja dari suatu kebaikan yang kita akan kerjakan untuk akhir tujuan kita agar kita beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Demikianlah sebagian, do’a-do’a yang telah Allah berikan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, dan itu sengaja kami kirimkan kepada saudara-saudara untuk memudahkan kita apabila kita hendak mengambil do’a-do’a untuk bahan pembicaraan kita yang kita akan bicarakan kepada Allah pada setiap gerak-gerik kita dalam melakukan sholat. Maka itu ambilah oleh kita mana saja yang sependapat dengan keinginan kita untuk mohon pertolongan kepada Allah, dan yang demikian itu karena Allah telah menyuruh kita, supaya kita mohon pertolongan kepada Allah dengan sabar, dan supaya kita mohon pertolongan-Nya itu pada setiap gerak-gerik kita dalam melakukan sholat, dan supaya kita menempatkan do’a-do’a itu pada tempat-tempatnya, yaitu sebagaimana yang telah kita tempatkan do’a do’a itu pada setiap adegan sholat.

Dan tidaklah Allah memberikan do’a-do’a itu kepada kita, melainkan itu atas do’a-do’a peninggalan orang-orang yang sebelum kita, yaitu do’a-do’a yang telah Allah berikan kepada mereka sebelum memberikannya kepada kita, supaya kita sama-sama berdo’a kepada Allah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepada mereka dengan melalui do’a-do’a itu. Maka itu ambilah oleh kita mana saja yang sependapat dengan keinginan kita untuk mohon pertolongan kepada Allah, mudah-mudahan Allah menolong kita di dunia dan di akhirat nanti.”

Wahai hamba-hamba Allah yang di muliakan,

Tetapkanlah iman kita kepada Allah dan Rosul-Nya dan kepada Kitab Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya. Dan barang siapa diantara kita ada yang kafir kepada Allah dan kepada Malaikat-Malaikat-Nya dan kepada Kitab-Kitab-Nya dan kepada Rosul-Rosul-Nya dan kepada hari akhirat, maka sesungguhnya ia telah tersesat dengan sejauh-jauhnya tersesat dari jalan petunjuk Allah.

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara-saudara semoga bermanfa’at bagi kita semua, dan sebelum kami mengakhiri penyampaian kami, maka tidak lupa kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya apabila ada perkataan kami yang tidak berkenan di hati saudara-saudara, karena sesungguhnya kami ini orang yang bodoh yang tidak mengetahui sesuatu apapun dalam hal itu, kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada kami dengan Al Qur’an, maka itu ma’afkanlah kami apabila ada kesalahan kami dalam hal ini, karena sesungguhnya kami hanya sebatas menjalankan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kami dengan melalui Al Qur’an.

Sekianlah dari kami semoga Allah melindungi kita dari gangguan syaitan yang terkutuk, dan semoga Allah menetapkan kasih sayang-Nya kepada kita selama-lamanya. Amin-Amin Yaa Robbal’aalamiin.

Wabillahii taufiq walhidayah
Wasasalamu’alaikum Wr Wb.

Kategori:Al-quran 2 Tag:

Kebenaran Alquran Bag. 1

24 November 2009 Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bersama ini kami ucapkan salam sejahtera ke seluruh hamba-hamba Allah dimana saja berada, semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Barokah-Nya kepada kita, dan semoga Allah melindungi kita dari gangguan syaitan yang terkutuk, dan semoga Allah menetapkan kasih sayang-Nya kepada kita selama-lamanya. Maka dengan seiring Rahmat dan kasih sayang-Nya itu mari bersama-sama kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan semesta alam. Dan mari kita memohon kepada-Nya :

“ Yaa Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan atasku dan atas kedua orang tuaku, bahwa aku hendak beramal sholeh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.“

“ Yaa Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku (dalam mengerjakan perintah-Mu ini). Dan lepaskanlah (perkataan-Mu) dari tali ikatan lisanku ini, (supaya mereka mengerti terhadap apa yang Engkau bicarakan kepada mereka dengan melalui) perkataanku ini. (Karena sesungguhnya aku hanya menyampaikan perkataan-Mu yang Engkau perintahkan kepadaku). Dan jadikanlah untukku seorang pembantu yang dari keluargaku. (Yaitu) Harun saudaraku (supaya dia membacakan ayat-ayat Engkau kepada mereka). Dan teguhkanlah kekuatanku dengan dia. Dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku ini (supaya aku dan dia sama-sama satu urusan dalam mengerjakan perintah-Mu. Dan) supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau. Dan (supaya) kami banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat terhadap apa yang kami (kerjakan). Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sesungguhnya tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan melalui Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.“

Dan semoga Allah melimpahkan salam hormat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dan kepada para Anbiya, para Utusan-Nya, keluarganya dan kepada sahabatnya sekalian. Amin, amin, amin ya Robbal ‘alamin. Amma Ba’du.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sebelum kami mengemukakan apa yang hendak kami sampaikan kepada saudara-saudara, maka terlebih dahulu kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya atas kelancangan kami ini, yang mana bahwa kami telah lancang mengirimkan surat ini kepangkuan saudara-saudara dengan tanpa kabar berita yang dari sebelumnya. Akan tetapi karena keadaan waktu yang sangat sempit bagi kami untuk mengunjungi saudara-saudara, maka kami lakukan menjalankan perintah Allah itu dengan cara seperti ini. Maka itu ma’afkanlah kami, karena yang demikian itu bukanlah kami menghinakan saudara-saudara, dan bukan pula kami tidak menghormati saudara-saudara dengan penghormatan yang sebagaimana mestinya, akan tetapi yang demikian itu hanya karena keadaan waktu saja yang tidak mencukupi bagi kami, kalau kami menjalankan perintah Allah itu dengan mengunjungi saudara-saudara.

Oleh karena itu, kami kirimkan surat ini ke pangkuan saudara-saudara untuk menunaikan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya, supaya kami menyampaikan amanat Allah dengan mengabarkan tentang “ Kebenaran Al Qur’an “ kepada saudara kami di mana saja berada, yang firman-Nya :

Katakanlah : “ Wahai manusia sesungguhnya telah datang kebenaran Al Qur’an dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (Allah) memberi petunjuk untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tersesat, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan aku bukan penjaga atas dirimu.” (Q.S.10 : 108).

Segala puji bagi Allah Yang telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, dan Dia tidak menjadikan (Al Qur’an) menyimpang baginya. (Q.S.18 : 1).

(Al Qur’an) lurus untuk memberi peringatan akan siksaan yang sangat keras dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah (disediakan) pahala yang baik. (Q.S.18 : 2).

Itulah yang dikabarkan Allah kepada kita, bahwasanya kebenaran Al Qur’an telah datang kepada kita dari sisi-Nya, maka barang siapa diantara kita ada yang mendapat petunjuk Allah, maka sesungguhnya petunjuk itu hanya untuk diri kita sendiri, dan barang siapa diantara kita ada yang tersesat dari petunjuk Allah, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, karena seorangpun tidak ada yang menjaganya atau menghalanginya dari mengikuti petunjuk Allah yang Allah tunjukan dengan Al Qur’an. Dan Allah tidak menjadikan petunjuk itu menyimpang bagi kita atau menyesatkan kita. Melainkan itu lurus memberi peringatan kepada kita akan siksaan yang sangat keras dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah disediakan pahala yang baik di sisi-Nya.

Maka itu perkenankanlah kami untuk menyampaikan apa yang Allah bicarakan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, akan tetapi sebelum dan sesudahnya tidak lupa kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya, apabila ada perkataan kami yang tidak berkenan di hati saudara-saudara atau apa saja kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini, semoga saudara-saudara sudi kiranya mema’afkan segala kesalahan kami, karena kesalahan itu bukan yang sengaja kami lakukan dan bukan pula sesuatu yang kami inginkan, melainkan itu hanya semata-mata dari kebodohan kami sendiri, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Apa saja yang kamu peroleh dari kebaikan maka itu dari Allah, dan apa saja yang menimpamu dari keburukan, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Dan Kami mengutus kamu kepada manusia sebagai Rosul, dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Q.S.4:79).

Maka itu ma’afkanlah kami, apabila ada kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini, karena yang demikian itu sudah jelas dari keterangan Allah, bahwasanya kesalahan itu dari kebodohan kami sendiri. Dan janganlah kita mencari kesalahan orang lain karena yang demikian itu tidak ada manfa’atnya bagi kita, akan tetapi carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan yang Allah ridhai, agar kita mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti. Dan bukankah kesudahan yang baik itu hanya bagi orang-orang yang bertakwa mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala cegahan-Nya ? Maka itu jauhilah perasangka buruk kepada orang lain sebelum jelas kesalahannya, karena yang demikian itu sesuatu yang Allah cegah kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari kesalahan (orang lain), dan jangan (pula) sebagian kamu mengumpat sebagian (yang lain). Apakah diantara kamu ada yang menyukai makan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka (ketika memakannya itu) tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S.49:12).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang dicegah Allah kepada kita agar kita tidak berperasangka buruk dan mencari kesalahan orang lain dengan mengumpat sebagian yang lain, karena yang demikian itu adalah dosa bagi kita. Dan jika kita berbuat demikian berarti kita suka memakan daging saudara kita yang sudah mati, atau kita suka meresapi keburukan orang lain, maka ketika kita meresapinya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Atau yang demikian itu seperti kita sedang meresapi keburukan saudara kita yang telah lalu yang kita mengira baik kepadanya, padahal dia orang yang melakukan kejahatan dengan membuat-buat tipu daya kepada kita, maka ketika kita meresapi keburukannya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Atau yang demikian itu seperti kita sedang meresapi keburukan saudara kita yang kita pernah mendengarnya, bahwa diantara saudara kita ada yang melakukan kejahatan dengan membuat-buat tipu daya kepada saudara kita yang lainnya, maka ketika kita meresapi keburukannya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Maka dengan adanya kejahatan-kejahatan sauadara kita yang telah lalu itu, sehingga kita selalu berperasangka buruk kepada saudara kita yang lainnya, yaitu sebagaimana sangkaan kita kepada saudara kita yang telah melakukan kejahatan yang kita merasa jijik kepadanya, walaupun saudara kita itu mengajak kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimulyakan,

Bukankah kita ini orang yang menyukai kebaikan ? Maka janganlah kita bersegera mengambil keburukan sebelum kita mengambil kebaikan dari apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk kebaikan kita di dunia dan di akhirat nanti, adapun yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya ketika Rosul-Nya berkata kepada kaumnya, yang firman-Nya :

Berkatalah (Rosul) : “ Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan ? Mengapa kamu tidak minta ampunan kepada Allah, agar kamu diberi rahmat ? ” (Q.S.27: 46)

Adapun yang demikian itu karena diantara kaumnya ada yang bersegera mengambil keburukan sebelum ia mengambil kebaikan, padahal tidaklah ia bersegera mengambil keburukan melainkan ia minta disegerakan keburukan, karena siapa yang mengambil keburukan maka niscaya ia akan mendapat keburukan. Dan mengapa ia tidak minta ampunan kepada Allah, agar ia diberi rahmat untuk kebaikannya di dunia dan di akhirat nanti ? Dan yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang Firman-Nya :

Dan kamu melihat, kebanyakan diantara mereka bersegera berbuat dosa dan permusuhan dan memakan yang haram, sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan. (Q.S.5:62)

Dan yang demikian itu karena diantara kaumnya ada yang bersegara berbuat dosa dan permusuhan dan memakan yang haram, yaitu memakan harta orang lain dengan jalan batil mereka membuat-buat tipu daya kepada orang lain agar mereka dapat memakan hartanya, sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan.

Maka jika diantara kita ada yang seperti itu, tentu kita selalu berperasangka buruk apabila kita kedatangan orang lain, walaupun orang itu mengajak kita untuk mengerjakan kebaikan yang diperintahkan Allah kepada kita, adapun yang demikian itu karena kita takut tertipu daya sebagaimana saudara kita yang telah tertipu daya.

Akan tetapi persangkaan kita yang demikian itu janganlah kita bersegera mengumpat dengan menjelekan orang itu sebelum jelas kesalahannya, karena jika orang itu tidak bersalah dan ia benar-benar sedang mengerjakan kebaikan yang diperintahkan Allah kepada kita, maka yang demikian itu tentu kita terjerumus kedalam fitnah, sedang fitnah itu lebih besar dosanya dari pada pembunuhan.

Dan jika demikian tentu kita termasuk orang-orang yang bersegera berbuat dosa dan permusuhan, karena tidaklah kita menjelekan orang lain melainkan kita telah mengadakan permusuhan, dan tidaklah kita membicarakan tentang kejelekan orang lain kepada saudara kita melainkan kita ingin dibantu untuk memusuhi orang itu, dan jika kita tidak menghendaki permusuhan dan tidak pula kita ingin dibantu untuk memusuhi orang itu, maka untuk apa kita membicarakan tentang kejelekan orang lain kepada saudara kita, jika kita tidak mengharapkan bantuannya untuk memusuhi orang itu.

Dan sungguh jika saudara kita ikut pula menjelekan orang itu, maka yang demikian itu bahwa saudara kita telah membantu kita memusuhi orang itu, dan jika demikian tentu kita terjerumus kedalam perbuatan syaitan yang bantu-membantu dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan syaitan itu bukan bantu-membantu tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimulyakan,

Sungguh segala sesuatu pasti ada kesudahannya, maka jika kita mengerjakan keburukan niscaya kita akan mendapat kesudahan yang buruk di dunia dan di akhirat nanti, dan jika kita mengerjakan kebaikan niscaya kita akan mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, dan tidaklah mungkin kita ini menginginkan kesudahan yang buruk melainkan kita sudah pasti menginginkan kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, maka itu mari kita berlomba mengerjakan kebaikan sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri), yang masing-masing menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu (mengerjakan) kebaikan, (niscaya) Allah mendatangkan (balasannya) kepadamu sekalian di mana saja kamu berada, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S.2: 148).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita berlomba mengerjakan kebaikan dengan menolong agama Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, dan jika kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita, niscaya Allah mendatangkan balasannya kepada kita sekalian dimana saja kita berada, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, agar kita mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, (niscaya) Dia menolong kamu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. 47: 7).

Dan orang-orang yang mengingkarinya, maka kecelakaan-lah bagi mereka dan Dia akan menyesatkan amal perbuatan mereka. (Q.S. 47: 8).

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci kepada (Al Qur’an) yang telah Allah turunkan, maka Dia akan menghapus (pahala) amal perbuatan mereka. (Q.S.47: 9).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita supaya kita menolong agama Allah, dan jika kita mau menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, niscaya Allah menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.

Dan jika kita mengingkarinya karena kita tidak percaya atau kita tidak mau menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, maka kecelakaanlah bagi kita dan Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita. Karena yang demikian itu jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, berarti kita tidaklah mengerjakan sesuatu melainkan itu bukan dari perintah Allah, maka jika demikian sudah pasti Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, karena apa yang kita kerjakan itu bukan dari perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya.

Dan bagaimana Allah tidak akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, jika apa yang kita kerjakan itu bukan dari perintah Allah, adapun yang demikian itu karena kita mengetahui bahwa perintah Allah bukan perintah manusia, dan tidaklah Allah menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya melainkan itu berdasarkan keterangan yang nyata dari sisi-Nya, dan itu secara tertulis dalam Al Qur’an. Maka jika kita mengerjakan selain perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, niscaya Allah menyesatkan pahala amal perbuatan kita.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita mengerjakan perintah si A, maka tentu yang membayar upah kepada kita adalah si A, dan apabila kita mengerjakan perintah si B, maka tentu yang membayar upah kepada kita adalah si B, yang tidaklah mungkin kita mengerjakan perintah si A kemudian yang membayar upah kepada kita adalah si B. Dan demikian pula apabila kita mengerjakan selain perintah Allah, maka yang demikian itu sudah pasti Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita yang kita kerjakan dari selain perintah Allah. Dan sekali-kali Allah tidak akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, jika apa yang kita kerjakan itu dari perintah Allah, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang kita kerjakan.

Dan jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan Al Qur’an, maka yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang membenci Al Qur’an, yang didalamnya itu ada keterangan-keterangan dan petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, atau kita termasuk orang-orang yang tidak menyukai Al Qur’an yang Allah turunkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, maka jika demikian niscaya Allah menghapus pahala amal perbuatan kita, karena apa yang kita kerjakan itu tersesat dari jalan petunjuk Allah yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui Al Qur’an.

Akan tetapi kita tidaklah mungkin sepeninggalan junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW bahwa kita berbalik kebelakang menjadi kafir tidak percaya terhadap perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena kita mengetahui bahwa Al Qur’an itu dari penyampaian junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW utusan Allah yang diutus untuk menyampaikan Al Qur’an kepada kita, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah lain Muhammad itu kecuali seorang Rosul, sungguh telah berlalu beberapa orang Rosul sebelumnya. Maka jika ia wafat atau dibunuh apakah kamu akan berbalik ke belakang (menjadi kafir) ?. Dan barang siapa yang berbalik ke belakang, maka hal itu tidak akan memudharotkan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. 3: 144).

Dan tidak ada satu jiwapun yang mati melainkan itu dengan izin Allah yang telah ditentukan pada waktunya. Dan barang siapa yang menghendaki pahala dunia, (niscaya) Kami berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, (niscaya) Kami berikan kepadanya pahala akhirat, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. 3: 145).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW itu seorang Rosul yang diutus kepada kita supaya menyampaikan Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepadanya, dan Al Qur’an yang beliau sampaikan kepada kita ini bukti nyata Al Qur’an itu ada bersama kita, bahkan Al Qur’an telah lama ada bersama kita dalam beberapa masa. Maka bagaimana jika junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW telah wafat, apakah kita akan berbalik ke belakang menjadi kafir tidak percaya dan tidak mau mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya itu ? Dan barang siapa diantara kita ada yang mengingkarinya, karena ia tidak percaya atau tidak mau meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, maka hal itu tidak akan memadharotkan Allah sedikitpun, jika Allah hendak menjadikan generasi penerus Rosul-Nya untuk meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran kekuasaan Allah yang telah ada bersama kita, yaitu apabila tanaman-tanaman yang buahnya bermanfa’at bagi kita mati sesudah mengeluarkan buahnya, maka Allah berkuasa menjadikan generasi penerusnya dengan menumbuhkan tanaman-tanaman yang serupa buahnya dengan buah tanaman yang telah mati itu, agar makanan kita tidak terputus dengan kehilangan buah tanaman yang bermanfa’at itu, dan Allah tidak kesukaran untuk menumbuhkan generasi penerusnya untuk kehidupan kita didunia ini.

Dan demikian pula apabila Allah hendak menjadikan generasi penerus Rosul-Nya, maka yang demikian itu tidak kesukaran bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, yaitu kepada orang-orang yang mau meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Dan Allah menerangkan kepada kita, bahwa tidak ada satu jiwapun yang mati melainkan itu dengan izin Allah yang telah ditentukan pada waktunya. Maka sepeninggalan Rosul-Nya itu Allah menyuruh kita, agar kita menjadi generasi penerus Rosul-Nya, supaya kita meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, jika kita pengikut Nabi besar Muhammad SAW dengan mengikuti apa yang telah beliau kerjakan dari perintah Allah, dan sebagai balasannya Allah janjikan kepada kita, bahwa barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala dunia, niscaya Allah berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala akhirat, niscaya Allah berikan kepadanya pahala akhirat, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, yaitu kepada orang-orang yang mensyukuri ni’mat Allah yang telah Allah anugrahkan atas Rosul-Nya dengan meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Maka itu mari kita berlomba mengerjakan kebaikan dengan menolong agama Allah dan menyampaikan amanat-Nya yang Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (Allah) kepada yang hak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkan hukum itu dengan adil, sesungguhnya Allah akan memberi pengajaran kepadamu dengan sebaik-baiknya (pengajaran), sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (apa yang kamu kerjakan). (Q.S.4:58).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah menyuruh kita untuk menyampaikan amanat Allah kepada yang hak menerimanya, dan apabila kita hendak menetapkan hukum diantara manusia, maka tetapkan hukum itu dengan adil, sesungguhnya dengannya itu Allah akan memberi pengajaran kepada kita dengan sebaik-baiknya pengajaran, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat apa yang kita kerjakan.

Ingat ! Amanat Allah adalah suatu amanat yang dari perkataan Allah atau dari firman-Nya yang berdasarkan ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an, dan amanat Allah bukan suatu amanat yang dari perkataan manusia, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (Al Qur’an benar-benar dibuat oleh Allah) untuk membenarkan apa yang telah ada padanya, dan untuk menjelaskan Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, (bahwa itu benar-benar diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Q.S.10:37).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka jika kita yakin bahwa apa yang ada dalam Al Qur’an itu dibuat oleh Allah, maka itu sudah pasti semua apa yang ada dalam Al Qur’an itu perkataan Allah, dan demikian pula amanat-Nya, maka janganlah kita menyamakan perkataan Allah dengan perkataan manusia, karena perkataan Allah bukan perkataan manusia, dan demikan pula amanat-Nya.

Dan kalau kita hendak menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, maka sampaikanlah apa yang Allah bicarakan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena semuanya itu amanat Allah yang Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, supaya beliau menyampaikannya kepada kita.

Adapun yang Allah amanatkan kepada kita adalah perintah-Nya, petunjuk-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, maka yang demikian itu sampaikanlah kepada yang hak menerimanya, yaitu kepada manusia yang seperti kita, maka jika mereka manusia tentu mereka berhak menerimanya, karena sungguh tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya mengabdi kepada-Nya dengan menta’ati segala perintah-Nya, petunjuk-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya.

Dan janganlah kita menyembunyikan amanat Allah dengan tidak mau menyampaikan apa yang telah Allah terangkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah apa yang telah Kami terangkan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat. (Q.S.2: 159).

Kecuali orang-orang itu bertaubat dan mereka mengadakan perbaikan dan mereka menerangkan (hal itu kepada manusia), maka kepada mereka itu Aku menerima taubat mereka, dan sesungguhnya Aku Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S.2: 160).

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkarinya dan mereka mati dalam keadaan ingkar, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (Q.S.2: 161).

Mereka kekal dalam laknat, mereka tidak diringankan siksaan dari mereka, dan mereka tidak diberi tangguh. (Q.S.2: 162).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka janganlah kita menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, sesudah Allah menerangkan hal itu kepada kita dalam Al Kitab, karena yang demikian itu bahwa kita akan dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat.

Dan seandainya kita berbuat demikian, maka bertaubatlah kepada Allah dan perbaikilah perbuatan kita dengan menerangkan hal itu kepada saudara-saudara kita, karena sesudah itu Allah akan menerima taubat kita, dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh seandainya kita mengingkarinya karena kita tidak percaya dan tidak mau menerangkan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk untuk manusia, sesudah kita membacanya dalam Al Kitab atau mendengarnya, kemudian kita mati dalam keadaan ingkar belum menerangkan hal itu kepada saudara-saudara kita, maka jika demikian tentu kita akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya, dan kita kekal dalam laknat yang tidak diringankan siksaan itu dari kita, dan kita tidak diberi tangguh.

Oleh karena itu maka perkenankanlah kami untuk menyampaikan amanat Allah yang Allah perintahkan kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena kami takut akan laknat Allah dan laknat semua makhluk yang dapat melaknat, jika kami tidak mau menyampaikan amanat Allah yang berupa keterangan- keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, sesudah Allah menerangkan hal itu kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya dalam Al Kitab, dan hal itu telah terputus dari penyampaian para Rosul yang membawa kabar gembira dan membawa peringatan, yaitu dari sepeninggalan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rosul Kami, dia menjelaskan kepadamu atas apa yang telah terputus dari (penyampaian) para Rosul, supaya (pada hari kiamat) kamu (tidak) mengatakan : “ Kepada kami tidak datang seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan.“ Maka sungguh (sekarang) telah datang kepadamu seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. 5 : 19).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah Maha kuasa menjadikan generasi penerus Rosul-Nya, supaya dia menyampaikan amanat Allah dengan membawa kabar gembira dan membawa peringatan dari sisi-Nya, sesudah penyampaian itu terputus dari penyampaian para Rosul.

Dan sebelum Allah menjadikan generasi penerus Rosul-Nya itu Dia telah mengatakan kepada kita, jika kita tidak mau menyampaikan amanat Allah maka hal itu tidak akan memadharotkan Allah sedikitpun, karena Allah Maha Kuasa menjadikan generasi penerus Rosul-Nya supaya dia menyampaikan amanat-Nya itu, dan tidaklah Allah menjadikan generasi penerus Rosul-Nya itu melainkan pada hari kiamat nanti supaya kita tidak mengatakan : “ Kepada kita tidak datang seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan dari sisi Allah.”

Maka sungguh sekarang telah datang kepada kita seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan dari sisi Allah, dan dia mengabarkan kepada kita tentang amal perbuatan kita yang telah kita kerjakan dari perintah Allah, maka barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan perintah Allah dengan benar sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, maka dialah yang mendapat kabar gembira dari sisi Allah, bahwasanya dia telah disediakan sorga yang penuh keni’matan dan dia kekal didalamnya selama-lamanya.

Dan barang siapa diantara kita ada yang tersesat atau kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya tidak sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, maka yang demikian itu dia telah mendapat peringatan dari sisi Allah, supaya dia ingat akan kelengahannya dari mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan supaya dia kembali mengerjakan perintah Allah dengan memperbaiki amal perbuatannya, yaitu sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan yang demikian itu supaya dia tidak terjerumus ke dalam neraka yang Allah sediakan bagi orang-orang kafir.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan membenarkan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita. Sebagai contoh, apabila kita menerima surat dari seseorang yang biasa menyuruh kita, yang dalam suratnya itu tertulis bahwa dia menyuruh kita agar kita menyirami tanaman dikebunnya yang terletak dekat tempat kediaman kita, maka yang demikan itu sudah pasti suratnya itu tidak cukup hanya sebatas dibaca dan didengarkan saja, melainkan apa yang dia perintahkan kepada kita dengan melalui suratnya itu kita kerjakan, kemudian sesudah itu kita sirami tanaman yang ada dalam kebunnya dengan air yang bersih, supaya tanaman itu baik pertumbuhannya dan kepetik buahnya sebagaimana apa yang dikehendaki oleh penanamnya, jika kita sudah biasa mengerjakan perintahnya dengan mendapat upah dari padanya. Itulah sebagai contoh kebenaran yang telah ada bersama kita, apabila kita menerima surat perintah dari seseorang yang biasa menyuruh kita dengan melalui suratnya.

Dan demikian pula apabila kita menerima surat perintah dari Allah yang menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya, maka surat-Nya itu sudah pasti tidak cukup hanya sebatas dibaca dan didengarkan saja, melainkan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui surat-surat-Nya itu, kita kerjakan sebagaimana petunjuk-Nya yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui surat-surat-Nya itu. Adapun yang demikian itu karena Allah tidak akan berbicara kepada kita dengan menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya, kecuali itu dengan melalui surat-surat-Nya yang Allah sampaikan kepada kita dengan Al Qur’an, jika kita sudah biasa mengerjakan perintah Allah dengan cara seperti itu, kecuali kita menginginkan melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, yaitu seperti kaum Nabi Musa AS dahulu yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan ketika itu Musa berkata kepada kaumnya : “ Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri, karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu), maka bertaubatlah kamu kepada Tuhan yang menjadikan kamu, lalu bunuhlah dirimu, yang demikian itu lebih baik bagimu di sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka Dia akan menerima taubatmu, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 2 : 54).

Dan ketika itu kamu berkata : “ Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami melihat Allah dengan nyata, maka (ketika itu) petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan. “ (Q.S. 2 : 55).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, ketika Nabi Musa AS berkata kepada kaumnya, yang ketika itu kaumnya telah menganiaya diri mereka sendiri atau mereka telah menipu diri mereka sendiri, karena mereka telah menjadikan anak lembu sebagai sesembahan mereka selain Allah, maka ketika itu Nabi Musa AS menyuruh mereka agar mereka bertaubat kepada Allah yang telah menjadikan mereka, dan menyuruh mereka agar mereka membunuh diri mereka sendiri atau menyuruh berhenti dari menyembah anak lembu, karena yang demikian itu lebih baik bagi mereka di sisi Allah yang telah menjadikan mereka, dan Allah akan menerima taubat mereka, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang

Akan tetapi mereka tidak percaya kepada Nabi Musa AS yang menyuruh mereka agar bertaubat kepada Allah dan berhenti dari menyembah anak lembu, sehingga mereka berkata kepada Nabi Musa AS :” Hai Musa, kami tidak akan percaya kepadamu sehingga kami melihat Allah dengan nyata menyuruh kami agar kami bertaubat kepada Allah dan berhenti dari menyembah anak lembu.” Adapun yang demikian itu karena sepengetahuan mereka tidak ada yang menyuruh mereka melainkan semuanya itu tampak nyata terlihat oleh penglihatan mereka, maka karena itu petir menyambar mereka atau mereka mendapat peringatan sedang mereka menyaksikan atas perbuatan diri mereka, bahwa mereka selalu menangguhkan perintah Allah apabila mereka hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan mereka menunggu sehingga mereka melihat Allah dengan nyata menyuruh mereka tanpa melalui surat-surat-Nya itu.

Maka bagaimana, apakah kita akan seperti mereka menangguhkan perintah Allah apabila kita hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan kita menunggu sehingga kita melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya ? ” Tidak mungkin bukan,” karena kita sudah mengetahui bahwa tidaklah kita mengerjakan perintah Allah melainkan itu sesudah kita membaca surat-surat-Nya atau mendengarnya, dan yang demikian itu karena kita sudah mengetahui bahwasanya Allah Tuhan Yang Maha Ghaib yang tidak dapat terlihat oleh penglihatan kita, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Allah tidak dapat di capai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S.6 : 103).

Sesungguhnya telah datang kepadamu beberapa pandangan dari Tuhanmu, maka barang siapa yang melihat (petunjuk-Nya) maka itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang buta (tidak melihat petunjuk-Nya) maka (kecelakaanlah) atasnya, dan aku bukan penjaga atas dirimu. (Q.S.6 : 104).

Dan seperti demikianlah Kami mengulang-ulang ayat-ayat itu, dan supaya mereka berkata : “ (Apakah) kamu telah mempelajari (ayat-ayat Allah) ?,“ dan agar Kami menjelaskan (Al Qur’an) kepada kaum yang mengetahui. (Q.S.6 : 105).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita, dan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Yang demikian itu ketetapan Allah Tuhan Yang Maha Ghaib, dan Allah tidak mungkin akan merobah ketetapan-Nya menjadi kelihatan oleh kita.

Maka itu tidaklah mungkin bagi kita akan menangguhkan perintah Allah apabila kita hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan kita menunggu sehingga kita melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, adapun yang demikian itu karena kita sudah mengetahui bahwa Allah tidak akan merobah ketetapan-Nya

Dan sungguh tidaklah kita mengerjakan perintah Allah, melainkan itu telah datang kepada kita beberapa pandangan sebagai petunjuk dari sisi Allah untuk mengerjakan perintah-Nya, maka barang siapa diantara kita ada yang melihat petunjuk-Nya maka itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa diantara kita ada yang buta tidak melihat petunjuk-Nya maka kecelakaanlah atasnya, dan kita bukan penjaga yang menghalangi untuk melihat petunjuk Allah dalam Al Qur’an.
Dan seperti demikian itu karena Allah telah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya kepada kita supaya kita mengatakan : “ Apakah kita telah mempelajari ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an ?,“ dan yang demikian itu karena Allah akan menjelaskan Al Qur’an kepada kita agar kita mengetahui kebenarannya.
Maka itu mari kita bersama-sama mempelajari ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an, karena dengan Al Qur’an itu Allah akan memberi pengajaran kepada kita dengan sebaik-baiknya pengajaran, supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepada kita dengan Al Qur’an, jika kita mau mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya. Adapun yang demikian itu karena Allah telah memberikan contoh suri tauladan yang baik kepada kita untuk mengerjakan segala perintah-Nya, yaitu dengan menerangkan amal perbuatan Rosul-rosul-Nya yang telah terlebih dahulu mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita dapat mengerjakan segala perintah Allah dengan baik sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rosul-rosul-Nya, jika kita mau mencontoh amal perbuatan Rosul-rosul-Nya dalam mengerjakan segala perintah-Nya itu.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita belajar menulis, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita menulis dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat menulis dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam menulis, dan apabila kita belajar membaca, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita membaca dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat membaca dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam membaca, dan apabila kita belajar mengerjakan sesuatu, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita mengerjakannya dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat mengerjakan itu dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam kehidupan dunia ini, dan demikian pula apabila kita belajar yang lainnya. Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita dalam urusan belajar.

Maka itu mari kita bersama-sama mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya, agar kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan baik untuk kebutuhan urusan kita di dunia dan di akhirat nanti, dan janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengetahui : “ Mengapa Allah tidak berbicara (langsung) kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami ? ” Seperti demikian itu orang-orang sebelum merekapun telah mengatakan seperti yang diucapkan oleh mereka (bahkan) hatinyapun serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. .(Q.S.2:118).

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan (membawa) kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak diminta (pertanggungan jawab) tentang (orang-orang yang menjadi) penghuni neraka. .(Q.S.2:119).

Orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka tidak akan senang kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “ Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang (sebenarnya), dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan itu datang kepadamu, maka bagimu tidak mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.” (Q.S.2:120).

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya, dan barang siapa yang mengingkarinya, maka mereka itulah yang rugi. (Q.S.2:121).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa orang-orang yang tidak mengetahui mereka mengatakan : ” Mengapa Allah tidak berbicara langsung kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami.” Padahal sebelum mereka lahir ke muka bumi ini, sesungguhnya telah ada tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dan yang ada pada diri kita sendiri, bahwa semuanya itu kekuasaan Allah.

Maka itu perhatikanlah oleh kita, siapakah yang kuasa menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, dan siapa yang kuasa menjadikan kita dapat melihat, dapat mendengar, dapat berfikir, dapat berjalan, dapat membuat sesuatu dan sebagainya ? “ Hanya Allah bukan ! Maka jika demikian, adakah kekuasaan kita di muka bumi ini ? Sedikitpun tidak ada bukan ! Kecuali semuanya itu kekuasaan Allah yang Allah berikan kepada kita sebagian dari kekuasaan-Nya itu, supaya kita bersyukur kepada-Nya dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, bahwasanya Allah telah menurunkan Al Qur’an kepada Rosul-Nya supaya disampaikan kepada kita, yang dengan melalui Al Qur’an itu Allah berbicara kepada kita dengan menyuruh kita, agar kita mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala cegahan-Nya.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menetapkan diri-Nya, bahwasanya Dia Tuhan Yang Maha Ghaib yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita, maka Allah membuat Al Qur’an yang berisikan surat-surat-Nya untuk berbicara kepada kita, dan jika Allah berbicara langsung kepada kita dengan menampakan diri-Nya, maka yang demikian itu tidaklah Allah dapat disebut Tuhan Yang Maha Ghaib, karena Tuhan Yang Maha Ghaib bukan yang nampak nyata kelihatan oleh kita.

Maka janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, karena mereka selalu menangguhkan perintah Allah apabila mereka hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan mereka menunggu sehingga mereka melihat Allah dengan nyata berbicara langsung menyuruh mereka tanpa melalui surat-surat-Nya, adapun yang demikian itu karena sepengetahuan mereka tidak ada yang menyuruh mereka, melainkan semuanya itu nyata terlihat oleh penglihatan mereka, maka jika yang menyuruh mereka itu nyata terlihat oleh penglihatan mereka dan perintahnya itu sependapat dengan keinginan mereka, tentu mereka mengerjakannya. Akan tetapi karena Allah menyuruh mereka itu tidak kelihatan oleh penglihatan mereka dan peritah-Nya itu tidak sependapat dengan keinginan mereka, maka mereka menangguhkannya untuk mengerjakan perintah-Nya itu, walaupun upahnya itu lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, adapun yang demikian itu karena mereka tidak mengetahui.

Maka janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, sesudah kita mengetahui bahwa Allah tidaklah menyuruh kita kecuali dengan melalui surat-surat-Nya, maka itu janganlah kita menangguhkan perintah Allah sesudah Allah menyuruh kita dengan melalui surat-surat-Nya, karena kita berbuat demikian berarti kita sama saja dengan mereka menangguhkan perintah Allah, seakan-akan kita menunggu sehingga Allah berbicara langsung menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, dan jangan pula kita mengira bahwa pahala akhirat itu terlalu lama bagi kita, sesudah Allah menjanjikan pahala dunia kepada kita yang sekarang ini, dan yang demikian itu karena Allah telah menjelaskan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kita.

Dan apabila kita yakin bahwa Allah menyuruh kita dengan ayat-ayat-Nya, maka Allah mengutus kita atau menyuruh kita agar kita membawa kebenaran Al Qur’an dari sisi-Nya dan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan kita tidak diminta pertanggungan jawab tentang orang-orang yang menjadi penghuni neraka, karena kita hanya sebatas menyampaikan amanat Allah, atas apa yang Allah amanatkan kepada kita supaya kita menyampaikannya itu.

Maka mari kita sampaikan amanat Allah dengan melalui lisan kita, jika kita mau menolong agama Allah dengan mewakili perkataan Allah yang kita baca dari Kitab-Nya, yaitu supaya kita berbicara kepada manusia dengan menyampaikan amanat-Nya, karena Allah tidak akan berbicara kepada manusia kecuali dengan melalui ayat-ayat-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita menyampaikan amanat seseorang yang menyuruh kita agar kita mengatakan amanatnya kepada yang hak menerimanya, maka tentu kita akan mewakili perkataannya dengan melalui lisan kita, mengatakan amanatnya kepada yang hak menerimanya, dan jika kita menyampaikan amanatnya itu dengan membawa suratnya, maka tentu kita sampaikan suratnya itu kepada yang hak menerimanya, dan jika yang hak menerima suratnya itu tidak dapat membacanya, maka kita bacakan suratnya itu supaya ia mendengar amanatnya, dan sesudah itu urusannya terserah kepada keduanya, karena kita hanya sebatas menyampaikan amanatnya yang diperintahkan kepada kita. Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita dalam urusan menyampaikan amanat.

Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, walaupun orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan menyenangi kita, sehingga kita mengikuti agama mereka. Padahal sungguh petunjuk Allah itulah petunjuk agama yang sebenarnya, dan sungguh jika kita mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan itu datang kepada kita, maka jika demikian tentu kita tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, jika kita percaya kepada Allah bahwa Allah benar-benar menyuruh kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Dan orang-orang yang telah Allah beri Al Kitab kepada mereka, mereka membacanya itu dengan bacaan yang sebenarnya, yaitu apabila mereka membaca Kitab Allah maka sesudah itu mereka kerjakan apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya itu, karena mereka beriman kepada Allah dan kepada Kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya. Dan barang siapa yang mengingkari perintah Allah sesudah mereka membaca Kitab-Nya, maka mereka itulah yang rugi, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan perintah-Nya, biarpun yang mereka kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit. Dan yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan dan tidak (pula) kamu membaca suatu ayat dari Al Qur’an, dan tidak (pula) kamu mengerjakan (perintah Kami sesudah kamu membacanya), melainkan Kami menjadi saksi atas kamu ketika kamu mengerjakannya. Dan itu tidaklah luput dari (pengetahuan) Tuhanmu biarpun yang kamu kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dan lebih besar dari itu melainkan (semua tertulis) dalam Kitab yang nyata. (Q.S.10: 61).

Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah mereka tidak ada ke khawatiran atas (apa yang telah luput dari) mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S.10: 62).

(Mereka itu) orang-orang yang beriman dan bertakwa (kepada Allah). (Q.S.10: 63).

Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia, dan dalam (kehidupan) akhirat tidak ada perobahan bagi mereka (pahala) yang telah Allah (janjikan kepada mereka) pada kalimat-kalimat-Nya itu. Yang demikian itu kemenangan yang besar. (Q.S.10: 64).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa tidaklah kita berada dalam suatu keadaan dan tidak pula kita membaca suatu ayat dari Al Qur’an, dan tidak pula kita mengerjakan perintah Allah sesudah kita membacanya, melainkan Allah menjadi saksi atas kita ketika kita mengerjakan perintah-Nya itu. Dan itu tidaklah luput dari pengetahuan Allah biarpun yang kita kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dan lebih besar dari apa yang telah kita kerjakan melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata.

Maka itu mari kita menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita memperoleh keuntungan yang besar di akhirat nanti. Ingat ! Sesungguhnya Wali-Wali Allah mereka tidak ada ke khawatiran atas harta yang telah luput dari mereka yang mereka nafkahkan dijalan Allah, dan mereka tidak bersedih hati. Karena mereka orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Maka bagi mereka selalu mendapat kabar gembira dalam kehidupan dunia, dan dalam kehidupan akhirat nanti, pahala bagi mereka itu tidak ada perobahan kecuali sama seperti apa yang telah Allah janjikan kepada mereka pada kalimat-Nya itu. Dan yang demikian itu keuntungan yang besar bagi mereka, karena apa yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah. Dan hal itu Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah telah menurunkan kebenaran dengan Kitab (Al Qur’an), dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam (pengetahuan) Al Kitab, tentu mereka dalam perpecahan (agama) yang jauh (dari kebenaran yang telah Allah turunkan dengan Al Qur’an). (Q.S.2: 176).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, sesungguhnya Wali- Wali Allah memperoleh keuntungan yang besar itu, karena sesungguhnya Allah telah menurunkan kebenaran dengan Kitab Al Qur’an, dan mereka yakin akan kebenaran perkataan Allah yang Allah katakan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, bahwa tidaklah Allah mengatakan sesuatu yang tertulis dalam Al Qur’an kecuali benar, dan pahala yang Allah janjikan kepada mereka itu adalah benar yang sedikitpun tidak ada perobahan segala sesuatunya kecuali sama seperti apa yang telah Allah terangkan kepada mereka pada kalimat-Nya, maka dengan adanya keyakinan mereka itu, sehingga apa yang Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, mereka kerjakan dengan tidak ada kekhawatiran atau keraguan dalam mengerjakan perintah-Nya, maka mereka itulah yang mendapat kesudahan yang baik disisi Allah dan mereka itulah yang memperoleh keuntungan yang besar.

Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam pengetahuan Kitab Al Qur’an, tentu mereka dalam perpecahan agama yang jauh dari kebenaran yang telah Allah turunkan dengan Al Qur’an, adapun yang demikian itu karena tidak ada orang yang masuk Islam melainkan pengetahuannya itu dari Allah yang Allah terangkan kepadanya dengan melalui Al Qur’an, dan Allah tidak akan merobah suatu ayat yang telah Allah tetapkan dalam Al Qur’an, supaya kita tidak ada keraguan apabila kita hendak mengerjakan segala perintah-Nya, dan sepaya kita tidak berselisih pengetahuan sesudah kita membaca Kitab-Nya, dan tidaklah kita masuk Islam melainkan kita telah menta’ati panggilan Allah yang menyeru kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam seluruhnya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S.2: 208).

Maka jika kamu tergelincir (dari jalan petunjuk Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti (kebenaran), maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.2: 209).

Itulah seruan Allah yang memanggil kita agar kita masuk Islam seluruhnya, dan supaya kita tidak mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan itu hanya menuruti kemauannya sendiri yang tidak mau memperdulikan kepada aturan Allah untuk kehidupannya di dunia dan di akhirat nanti, maka janganlah kita mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kita.

Dan jika Allah yang memanggil kita agar kita masuk Islam, maka yang demikian itu tidak ada yang memasukan kita kedalam Islam kecuali Allah sendiri yang telah memanggil kita dengan ayat-Nya itu, maka bagaimana kita akan berselisih pengetahuan sesudah kita sama-sama membacanya, kecuali kita dalam perpecahan agama atau kita dalam perpecahan keta’atan yang masing-masing jauh dari menta’ati perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan jika demikian tentu tidaklah kita mengerjakan sesuatu, melainkan itu hanya menta’ati keinginan hawa nafsu kita sendiri bukan menta’ati perintah Allah, adapun yang demikian itu karena tidaklah mungkin kita akan berselisih pengetahuan jika kita sama-sama menta’ati perintah Allah yang diperintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena tidaklah kita mengerjakan perintah Allah melainkan itu sesudah kita membaca ayat-ayat-Nya atau mendengarnya, dan tidaklah Allah menjanjikan pahala kepada kita, melainkan pahala itu akan diberikan kepada kita menurut amal kita masing-masing atas apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya, dan yang demikian itu supaya kita tidak berselisih pengetahuan dalam mengerjakan perintah-Nya.

Maka janganlah kita berselisih pengetahuan dalam mengerjakan perintah Allah, jika apa yang telah kita kerjakan itu benar dari perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan jika kita telah tergelincir dari jalan petunjuk Allah sesudah datang kepada kita bukti-bukti kebenaran dari sisi-Nya, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, apabila kita mau bertaubat kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Dan tidaklah kita masuk Islam melainkan itu menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at, tunduk, patuh kepada perintah-Nya. Adapun yang disebut ta’at kepada Allah, yaitu apa saja yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, kita kerjakan, dan yang disebut tunduk kepada Allah, yaitu kita tidak membantah perintah Allah walaupun kita mempunyai alasan, dan yang disebut patuh kepada Allah, yaitu tidak ada yang kita kerjakan kecuali perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Akan tetapi yang demikian itu tidak ada paksaan bagi kita dalam agama atau dalam keta’atan, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Tidak ada paksaan dalam agama (atau dalam keta’atan). Sungguh telah jelas jalan yang benar (keta’atannya kepada Allah) dari jalan yang tersesat, maka barang siapa yang mengingkari (keta’atannya) kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kokoh yang tidak akan putus baginya (dari dunia sampai akhirat). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (kepada siapa ia beriman dengan menta’ati perintahnya itu). (Q.S.2: 256).

Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya terang. Dan Thoghut pelindung orang-orang kafir yang mengeluarkan mereka dari cahaya terang kepada kegelapan, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. (Q.S.2: 257).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa tidak ada paksaan bagi kita dalam agama atau dalam keta’atan, karena sungguh telah jelas jalan yang benar keta’atannya kepada Allah dari jalan yang tersesat, adapun yang benar keta’atannya kepada Allah, yaitu tidaklah ia mengerjakan sesuatu melainkan itu dari perintah Allah yang Allah perintahkan kepadanya dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka barang siapa yang mengingkari keta’atannya kepada Thoghut dan beriman kepada Allah dengan menta’ati perintah-Nya, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kokoh yang tidak akan putus baginya dari dunia sampai akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui kepada siapa ia beriman dengan menta’ati perintahnya itu.

Ingat ! Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya terang, sehingga mereka mengetahui perintah Allah yang Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, sesudah mereka tidak mengetahui. Dan Thoghut pelindung orang-orang yang mengingkari perintah Allah, karena Thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya terang kepada kegelapan, sehingga mereka tidak mengetahui perintah Allah yang diperintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, sesudah mereka mengetahui, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Maka itu semoga Allah memberi Hikmah kepada kita sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dia-lah yang memberi Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang mengambil pengajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S.2: 269).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang mengambil pengajaran dari apa yang Allah ajarkan dengan Al Qur’an kecuali orang-orang yang mempunyai akal. Maka itu mari kita pelajari apa yang Allah ajarkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita diberi hikmah sebagai penjelasan dari padanya, karena tidaklah mungkin akan menjadi kenyataan apa yang Allah ajarkan kepada kita, jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, dan janganlah dalam mempelajarinya itu kita mendebat tentang keta’atan kita kepada perintah Allah, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Maka jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah : “ Aku telah menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikuti aku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : “ Apakah kamu telah masuk Islam ? ” maka jika mereka telah masuk Islam, maka tentu mereka telah mendapat petunjuk(nya), dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (amanat Allah), dan Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya. (Q.S.3: 20).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu jika kita dalam mempelajari ayat-ayat Allah ada yang mendebat tentang keta’atan kita kepada perintah Allah, maka katakanlah : “ Sesungguhnya aku telah masuk Islam atau aku telah menyerahkan diriku kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, dan demikian pula orang-orang yang mengikuti aku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : “ Apakah kamu telah masuk Islam menyerahkan dirimu kepada Allah ? ” maka jika mereka telah masuk Islam menyerahkan diri mereka kepada Allah, maka tentu mereka telah mendapat petunjuk untuk menyerahkan diri mereka kepada Allah, dan jika mereka berpaling, maka sungguh kewajiban kita hanya menyampaikan amanat Allah, dan Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya yang menyampaikan amanat-Nya. Adapun yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

(Al Qur’an) ini penerangan bagi manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa (kepada Allah mengerjakan perintah-Nya). (Q.S.3: 138).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka jika kita telah Islam menyerahkan diri kita kepada Allah, maka tentu kita telah mendapat petunjuk Allah untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya, yaitu atas apa yang telah Allah ajarkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Maka barang siapa yang Allah menghendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, (niscaya) Allah melapangkan dadanya (dengan meluaskan pengetahuannya) untuk Islam. Dan barang siapa yang Allah menghendaki untuk menyesatkannya, (niscaya) Allah menjadikan dadanya sempit lagi kesukaran seakan-akan ia mendaki tangga ke langit. Seperti demikianlah Allah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. 6 : 125).

Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus, sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada kaum yang memperhatikan (petunjuk Kami). (Q.S. 6 : 126).

Bagi mereka telah (disediakan sorga) Darus Salam (rumah perdamaian) disisi Tuhannya, dan Dia Pelindung mereka karena apa yang mereka kerjakan. (Q.S. 6 : 127).
Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa barang siapa yang Allah menghendaki untuk memberi petunjuk kepada kita, niscaya Allah melapangkan dada kita dengan meluaskan pengetahuan kita untuk Islam, yaitu petunjuk untuk menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Dan barang siapa yang Allah menghendaki untuk menyesatkan kita, niscaya Allah menjadikan dada kita kesempitan dan kesukaran untuk menyerahkan diri kita kepada Allah, seakan-akan kita mendaki tangga ke langit. Seperti demikian itu karena Allah telah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman, sehingga mereka mengatakan Islam yang mereka sendiri tidak mengetahui.
Dan Al Qur’an ini sebagai jalan petunjuk Allah yang lurus, sesungguhnya Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaum yang memperhatikan petunjuk-Nya. Bagi mereka telah disediakan sorga Darus Salam, yaitu rumah perdamaian disisi Tuhannya, dan Allah Pelindung mereka karena apa yang telah mereka kerjakan dari keta’atan mereka kepada perintah Allah. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, agar Allah melindungi kita dari azab-Nya yang diancamkan kepada orang-orang kafir.
Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka siapakah yang akan melindungi miliknya jika bukan pemiliknya ? Sungguh tidak ada yang hak untuk melindungi miliknya kecuali pemiliknya. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah agar Allah melindungi kita, dan bukankah kita ini milik Allah ? Ya benar, akan tetapi Allah tidak akan melindungi kita, jika kita kafir kepada Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya.

Maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya,supaya Allah melindungi kita dari azab-Nya yang diancamkan kepada orang-orang kafir, dan mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya dalam Al Qur’an, supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan benar, sebagaimana yang Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu. Sebagai contoh, apabila Allah menyuruh kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S.26:214).

Maka yang demikian itu janganlah kita mengira, bahwa Allah bukan menyuruh kita melainkan Allah menyuruh orang-orang dahulu, karena jika kita mengira demikian berarti kita telah menjadikan Al Qur’an dongeng orang-orang dahulu, bukan petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka jika kita sedang mempelajari ayat-ayat Allah dan kita telah membenarkan bahwa yang demikian itu Allah menyuruh kita dengan melalui ayat-Nya, maka kerjakanlah oleh kita perintah-Nya itu, kemudian berilah peringatan kerabat-kerabat kita yang terdekat supaya mereka ingat akan kehidupan mereka diakhirat nanti, dan supaya mereka dapat memperhitungkan amal perbuatan mereka atas apa yang telah mereka kerjakan didunia, karena tidaklah Allah akan memberi pahala kepada mereka kecuali itu sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah, dan Allah tidak akan merobah janji-Nya atas apa yang telah Allah janjikan kepada mereka pada kalimat-Nya, adapun yang demikian itu supaya mereka dapat memperhitungkan amal perbuatan mereka di dunia ini, dan supaya mereka tidak ada keraguan dalam mengerjakan perintah Allah. Dan jika kita ada kelapangan dalam mengerjakan perintah Allah, maka Allah menyuruh kita dengan ayat-Nya supaya kita menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan keseluruh manusia, yang firman-Nya :

Dan tidaklah Kami mengutus kamu kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan ke seluruh manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(Q.S.34:28).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita membawa kabar gembira dan memberi peringatan keseluruh manusia, karena kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan jika kita berpendapat bahwa yang demikian itu Allah menyuruh Rosul-Nya bukan menyuruh kita.” Maka ingatlah akan firman Allah yang menerangkan kepada kita, bahwa Rosul-Rosul-Nya itu sebagai contoh suri tauladan yang baik bagi kita untuk mengerjakan segala perintah-Nya, agar apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu baik sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rosul-Rosul-Nya. Maka jika kita benar-benar mau mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, maka patutlah kita mencontoh amal perbuatan Rosul-Rosul-Nya dengan mengerjakan apa yang telah dikerjakan oleh Rosul-Rosul-Nya, jika kita membenarkan bahwa Rosul-Rosul-Nya itu sebagai contoh suri tauladan yang baik bagi kita untuk mengerjakan perintah Allah. Dan janganlah kita mengambil contoh perbuatan yang buruk dalam mengerjakan perintah-Nya itu, karena yang demikian itu niscaya kita mendapat catatan amal yang buruk dalam mempelajari ayat-ayat-Nya itu, dan yang demikian itu hanya bagi orang-orang yang mengikuti pengajaran Al Qur’an, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Sesungguhnya kamu hanya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang mengikuti pengajaran (Al Qur’an), dan dia takut kepada (Tuhan) Yang Maha Pemurah (walaupun) tidak kelihatan. Maka berilah dia kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. 36 : 11).

Maka itu perkenankanlah kami untuk menyampaikan amanat Allah dengan membawa kabar gembira dan memberi peringatan dan mengabarkan tentang “ Kebenaran Al Qur’an “, mudah-mudahan menambah keyakinan kita dalam mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena sungguh tidak ada yang memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan segala perintah Allah kecuali Allah sendiri yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, yang firman-Nya :

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alif Lam Mim.(Q.S.2:1).

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan didalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah mengerjakan segala perintah-Nya). (Q.S.2:2).

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mereka mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. (Q.S.2:3).

Dan (mereka) orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang di turunkan kepadamu, dan kepada kitab-kitab yang di turunkan sebelummu, dan mereka yakin pada (kehidupan) hari akhirat. (Q.S.2:4).

Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah yang beruntung. (Q.S.2:5).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa Al Qur’an tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Yaitu untuk kita yang beriman kepada yang gaib yang tidak kelihatan oleh penglihatan kita, dan Al Qur’an itu sebagai petunjuk untuk mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Allah berikan kepada kita, agar kita beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Apabila kita beriman kepada Kitab Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang turun-temurun sampai kepada kita, dan demikian pula kepada kitab-kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya, dan kita yakin akan kehidupan akhirat sebagaimana keyakinan kita terhadap kehidupan dunia yang telah Allah ciptakan untuk kehidupan kita sekarang ini. Yaitu sebagaimana keyakinan orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Tuhannya yang mereka telah beruntung di sisi Allah.

Dan demikian pula kita, apabila kita mau mengambil Al Qur’an sebagai petunjuk untuk bertakwa kepada Allah, atau kita mau menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dari sisi Allah, dan tentu kita termasuk orang-orang yang beruntung, jika kita mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu.

Adapun yang demikian itu karena Al Qur’an tidak ada keraguan bagi kita sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah, dan jika kita keraguan maka Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan jika kamu keraguan terhadap (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah seperti (yang telah Kami terangkan dalam Al Qur’an), dan panggilah saksi-saksimu (sebagai penolongmu) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S.2:23).

Maka jika kamu tidak (dapat ) membuatnya, dan pasti kamu tidak akan( dapat ) membuatnya, maka peliharalah dirimu dari (siksaan) api neraka yang bahan bakarnya dari diri manusia dan batu-batu yang di sediakan bagi orang-orang yang mengingkarinya. (Q.S.2:24).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, jika kita keraguan terhadap Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada hamba-Nya Nabi besar Muhammad SAW, maka buatlah satu surah seperti yang telah Allah terangkan kepada kita dalam Al Qur’an, yaitu tidaklah Allah menerangkan kekuasaan-Nya kepada kita apa yang telah Dia ciptakan dilangit dan dibumi dan apa yang ada diantara keduanya kecuali benar, maka jika kita dapat membuat satu surat pernyataan, sebagaimana surat pernyataan kekuasaan Allah yang telah Allah terangkan kepada kita dengan Al Qur’an, maka buatlah oleh kita surat pernyataan kekuasaan kita itu, dan panggilah saksi-saksi kita sebagai penolong kita selain Allah, yaitu yang menyaksikan atas kekuasan kita yang kita buat dalam surat pernyataan kekuasaan kita itu, jika kita benar orang-orang yang mempunyai kekuasaan.

Dan jika kita berpendapat bahwa kita ini dapat membuat sesuatu, maka siapakah yang menjadikan kita dapat membuat sesuatu itu ? Tidak ada yang menjadikan kita dapat membuat sesuatu bukan ! Kecuali Allah. Maka jika demikian tentu kita tidak dapat membuat surat pernyataan dari kekuasaan kita itu, dan pasti kita tidak akan dapat membuatnya, karena semua kekuasaan yang ada pada diri kita ini kepunyaan Allah, maka peliharalah diri kita dari siksaan api neraka yang bahan bakarnya dari diri manusia dan batu-batu yang di sediakan bagi orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya. Maka berimanlah kita kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berimanlah kamu kepada (Al Qur’an) yang telah Aku turunkan untuk membenarkan apa yang telah ada bersamamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, dan jangan (pula) kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan nilai yang rendah, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa (mengerjakan perintah-Ku). (Q.S.2:41).

Dan janganlah kamu campur-adukan yang hak dengan yang batil, dan jangan (pula) kamu sembunyikan yang hak sedang kamu mengetahui. (Q.S.2:42).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita beriman kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya, untuk membenarkan apa yang telah ada bersama kita yang kita telah kerjakan dari perintah Allah, dan janganlah kita menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, karena kita tidak percaya kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah yang telah ada bersama kita yang kita telah kerjakan itu, dan jangan pula kita menukarkan ayat-ayat Allah dengan nilai yang rendah, yaitu seakan-akan kita mengira bahwa mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu lebih rendah dari pada kita mengerjakan yang lainnya, sehingga kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, dan kepada Allah-lah kita harus bertakwa dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan janganlah kita campur-adukan yang hak dengan yang batil, yaitu seakan-akan kita mempersamakan petunjuk Allah yang hak dengan petunjuk yang lain, karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, kecuali Allah sendiri, maka jika Allah tidak memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya, niscaya kita kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya itu, maka janganlah kita mempersamakan petunjuk Allah dengan petunjuk yang lain, dan jangan pula kita menyembunyikan petunjuk Allah yang hak untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu. sedang kita mengetahui bahwa tidak ada yang hak untuk memberi petunjuk kepada kita dalam mengerjakan perintah Allah kecuali Allah sendiri. Maka janganlah kita mengingkari Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu, sebagaimana orang-orang dahulu yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ Berimanlah kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan.” Berkatalah mereka : “ Kami hanya beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami.” Dan mereka mengingkari Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al Qur’an (Kitab) yang hak untuk membenarkan apa yang telah ada bersama mereka, katakanlah : “ Mengapa dahulu kamu membunuh Nabi-nabi Allah, jika kamu orang-orang yang beriman ? “(Q.S.2: 91).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, apabila dikatakan kepada mereka : “ Berimanlah kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya.” Berkatalah mereka : “ Kami hanya beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami sebelumnya.” Adapun yang demikian itu karena mereka hanya percaya kepada pengetahuan mereka yang telah mereka ketahui, sebelum mereka mengetahui Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan mereka mengingkari Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al Qur’an Kitab yang hak untuk membenarkan apa yang telah ada bersama mereka yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah, maka mengapa dahulu mereka membunuh Nabi-nabi Allah yang menjadi contoh suri tauladan yang baik bagi mereka dalam mengerjakan perintah Allah, atau mengapa mereka menghilangkan contoh yang baik dengan tidak mau mencontoh apa yang telah dikerjakan oleh Nabi-Nabi dalam mengerjakan perintah-Nya itu, jika mereka beriman kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. “

Maka janganlah kita ragu-ragu terhadap kebenaran Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Q.S.2:147).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa kebenaran itu dari Allah, maka sekali-kali janganlah kita termasuk orang-orang yang ragu-ragu terhadap kebenaran Al Qur’an, apabila kita hendak mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu, karena sungguh tidaklah Allah menurunkan Al Qur’an, melainkan itu sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alif Lam Mim. (Q.S.3:1).

Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang berdiri Hidup (dengan kehendak Dia sendiri). (Q.S.3: 2).

Dia telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan benar, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada diantara kedua tangannya, dan Dia telah menurunkan Taurat dan Injil. (Q.S.3: 3).

Dari sebelum (Al Qur’an) menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia telah menurunkan Al Furqon (sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah bagi mereka siksa yang berat, dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan siksa. (Q.S.3: 4).

Sesungguhnya (bagi) Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi atas-Nya di bumi dan di langit. (Q.S.3: 5).

Dia-lah Yang membentuk (rupa tubuh)mu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki, (sungguh) tidak ada Tuhan (yang kuasa membentuk rupa tubuhmu) kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.3: 6).

Dia-lah Yang menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu, yang diantara (isi) nya itu ada ayat-ayat muhkamat (yang jelas maksudnya), itulah pokok isi Al Kitab, dan yang lain(nya ayat-ayat) mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Maka adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang dari padanya itu mereka mengharapkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya (atau penjelasannya), padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan berkatalah orang-orang yang memperdalam ilmu : “ Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, (karena) semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak ada yang mengambil pengajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S.3: 7).

(Berdo’alah mereka) : “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (rahmat).” (Q.S.3: 8).

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya untuk (menerima balasan dari perhitungan amalnya)”. (Ingat !) Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji. (Q.S.3: 9).

Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda mereka dan anak-anak mereka tidak dapat menolak (azab) Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka akan (menjadi) bahan bakar api neraka. (Q.S.3: 10).

(Keadaan mereka itu sama) seperti keadaan keluarga Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka, dan Allah sangat keras siksa-(Nya). (Q.S.3: 11).

Katakanlah kepada orang-orang kafir : “ Kamu pasti akan dikalahkan dan kamu akan digiring ke dalam neraka jahannam, dan itu tempat yang seburuk-buruknya ”. (Q.S.3: 12).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, dan Allah mempersaksikan kepada kita, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang berdiri Hidup dengan kehendak Dia sendiri, yaitu bahwa Allah tidak ada yang menciptakan dan tidak pula ada yang menghidupkan melainkan Allah berdiri hidup atas kehendak Dia sendiri.

Dan Allah telah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada Rosul-Nya dengan benar, untuk membenarkan kitab-kitab yang ada diantara kedua tangannya yang telah menjadi pegangannya. Dan yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Taurat dan Injil dari sebelum Al Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia telah menurunkan Al Furqon sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil, adapun yang hak untuk memberi petunjuk kepada kita dalam mengerjakan perintah Allah, maka itu Allah sendiri yang Allah tunjukan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan yang lainnya batil, karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam mengerjakan perintah-Nya kecuali Allah sendiri.

Dan sesungguhnya orang-orang yang mengingkari petunjuk Allah yang Allah tunjukan kepada mereka dengan ayat-ayat-Nya bagi mereka siksa yang berat, dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan siksa. Dan sesungguhnya bagi Allah tidak ada yang tersembunyi atas-Nya di langit dan di bumi, dan jika kita menyembunyikan keingkaran kita kepada Allah, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan dalam hati kita.

Dan Dia telah membentuk rupa tubuh kita dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki, yaitu sebagaimana bentuk rupa yang telah nyata pada tubuh kita ini, dan yang demikian itu tidak ada Tuhan yang kuasa membentuk rupa tubuh kita kecuali Allah sendiri Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maka Allah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada Rosul-Nya agar disampaikan kepada kita, yang diantara isi nya itu ada ayat-ayat muhkamat yang jelas maksudnya, dan yang demikian itu pokok isi Al Kitab yang Allah terangkan kepada kita, baik petunjuk-Nya, perintah-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, dan yang lainnya ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung beberapa pengertian bagi orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah.

Maka adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka lebih menyukai tidak mengetahui petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, dari pada mereka mengetahui petunjuk Allah yang Allah jelaskan kepada mereka dengan melalui Al Qur’an. Maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang dari padanya itu mereka mengharapkan fitnah, untuk suatu tuduhan yang tidak benar terhadap orang apabila orang itu mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepadanya dengan melalui Al Qur’an, dan mereka mencari-cari ta’wilnya atau penjelasannya sesudah Allah memberikan ayat-ayat yang jelas maksudnya, yaitu seakan mereka tidak cukup dari penjelasan Allah yang telah menjelaskan ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wil atau penjelasannya kecuali Allah sendiri.

Maka orang-orang yang memperdalam ilmunya mereka berkata : “ Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, karena semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Adapun yang demikian itu karena mereka selalu mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Dan tidak ada yang mengambil pengajaran dari ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang mempunyai akal.

Maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita mendapat penjelasan dengan apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, karena Allah tidaklah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kita, melainkan penjelasannya itu Allah jelaskan kepada kita, dengan pengetahuan yang Allah ketahui dari perbuatan kita yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, agar kita mengetahui mana yang salah dan mana yang benar dalam mengerjakan perintah-Nya itu, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang kita kerjakan.

Dan bagaimana kita akan mendapat penjelasan dari sisi Allah, jika kita tidak mau mengerjakan perintah-Nya, maka apakah kita ingin penjelasan yang jauh yang Allah terangkan kepada kita dengan menceritakan perbuatan orang-orang dahulu ? Tidak mungkin bukan ! Karena yang demikian itu samar bagi kita, seakan-akan kita hanya sebagai penontonnya saja atau pendengarnya, maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, agar kita mendapat penjelasan yang dekat dengan melihat perbuatan kita sendiri yang Allah jelaskan kepada kita dengan pengetahuan yang Allah ketahui dari perbuatan kita.

Dan sebelumnya mari kita berdo’a kepada Allah sebagaimana orang-orang yang memperdalam ilmu yang telah mempelajari ayat-ayat-Nya : “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.” Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya untuk menerima balasan dari perhitungan amalnya”.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji atas apa yang Allah janjikan pada hari yang tidak ada keraguan itu, maka perhitungkanlah amal perbuatan kita sekarang ini, sebelum amal kita diperhitungkan nanti. Maka apakah benar perintah Allah yang kita kerjakan itu mengikuti petunjuk-Nya sebagaimana yang Allah tunjukkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian.

Sesungguhnya orang-orang kafir yang tidak percaya kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya itu, harta benda mereka dan anak-anak mereka itu tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka akan menjadi bahan bakar api neraka. Keadaan mereka itu sama seperti keadaan keluarga Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka, dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Katakanlah kepada orang-orang kafir : “ Kamu pasti akan dikalahkan dan kamu akan digiring ke dalam neraka jahannam, dan itu yang seburuk-buruknya tempat menetap bagi orang-orang kafir. Adapun yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, dan mereka tidak percaya kepada Allah, bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka keadaan mereka itu sama seperti keadaan keluarga Fir’aun, yang hanya menuruti keinginan hawa nafsu mereka sendiri, dan mereka tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, yaitu seperti orang yang menjadikan Tuhannya kepada hawa nafsunya yang Allah tanyakan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, yang firman-Nya :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menjadikan tuhannya kepada hawa nafsunya, maka apakah kamu akan menjadi pemeliharanya ? (Q.S.25: 43).

Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahaminya ? Tidaklah lain mereka itu kecuali seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat jalannya. (Q.S.25: 44).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya yang demikian itu Allah bertanya kepada kita :” Apakah kita tidak memperhatikan orang yang menjadikan tuhannya kepada hawa nafsunya, yaitu orang yang menta’ati keinginan hawa nafsunya sendiri, dan ia tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, maka apakah kita akan memelihara perbuatan yang demikian itu seakan-akan kita menjadikan Tuhan kepada hawa nafsu kita sendiri ?

Apakah kita mengira bahwa kebanyakan orang-orang kafir itu mendengar apa yang Allah bicarakan kepada mereka dengan ayat-ayat-Nya atau memahaminya ? Tidaklah lain mereka itu kecuali seperti binatang ternak yang apabila binatang itu diajak bicara, maka ia tidak memahaminya, bahkan orang-orang kafir itu lebih tersesat jalannya dari pada binatang ternak, karena binatang itu kadang-kadang dapat diperintah dan dicegah oleh pemiliknya.

Maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan mari kita jauhi cegahan-Nya, supaya kita tidak seperti orang-orang kafir, dan apabila kita telah berdo’a kepada Allah atas do’a yang telah Allah ajarkan kepada kita, maka itu perhatikanlah oleh kita sehingga kita memahaminya dan mengikutinya dengan benar, yaitu tidaklah kita memohon kepada Allah dengan mengucapkan : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.”

Maka sesudah itu bagaimana, apakah benar keinginan kita ini sama seperti apa yang kita mohon kepada Allah ketika kita mengucapkannya itu ? Adapun yang demikian itu karena Allah bertanya kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Apakah kamu tidak memperhatikan kepada orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab ? mereka membeli (memilih) kesesatan (sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka), dan mereka menghendaki supaya kamu tersesat jalan (dari jalan petunjuk Allah). (Q.S.4: 44).

Itulah pertanyaan Allah kepada kita sesudah kita memohon kepada-Nya :” Maka apakah kita tidak memperhatikan kepada orang-orang yang telah diberi bagian dari Al Kitab ? Mereka memilih kesesatan sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka untuk mengerjakan perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena hati mereka lebih condong kepada kesesatan dari pada mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, padahal Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya, akan tetapi mereka tetap saja tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, maka yang demikian itu tidaklah mereka berbuat demikian melainkan mereka telah memilih kesesatan dari pada mereka memilih petunjuk Allah untuk mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu karena mereka hendak menyesatkan kita dari jalan petunjuk Allah, apabila kita ikut mengerjakan perintah Allah bersama mereka, dan sungguh seandainya mereka tidak akan menyesatkan kita dari jalan petunjuk Allah yang telah Allah berikan kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya, tentu mereka tidak memilih kesesatan dan tentu mereka mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu. Maka apakah kita akan seperti mereka sesudah Allah memberikan Al Qur’an kepada kita sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya itu ? Dan yang demikian itu Allah bertanya kepada kita dengan melalui ayat-Nya, yang firman-Nya :

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? dan jika (Al Qur’an) bukan dari sisi Allah, tentulah didalamnya itu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak. (Q.S.4: 82).

Itulah pertanyaan Allah kepada kita, apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? dan jika Al Qur’an bukan dari sisi Allah, tentulah didalamnya itu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak, yaitu banyak mendapati keterangan-keterangan yang tidak benar yang menyimpang dari kebenaran yang telah ada bersama mereka, sehingga keterangan-keterangan itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama mereka.

Maka bagaimana, apakah keterangan-keterangan yang Allah terangkan kepada kita itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita ? Baik Allah menerangkan ciptaan-Nya kepada kita, yaitu langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, baik Allah menerangkan pemberian-Nya kepada kita, yaitu petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya dan rizki yang telah Allah ciptakan untuk makanan kita, baik Allah menerangkan kejelekan kita dalam mengerjakan perintah-Nya, dan baik pula Allah menerangkan yang lainnya. Maka apakah itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita ? Tidak bukan ! Karena kita menyaksikan kebenarannya atas apa yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu.

Maka bagaimana, apakah kita akan memilih kesesatan yang tidak ada kebenarannya disisi Allah dan disisi kita ? Atau apakah kita akan mengerjakan sesuatu yang tidak dibenarkan Allah dan tidak pula dibenarkan oleh kebenaran yang telah ada bersama kita ? Atau apakah kita akan memilih kesesatan dalam mengerjakan perintah Allah sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya itu ? Tidak mungkin bukan !, karena kita telah memohon kepada Allah, supaya Allah tidak menjadikan hati kita condong kepada kesesatan sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang diberi rahmat Allah, jika kita mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya. Dan yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan (membawa) kebenaran, supaya kamu mengadili diantara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang untuk (membela) orang-orang yang berkhianat. (Q.S.4:105).

Dan mohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:106).

Dan jangan (pula) kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang telah mengkhianati diri mereka sendiri, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa. (Q.S.4:107).

Mereka bersembunyi dari manusia, padahal mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, dan pada suatu malam Allah beserta mereka ketika mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak di ridhai Allah. Dan (pengetahuan) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Q.S.4:108).

Beginilah keadaanmu, (tidaklah) kamu berdebat (melainkan itu hanya membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, maka pada hari kiamat siapakah yang akan mendebat Allah (untuk membela) mereka ? Atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka (dari azab Allah) ? (Q.S.4: 109).

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapat (ampunan) Allah, (sesungguhnya Allah) Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:110).

Dan barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan (dosa) untuk dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:111).

Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian ia melemparkannya dengan (menuduh) orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. (Q.S.4:112).

Dan sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya segolongan dari mereka itu akan menyesatkan kamu, dan tidaklah mereka menyesatkan melainkan mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan sedikitpun mereka tidak dapat memberi madharot kepadamu. Dan (yang demikian itu karena) Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadamu, dan Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak mengetahui, dan itu amat besar karunia Allah atasmu. (Q.S.4:113).

Tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan mereka, kecuali (bisikan) orang yang menyuruh sedekah, atau mengerjakan kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi pahala yang besar kepadanya. (Q.S.4:114).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, sesungguhnya tidaklah kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, melainkan itu sesudah Allah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada kita dengan membawa kebenaran, supaya kita mengadili diantara perbuatan manusia dalam mengerjakan perintah Allah dengan kebenaran yang telah Allah wahyukan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, adapun yang demikian itu karena tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, melainkan mereka supaya mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala cegahan-Nya, dan janganlah kita menjadi penentang kebenaran untuk membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, yaitu membela orang-orang yang telah menyembunyikan kebenaran Al Qur’an yang didalamnya keterangan-keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah, dan tidaklah mereka menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk Allah, melainkan mereka tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu, sesudah mereka membacanya dalam Al Qur’an.

Dan seandainya kita telah berdebat membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, maka mohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan jangan pula kita berdebat untuk membela orang-orang yang telah menghianati diri mereka sendiri, yaitu membela orang-orang yang telah menghianati perintah Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, setelah hati mereka menyanggupi untuk mengerjakan perintah Allah, kemudian sesudah itu mereka mengganti perintah Allah dengan mengerjakan selain yang telah diperintahkan Allah kepada mereka, padahal Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan perintah-Nya, maka yang demikian itu mereka telah menghianati diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa.

Mereka bersembunyi dari manusia, padahal mereka tidak dapat bersembunyi dari pengetahuan Allah yang selalu mengawasi perbuatan mereka, dan pada suatu malam Allah beserta mereka, ketika mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak di ridhai Allah, yaitu menetapkan suatu urusan dari selain yang telah diperintahkan Allah kepada mereka, sesudah mereka mengambil keputusan dalam hatinya untuk mengerjakan perintah Allah. Dan pengetahuan Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Maka itu janganlah kita berdebat untuk membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, karena tidaklah kita berdebat melainkan itu hanya membela mereka dalam kehidupan dunia ini, maka pada hari kiamat siapakah diantara kita yang akan mendebat Allah untuk membela orang-orang yang berhianat itu ? Atau siapakah diantara kita yang akan menjadi pelindung mereka dari azab Allah ?

Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kejahatan, atau kita telah berhianat kepada Allah dalam urusan agama kita, atau dalam keta’atan kita kepada perintah Allah sesudah kita memeluk agama Islam, atau sesudah kita menyerahkan diri kepada Allah dengan tujuan hendak ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, kemudian sesudah itu kita berkhianat kepada Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, atau kita menganiaya diri kita sendiri dengan tidak mau mengerjakan perintah Allah, atau kita menipu diri kita sendiri sesudah kita mengaku Islam, padahal kita tidak menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Kemudian sesudah itu kita mohon ampunan kepada Allah, niscaya kita mendapat ampunan Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan dosa hanya untuk dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian ia melemparkannya dengan menuduh orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.

Dan sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kita, niscaya segolongan dari orang-orang yang telah berhianat itu akan menyesatkan kita, akan tetapi tidaklah mereka menyesatkan melainkan mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan sedikitpun mereka tidak dapat memberi madharot kepada kita. Dan yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepada kita, dan Dia telah mengajar kita apa yang kita tidak mengetahui, dan itu amat besar karunia Allah yang dilimpahkan atas kita, jika kita orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, karena tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan orang-orang yang berhianat, kecuali bisikan orang yang menyuruh sedekah, atau mengerjakan kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa diantara kita ada yang berbuat demikian karena mencari ke ridhaan Allah, maka kelak Allah akan memberi pahala yang besar kepadanya, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Kami masukkan mereka ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada (perkataan) Allah ? (Q.S.4:122).

(Pahala dari sisi Allah) bukan menurut angan-angan kosongmu dan bukan (pula) menurut angan-angan kosong Ahli Kitab. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas dengan (kejahatan), dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Allah. (Q.S.4:123).

Dan barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia orang-orang yang beriman, maka mereka itulah yang masuk sorga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. (Q.S.4:124).

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia orang yang mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya . (Q.S.4:125).

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan (pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu. (Q.S.4:126).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu jika kita beriman kepada Allah dan beramal sholeh menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, dan mengerjakan segala perintah-Nya, maka kelak Allah akan memasukkan kita ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, kita kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada perkataan Allah ?

Maka itu mari kita kerjakan segala perintah-Nya, karena pahala dari sisi Allah bukan menurut angan-angan kosong kita dan bukan pula menurut angan-angan kosong Ahli Kitab. Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas dengan kejahatan, dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Allah. Dan barang siapa diantara kita ada yang beramal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat, maka mereka itulah yang masuk sorga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Dan siapakah diantara kita yang lebih baik agamanya atau keta’atannya dari pada orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah Allah, dan dia orang yang mengerjakan kebaikan dan mengikuti keta’atan Nabi Ibrahim yang lurus kepada Allah dengan tunduk patuh kepada perintah-Nya ? Dan Allah telah mengambil Nabi Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Maka apabila kita telah menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, niscaya Allah mengetahui apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu, dan yang demikian itu Allah menyuruh kita dan berwasiat kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan jangan kamu mati kecuali kamu telah menyerahkan diri (kepada Allah). (Q.S.3:102).

Itulah yang diperingatkan Allah kepada kita, supaya kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, yaitu supaya kita mengerjakan segala perintah Allah dengan sebenar-benarnya mengerjakan perintah-Nya, dan Allah berwasiat kepada kita yang wasiat-Nya, jangan kita mati kecuali kita telah menyerahkan diri kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, maka itu mari kita tunaikan segala perintah-Nya sebelum kita menemui kematian, jika kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat. Dan Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan sesungguhnya Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu dan kepada kamu, supaya kamu bertaqwa kepada Allah. Dan jika kamu mengingkarinya, maka sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan dibumi, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S.4:131).

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (Q.S.4:132).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kita dan kepada kita, supaya kita bertaqwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Dan jika kita mengingkarinya karena kita tidak percaya dan tidak mau mengerjakan perintah Allah, maka sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan dibumi, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Apakah benar langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya itu kepunyaan Allah ? Dan apakah benar kita ini kepunyaan Allah ? Jika benar, apakah salah kalau yang punya menggunakan kepunyaan-Nya, atau Allah menyuruh kita sebagai milik-Nya agar kita mengerjakan segala perintah-Nya ? Tidak ada salahnya bukan ! Karena yang punya itu hak untuk menggunakan kepunyaan-Nya. Dan jika itu benar, maka kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu, karena sungguh apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan cukuplah Allah sebagai pelindung kita, dan siapa lagi yang akan melindungi kita jika bukan Allah yang memiliki kita, dan tidak ada yang melindungi miliknya kecuali pemiliknya. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah, dengan tujuan kita hendak mengabdi kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena Allah telah memberi peringatan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Hai manusia, jika Allah menghendaki, (niscaya) Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan (kaum) yang lain (sebagai pengganti kamu), dan Allah Maha Kuasa atas yang demikian. (Q.S.4:133).

Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (apa yang kamu kerjakan). (Q.S.4:134).

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan karena Allah dengan menjadi saksi (terhadap perbuatan manusia), walaupun itu terhadap (perbuatan) dirimu sendiri, atau terhadap (perbuatan) ibu-bapak(mu) dan kaum kerabat(mu), dan jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui terhadap (perbuatan) keduanya, maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu(mu) supaya kamu dapat berbuat adil. Dan jika kamu memutar balikkan atau kamu menentang, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.4:135).

Wahai orang-orang yang beriman, tetapkanlah imanmu kepada Allah dan Rosul-Nya dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya. Dan barang siapa yang kafir kepada Allah dan kepada Malaikat-Malaikat-Nya dan kepada Kitab-Kitab-Nya dan kepada Rosul-Rosul-Nya dan kepada hari akhirat, maka sesungguhnya ia telah tersesat dengan sejauh-jauhnya tersesat (dari jalan petunjuk Allah). (Q.S.4:136).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian mereka ingkar, kemudian mereka beriman lagi, kemudian mereka ingkar lagi, kemudian mereka bertambah-tambah ingkar, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak memberi petunjuk ke jalan (yang lurus). (Q.S.4:137).

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwasanya mereka akan ditimpa azab yang sangat pedih. (Q.S.4:138).

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pelindung dari selain orang-orang mu’min, apakah mereka akan mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir ? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah. (Q.S.4:139).

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan (peringatan) atasmu dalam Al Qur’an, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari (oleh orang-orang kafir) dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk-duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena jika (kamu berbuat) demikian sesungguhnya kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir dalam neraka jahannam. (Q.S.4:140).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diperingatkan Allah kepada kita, yaitu jika Allah menghendaki niscaya Allah memusnahkan kita dan mendatangkan kaum yang lain sebagai pengganti kita, dan Allah Maha Kuasa untuk memusnahkan kita dan mengganti kita. Adapun yang demikian itu karena kita ini kepunyaan Allah, maka jika kita tidak mau mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, maka Allah berhak untuk memusnahkan kita dan mengganti kita dengan kaum selain kita, karena kita termasuk yang tidak berguna bagi Allah.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita mempunyai sebidang tanah, kemudian tanah kita itu dihuni oleh rumput-rumputan yang tidak berguna bagi kita, maka jika kita menghendaki tentu rumput-rumputan itu kita musnahkan dan kita ganti dengan tanaman yang berguna bagi kita. Dan jika tanaman yang kita tanamkan sebagai pengganti rumput-rumputan itu jelek pertumbuhannya, tidak sebagaimana apa yang kita kehendaki dari padanya, maka kita berhak pula memusnahkannya dan menggantinya dengan tanaman yang lebih baik pertumbuhannya dari padanya, adapun yang demikian itu karena kita pemilik tanah itu, yang berhak untuk memusnahkan apa yang ada ditanah itu dan menggantinya.

Dan demikian pula Allah pemilik langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, maka jika kita tidak berguna bagi Allah karena kita tidak dapat melaksanakan apa yang dikehendaki Allah dari kejadian kita sesudah Allah menciptakan kita, maka jika demikian apa yang Allah katakan itu adalah benar, bahwa Allah akan memusnahkan kita dan mengganti kita dengan kaum yang lain, karena kita termasuk yang tidak berguna bagi Allah, dan yang demikian itu karena Allah tidaklah menciptakan kita melainkan kita supaya mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita menyaksikan kebenarannya dari apa yang Allah katakan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, dan apa yang Allah katakan itu bukan senda gurau, melainkan itu adalah benar, dan apa yang Allah katakan itu benar-benar telah tertulis dalam Kitab-Nya, yang tidaklah mungkin akan dirobah atau dihapus, melainkan itu pasti dilaksanakan, karena janji Allah adalah benar.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah telah menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kebutuhan kita dalam kehidupan dunia ini, yaitu matahari untuk kita berusaha mencari karunia Allah dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, bulan untuk perhitungan hari agar kita mengetahui bilangan bulan dan tahun, air hujan yang Allah turunkan untuk kita minum dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, ikan yang ada di air tawar dan di lautan sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang ada di bumi sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, binatang ternak yang ada di daratan sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, dan banyak pula yang lainnya yang telah Allah ciptakan untuk kebutuhan kita, yang semuanya itu berguna bagi kita. Maka apakah kita ini berguna bagi Allah sehingga Allah menciptakan semua itu hanya semata-mata untuk kebutuhan kita ? Tentu saja berguna bagi Allah bukan ! Jika kita mau mengabdi kepada-Nya. Maka itu mari kita semua mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita berguna bagi Allah.

Dan tidaklah Allah menurunkan Al Qur’an kepada kita, melainkan Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita dan hendak menyempurnakan kejadian kita, supaya kejadian kita sempurna sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari kejadian kita, yaitu tidaklah Allah menciptakan kita melainkan kita supaya mengabdi kepada-Nya, dan belumlah sempurna kejadian kita sebelum kita mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita membuat sesuatu yang berguna bagi kita, kemudian sesuatu yang kita buat itu belum dapat digunakan oleh kita dengan sebagaimana apa yang kita kehendaki dari padanya, maka apakah sesuatu yang kita buat itu sudah sempurna kejadiannya ? Tentu saja kejadiannya itu belum sempurna bukan ! Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kejadian kita ini menjadi jelas apabila kita hendak melihat kejadian kita sendiri, yaitu apakah kejadian kita ini sudah sempurna atau belum ?

Dan jika kejadian kita ini telah sempurna dengan pengabdian kita itu, maka janganlah kita merusak diri kita sendiri dengan melanggar aturan Allah, petunjuk,nasehat dan cegahan-Nya dalam mengerjakan perintah-Nya itu, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan lagi melampaui batas.

Dan jika kita merasa belum sempurna dalam kejadian kita dengan pengabdian kita itu, maka terimalah Al Qur’an sebagai petunjuk untuk pengabdian kita kepada Allah, karena dengan Al Qur’an itu Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita dan hendak menyempurnakan kejadian kita, supaya kita dapat mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, dan Allah telah menyediakan pahala dunia dan pahala akhirat sebagai balasan dalam pengabdian kita atas apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, dan yang demikian itu karena Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita, supaya kita bersyukur kepada-Nya.

Maka barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah telah tersedia pahala dunia, dan barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala akhirat, maka di sisi Allah telah tersedia pahala akhirat, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya, maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Wabillahittaufik wal hidayah,
Wassalaamu’alaikum Wr wb.

Kategori:Al-Quran bag. 1 Tag: