Beranda > Al-Quran bag. 1 > Kebenaran Alquran Bag. 1

Kebenaran Alquran Bag. 1

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bersama ini kami ucapkan salam sejahtera ke seluruh hamba-hamba Allah dimana saja berada, semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Barokah-Nya kepada kita, dan semoga Allah melindungi kita dari gangguan syaitan yang terkutuk, dan semoga Allah menetapkan kasih sayang-Nya kepada kita selama-lamanya. Maka dengan seiring Rahmat dan kasih sayang-Nya itu mari bersama-sama kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan semesta alam. Dan mari kita memohon kepada-Nya :

“ Yaa Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan atasku dan atas kedua orang tuaku, bahwa aku hendak beramal sholeh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.“

“ Yaa Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku (dalam mengerjakan perintah-Mu ini). Dan lepaskanlah (perkataan-Mu) dari tali ikatan lisanku ini, (supaya mereka mengerti terhadap apa yang Engkau bicarakan kepada mereka dengan melalui) perkataanku ini. (Karena sesungguhnya aku hanya menyampaikan perkataan-Mu yang Engkau perintahkan kepadaku). Dan jadikanlah untukku seorang pembantu yang dari keluargaku. (Yaitu) Harun saudaraku (supaya dia membacakan ayat-ayat Engkau kepada mereka). Dan teguhkanlah kekuatanku dengan dia. Dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku ini (supaya aku dan dia sama-sama satu urusan dalam mengerjakan perintah-Mu. Dan) supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau. Dan (supaya) kami banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat terhadap apa yang kami (kerjakan). Maha Suci Engkau yaa Tuhan kami, sesungguhnya tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (dengan melalui Al Qur’an), sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.“

Dan semoga Allah melimpahkan salam hormat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dan kepada para Anbiya, para Utusan-Nya, keluarganya dan kepada sahabatnya sekalian. Amin, amin, amin ya Robbal ‘alamin. Amma Ba’du.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sebelum kami mengemukakan apa yang hendak kami sampaikan kepada saudara-saudara, maka terlebih dahulu kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya atas kelancangan kami ini, yang mana bahwa kami telah lancang mengirimkan surat ini kepangkuan saudara-saudara dengan tanpa kabar berita yang dari sebelumnya. Akan tetapi karena keadaan waktu yang sangat sempit bagi kami untuk mengunjungi saudara-saudara, maka kami lakukan menjalankan perintah Allah itu dengan cara seperti ini. Maka itu ma’afkanlah kami, karena yang demikian itu bukanlah kami menghinakan saudara-saudara, dan bukan pula kami tidak menghormati saudara-saudara dengan penghormatan yang sebagaimana mestinya, akan tetapi yang demikian itu hanya karena keadaan waktu saja yang tidak mencukupi bagi kami, kalau kami menjalankan perintah Allah itu dengan mengunjungi saudara-saudara.

Oleh karena itu, kami kirimkan surat ini ke pangkuan saudara-saudara untuk menunaikan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya, supaya kami menyampaikan amanat Allah dengan mengabarkan tentang “ Kebenaran Al Qur’an “ kepada saudara kami di mana saja berada, yang firman-Nya :

Katakanlah : “ Wahai manusia sesungguhnya telah datang kebenaran Al Qur’an dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (Allah) memberi petunjuk untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tersesat, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan aku bukan penjaga atas dirimu.” (Q.S.10 : 108).

Segala puji bagi Allah Yang telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, dan Dia tidak menjadikan (Al Qur’an) menyimpang baginya. (Q.S.18 : 1).

(Al Qur’an) lurus untuk memberi peringatan akan siksaan yang sangat keras dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah (disediakan) pahala yang baik. (Q.S.18 : 2).

Itulah yang dikabarkan Allah kepada kita, bahwasanya kebenaran Al Qur’an telah datang kepada kita dari sisi-Nya, maka barang siapa diantara kita ada yang mendapat petunjuk Allah, maka sesungguhnya petunjuk itu hanya untuk diri kita sendiri, dan barang siapa diantara kita ada yang tersesat dari petunjuk Allah, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, karena seorangpun tidak ada yang menjaganya atau menghalanginya dari mengikuti petunjuk Allah yang Allah tunjukan dengan Al Qur’an. Dan Allah tidak menjadikan petunjuk itu menyimpang bagi kita atau menyesatkan kita. Melainkan itu lurus memberi peringatan kepada kita akan siksaan yang sangat keras dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwasanya bagi mereka telah disediakan pahala yang baik di sisi-Nya.

Maka itu perkenankanlah kami untuk menyampaikan apa yang Allah bicarakan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, akan tetapi sebelum dan sesudahnya tidak lupa kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya, apabila ada perkataan kami yang tidak berkenan di hati saudara-saudara atau apa saja kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini, semoga saudara-saudara sudi kiranya mema’afkan segala kesalahan kami, karena kesalahan itu bukan yang sengaja kami lakukan dan bukan pula sesuatu yang kami inginkan, melainkan itu hanya semata-mata dari kebodohan kami sendiri, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Apa saja yang kamu peroleh dari kebaikan maka itu dari Allah, dan apa saja yang menimpamu dari keburukan, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Dan Kami mengutus kamu kepada manusia sebagai Rosul, dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Q.S.4:79).

Maka itu ma’afkanlah kami, apabila ada kesalahan kami yang terdapat dalam surat ini, karena yang demikian itu sudah jelas dari keterangan Allah, bahwasanya kesalahan itu dari kebodohan kami sendiri. Dan janganlah kita mencari kesalahan orang lain karena yang demikian itu tidak ada manfa’atnya bagi kita, akan tetapi carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan yang Allah ridhai, agar kita mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti. Dan bukankah kesudahan yang baik itu hanya bagi orang-orang yang bertakwa mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala cegahan-Nya ? Maka itu jauhilah perasangka buruk kepada orang lain sebelum jelas kesalahannya, karena yang demikian itu sesuatu yang Allah cegah kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari kesalahan (orang lain), dan jangan (pula) sebagian kamu mengumpat sebagian (yang lain). Apakah diantara kamu ada yang menyukai makan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka (ketika memakannya itu) tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S.49:12).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang dicegah Allah kepada kita agar kita tidak berperasangka buruk dan mencari kesalahan orang lain dengan mengumpat sebagian yang lain, karena yang demikian itu adalah dosa bagi kita. Dan jika kita berbuat demikian berarti kita suka memakan daging saudara kita yang sudah mati, atau kita suka meresapi keburukan orang lain, maka ketika kita meresapinya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Atau yang demikian itu seperti kita sedang meresapi keburukan saudara kita yang telah lalu yang kita mengira baik kepadanya, padahal dia orang yang melakukan kejahatan dengan membuat-buat tipu daya kepada kita, maka ketika kita meresapi keburukannya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Atau yang demikian itu seperti kita sedang meresapi keburukan saudara kita yang kita pernah mendengarnya, bahwa diantara saudara kita ada yang melakukan kejahatan dengan membuat-buat tipu daya kepada saudara kita yang lainnya, maka ketika kita meresapi keburukannya itu tentu kita merasa jijik kepadanya.

Maka dengan adanya kejahatan-kejahatan sauadara kita yang telah lalu itu, sehingga kita selalu berperasangka buruk kepada saudara kita yang lainnya, yaitu sebagaimana sangkaan kita kepada saudara kita yang telah melakukan kejahatan yang kita merasa jijik kepadanya, walaupun saudara kita itu mengajak kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimulyakan,

Bukankah kita ini orang yang menyukai kebaikan ? Maka janganlah kita bersegera mengambil keburukan sebelum kita mengambil kebaikan dari apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk kebaikan kita di dunia dan di akhirat nanti, adapun yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya ketika Rosul-Nya berkata kepada kaumnya, yang firman-Nya :

Berkatalah (Rosul) : “ Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan ? Mengapa kamu tidak minta ampunan kepada Allah, agar kamu diberi rahmat ? ” (Q.S.27: 46)

Adapun yang demikian itu karena diantara kaumnya ada yang bersegera mengambil keburukan sebelum ia mengambil kebaikan, padahal tidaklah ia bersegera mengambil keburukan melainkan ia minta disegerakan keburukan, karena siapa yang mengambil keburukan maka niscaya ia akan mendapat keburukan. Dan mengapa ia tidak minta ampunan kepada Allah, agar ia diberi rahmat untuk kebaikannya di dunia dan di akhirat nanti ? Dan yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang Firman-Nya :

Dan kamu melihat, kebanyakan diantara mereka bersegera berbuat dosa dan permusuhan dan memakan yang haram, sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan. (Q.S.5:62)

Dan yang demikian itu karena diantara kaumnya ada yang bersegara berbuat dosa dan permusuhan dan memakan yang haram, yaitu memakan harta orang lain dengan jalan batil mereka membuat-buat tipu daya kepada orang lain agar mereka dapat memakan hartanya, sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan.

Maka jika diantara kita ada yang seperti itu, tentu kita selalu berperasangka buruk apabila kita kedatangan orang lain, walaupun orang itu mengajak kita untuk mengerjakan kebaikan yang diperintahkan Allah kepada kita, adapun yang demikian itu karena kita takut tertipu daya sebagaimana saudara kita yang telah tertipu daya.

Akan tetapi persangkaan kita yang demikian itu janganlah kita bersegera mengumpat dengan menjelekan orang itu sebelum jelas kesalahannya, karena jika orang itu tidak bersalah dan ia benar-benar sedang mengerjakan kebaikan yang diperintahkan Allah kepada kita, maka yang demikian itu tentu kita terjerumus kedalam fitnah, sedang fitnah itu lebih besar dosanya dari pada pembunuhan.

Dan jika demikian tentu kita termasuk orang-orang yang bersegera berbuat dosa dan permusuhan, karena tidaklah kita menjelekan orang lain melainkan kita telah mengadakan permusuhan, dan tidaklah kita membicarakan tentang kejelekan orang lain kepada saudara kita melainkan kita ingin dibantu untuk memusuhi orang itu, dan jika kita tidak menghendaki permusuhan dan tidak pula kita ingin dibantu untuk memusuhi orang itu, maka untuk apa kita membicarakan tentang kejelekan orang lain kepada saudara kita, jika kita tidak mengharapkan bantuannya untuk memusuhi orang itu.

Dan sungguh jika saudara kita ikut pula menjelekan orang itu, maka yang demikian itu bahwa saudara kita telah membantu kita memusuhi orang itu, dan jika demikian tentu kita terjerumus kedalam perbuatan syaitan yang bantu-membantu dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan syaitan itu bukan bantu-membantu tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimulyakan,

Sungguh segala sesuatu pasti ada kesudahannya, maka jika kita mengerjakan keburukan niscaya kita akan mendapat kesudahan yang buruk di dunia dan di akhirat nanti, dan jika kita mengerjakan kebaikan niscaya kita akan mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, dan tidaklah mungkin kita ini menginginkan kesudahan yang buruk melainkan kita sudah pasti menginginkan kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, maka itu mari kita berlomba mengerjakan kebaikan sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri), yang masing-masing menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu (mengerjakan) kebaikan, (niscaya) Allah mendatangkan (balasannya) kepadamu sekalian di mana saja kamu berada, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S.2: 148).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita berlomba mengerjakan kebaikan dengan menolong agama Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, dan jika kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita, niscaya Allah mendatangkan balasannya kepada kita sekalian dimana saja kita berada, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, agar kita mendapat kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat nanti, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, (niscaya) Dia menolong kamu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. 47: 7).

Dan orang-orang yang mengingkarinya, maka kecelakaan-lah bagi mereka dan Dia akan menyesatkan amal perbuatan mereka. (Q.S. 47: 8).

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci kepada (Al Qur’an) yang telah Allah turunkan, maka Dia akan menghapus (pahala) amal perbuatan mereka. (Q.S.47: 9).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita supaya kita menolong agama Allah, dan jika kita mau menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, niscaya Allah menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.

Dan jika kita mengingkarinya karena kita tidak percaya atau kita tidak mau menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, maka kecelakaanlah bagi kita dan Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita. Karena yang demikian itu jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, berarti kita tidaklah mengerjakan sesuatu melainkan itu bukan dari perintah Allah, maka jika demikian sudah pasti Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, karena apa yang kita kerjakan itu bukan dari perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya.

Dan bagaimana Allah tidak akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, jika apa yang kita kerjakan itu bukan dari perintah Allah, adapun yang demikian itu karena kita mengetahui bahwa perintah Allah bukan perintah manusia, dan tidaklah Allah menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya melainkan itu berdasarkan keterangan yang nyata dari sisi-Nya, dan itu secara tertulis dalam Al Qur’an. Maka jika kita mengerjakan selain perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, niscaya Allah menyesatkan pahala amal perbuatan kita.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita mengerjakan perintah si A, maka tentu yang membayar upah kepada kita adalah si A, dan apabila kita mengerjakan perintah si B, maka tentu yang membayar upah kepada kita adalah si B, yang tidaklah mungkin kita mengerjakan perintah si A kemudian yang membayar upah kepada kita adalah si B. Dan demikian pula apabila kita mengerjakan selain perintah Allah, maka yang demikian itu sudah pasti Allah akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita yang kita kerjakan dari selain perintah Allah. Dan sekali-kali Allah tidak akan menyesatkan pahala amal perbuatan kita, jika apa yang kita kerjakan itu dari perintah Allah, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang kita kerjakan.

Dan jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan Al Qur’an, maka yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang membenci Al Qur’an, yang didalamnya itu ada keterangan-keterangan dan petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, atau kita termasuk orang-orang yang tidak menyukai Al Qur’an yang Allah turunkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, maka jika demikian niscaya Allah menghapus pahala amal perbuatan kita, karena apa yang kita kerjakan itu tersesat dari jalan petunjuk Allah yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan melalui Al Qur’an.

Akan tetapi kita tidaklah mungkin sepeninggalan junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW bahwa kita berbalik kebelakang menjadi kafir tidak percaya terhadap perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena kita mengetahui bahwa Al Qur’an itu dari penyampaian junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW utusan Allah yang diutus untuk menyampaikan Al Qur’an kepada kita, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah lain Muhammad itu kecuali seorang Rosul, sungguh telah berlalu beberapa orang Rosul sebelumnya. Maka jika ia wafat atau dibunuh apakah kamu akan berbalik ke belakang (menjadi kafir) ?. Dan barang siapa yang berbalik ke belakang, maka hal itu tidak akan memudharotkan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. 3: 144).

Dan tidak ada satu jiwapun yang mati melainkan itu dengan izin Allah yang telah ditentukan pada waktunya. Dan barang siapa yang menghendaki pahala dunia, (niscaya) Kami berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, (niscaya) Kami berikan kepadanya pahala akhirat, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. 3: 145).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW itu seorang Rosul yang diutus kepada kita supaya menyampaikan Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepadanya, dan Al Qur’an yang beliau sampaikan kepada kita ini bukti nyata Al Qur’an itu ada bersama kita, bahkan Al Qur’an telah lama ada bersama kita dalam beberapa masa. Maka bagaimana jika junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW telah wafat, apakah kita akan berbalik ke belakang menjadi kafir tidak percaya dan tidak mau mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya itu ? Dan barang siapa diantara kita ada yang mengingkarinya, karena ia tidak percaya atau tidak mau meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, maka hal itu tidak akan memadharotkan Allah sedikitpun, jika Allah hendak menjadikan generasi penerus Rosul-Nya untuk meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran kekuasaan Allah yang telah ada bersama kita, yaitu apabila tanaman-tanaman yang buahnya bermanfa’at bagi kita mati sesudah mengeluarkan buahnya, maka Allah berkuasa menjadikan generasi penerusnya dengan menumbuhkan tanaman-tanaman yang serupa buahnya dengan buah tanaman yang telah mati itu, agar makanan kita tidak terputus dengan kehilangan buah tanaman yang bermanfa’at itu, dan Allah tidak kesukaran untuk menumbuhkan generasi penerusnya untuk kehidupan kita didunia ini.

Dan demikian pula apabila Allah hendak menjadikan generasi penerus Rosul-Nya, maka yang demikian itu tidak kesukaran bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, yaitu kepada orang-orang yang mau meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Dan Allah menerangkan kepada kita, bahwa tidak ada satu jiwapun yang mati melainkan itu dengan izin Allah yang telah ditentukan pada waktunya. Maka sepeninggalan Rosul-Nya itu Allah menyuruh kita, agar kita menjadi generasi penerus Rosul-Nya, supaya kita meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, jika kita pengikut Nabi besar Muhammad SAW dengan mengikuti apa yang telah beliau kerjakan dari perintah Allah, dan sebagai balasannya Allah janjikan kepada kita, bahwa barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala dunia, niscaya Allah berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala akhirat, niscaya Allah berikan kepadanya pahala akhirat, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, yaitu kepada orang-orang yang mensyukuri ni’mat Allah yang telah Allah anugrahkan atas Rosul-Nya dengan meneruskan apa yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya.

Maka itu mari kita berlomba mengerjakan kebaikan dengan menolong agama Allah dan menyampaikan amanat-Nya yang Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (Allah) kepada yang hak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkan hukum itu dengan adil, sesungguhnya Allah akan memberi pengajaran kepadamu dengan sebaik-baiknya (pengajaran), sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (apa yang kamu kerjakan). (Q.S.4:58).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah menyuruh kita untuk menyampaikan amanat Allah kepada yang hak menerimanya, dan apabila kita hendak menetapkan hukum diantara manusia, maka tetapkan hukum itu dengan adil, sesungguhnya dengannya itu Allah akan memberi pengajaran kepada kita dengan sebaik-baiknya pengajaran, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat apa yang kita kerjakan.

Ingat ! Amanat Allah adalah suatu amanat yang dari perkataan Allah atau dari firman-Nya yang berdasarkan ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an, dan amanat Allah bukan suatu amanat yang dari perkataan manusia, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (Al Qur’an benar-benar dibuat oleh Allah) untuk membenarkan apa yang telah ada padanya, dan untuk menjelaskan Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, (bahwa itu benar-benar diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Q.S.10:37).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka jika kita yakin bahwa apa yang ada dalam Al Qur’an itu dibuat oleh Allah, maka itu sudah pasti semua apa yang ada dalam Al Qur’an itu perkataan Allah, dan demikian pula amanat-Nya, maka janganlah kita menyamakan perkataan Allah dengan perkataan manusia, karena perkataan Allah bukan perkataan manusia, dan demikan pula amanat-Nya.

Dan kalau kita hendak menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, maka sampaikanlah apa yang Allah bicarakan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena semuanya itu amanat Allah yang Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, supaya beliau menyampaikannya kepada kita.

Adapun yang Allah amanatkan kepada kita adalah perintah-Nya, petunjuk-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, maka yang demikian itu sampaikanlah kepada yang hak menerimanya, yaitu kepada manusia yang seperti kita, maka jika mereka manusia tentu mereka berhak menerimanya, karena sungguh tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya mengabdi kepada-Nya dengan menta’ati segala perintah-Nya, petunjuk-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya.

Dan janganlah kita menyembunyikan amanat Allah dengan tidak mau menyampaikan apa yang telah Allah terangkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah apa yang telah Kami terangkan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat. (Q.S.2: 159).

Kecuali orang-orang itu bertaubat dan mereka mengadakan perbaikan dan mereka menerangkan (hal itu kepada manusia), maka kepada mereka itu Aku menerima taubat mereka, dan sesungguhnya Aku Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S.2: 160).

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkarinya dan mereka mati dalam keadaan ingkar, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (Q.S.2: 161).

Mereka kekal dalam laknat, mereka tidak diringankan siksaan dari mereka, dan mereka tidak diberi tangguh. (Q.S.2: 162).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka janganlah kita menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, sesudah Allah menerangkan hal itu kepada kita dalam Al Kitab, karena yang demikian itu bahwa kita akan dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat.

Dan seandainya kita berbuat demikian, maka bertaubatlah kepada Allah dan perbaikilah perbuatan kita dengan menerangkan hal itu kepada saudara-saudara kita, karena sesudah itu Allah akan menerima taubat kita, dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh seandainya kita mengingkarinya karena kita tidak percaya dan tidak mau menerangkan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk untuk manusia, sesudah kita membacanya dalam Al Kitab atau mendengarnya, kemudian kita mati dalam keadaan ingkar belum menerangkan hal itu kepada saudara-saudara kita, maka jika demikian tentu kita akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya, dan kita kekal dalam laknat yang tidak diringankan siksaan itu dari kita, dan kita tidak diberi tangguh.

Oleh karena itu maka perkenankanlah kami untuk menyampaikan amanat Allah yang Allah perintahkan kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena kami takut akan laknat Allah dan laknat semua makhluk yang dapat melaknat, jika kami tidak mau menyampaikan amanat Allah yang berupa keterangan- keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, sesudah Allah menerangkan hal itu kepada kami dengan melalui ayat-ayat-Nya dalam Al Kitab, dan hal itu telah terputus dari penyampaian para Rosul yang membawa kabar gembira dan membawa peringatan, yaitu dari sepeninggalan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rosul Kami, dia menjelaskan kepadamu atas apa yang telah terputus dari (penyampaian) para Rosul, supaya (pada hari kiamat) kamu (tidak) mengatakan : “ Kepada kami tidak datang seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan.“ Maka sungguh (sekarang) telah datang kepadamu seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. 5 : 19).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah Maha kuasa menjadikan generasi penerus Rosul-Nya, supaya dia menyampaikan amanat Allah dengan membawa kabar gembira dan membawa peringatan dari sisi-Nya, sesudah penyampaian itu terputus dari penyampaian para Rosul.

Dan sebelum Allah menjadikan generasi penerus Rosul-Nya itu Dia telah mengatakan kepada kita, jika kita tidak mau menyampaikan amanat Allah maka hal itu tidak akan memadharotkan Allah sedikitpun, karena Allah Maha Kuasa menjadikan generasi penerus Rosul-Nya supaya dia menyampaikan amanat-Nya itu, dan tidaklah Allah menjadikan generasi penerus Rosul-Nya itu melainkan pada hari kiamat nanti supaya kita tidak mengatakan : “ Kepada kita tidak datang seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan dari sisi Allah.”

Maka sungguh sekarang telah datang kepada kita seorang pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan dari sisi Allah, dan dia mengabarkan kepada kita tentang amal perbuatan kita yang telah kita kerjakan dari perintah Allah, maka barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan perintah Allah dengan benar sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, maka dialah yang mendapat kabar gembira dari sisi Allah, bahwasanya dia telah disediakan sorga yang penuh keni’matan dan dia kekal didalamnya selama-lamanya.

Dan barang siapa diantara kita ada yang tersesat atau kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya tidak sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, maka yang demikian itu dia telah mendapat peringatan dari sisi Allah, supaya dia ingat akan kelengahannya dari mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya, dan supaya dia kembali mengerjakan perintah Allah dengan memperbaiki amal perbuatannya, yaitu sebagaimana apa yang telah Allah tunjukan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan yang demikian itu supaya dia tidak terjerumus ke dalam neraka yang Allah sediakan bagi orang-orang kafir.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan membenarkan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita. Sebagai contoh, apabila kita menerima surat dari seseorang yang biasa menyuruh kita, yang dalam suratnya itu tertulis bahwa dia menyuruh kita agar kita menyirami tanaman dikebunnya yang terletak dekat tempat kediaman kita, maka yang demikan itu sudah pasti suratnya itu tidak cukup hanya sebatas dibaca dan didengarkan saja, melainkan apa yang dia perintahkan kepada kita dengan melalui suratnya itu kita kerjakan, kemudian sesudah itu kita sirami tanaman yang ada dalam kebunnya dengan air yang bersih, supaya tanaman itu baik pertumbuhannya dan kepetik buahnya sebagaimana apa yang dikehendaki oleh penanamnya, jika kita sudah biasa mengerjakan perintahnya dengan mendapat upah dari padanya. Itulah sebagai contoh kebenaran yang telah ada bersama kita, apabila kita menerima surat perintah dari seseorang yang biasa menyuruh kita dengan melalui suratnya.

Dan demikian pula apabila kita menerima surat perintah dari Allah yang menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya, maka surat-Nya itu sudah pasti tidak cukup hanya sebatas dibaca dan didengarkan saja, melainkan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui surat-surat-Nya itu, kita kerjakan sebagaimana petunjuk-Nya yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui surat-surat-Nya itu. Adapun yang demikian itu karena Allah tidak akan berbicara kepada kita dengan menyuruh kita agar kita mengerjakan segala perintah-Nya, kecuali itu dengan melalui surat-surat-Nya yang Allah sampaikan kepada kita dengan Al Qur’an, jika kita sudah biasa mengerjakan perintah Allah dengan cara seperti itu, kecuali kita menginginkan melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, yaitu seperti kaum Nabi Musa AS dahulu yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan ketika itu Musa berkata kepada kaumnya : “ Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri, karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu), maka bertaubatlah kamu kepada Tuhan yang menjadikan kamu, lalu bunuhlah dirimu, yang demikian itu lebih baik bagimu di sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka Dia akan menerima taubatmu, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 2 : 54).

Dan ketika itu kamu berkata : “ Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami melihat Allah dengan nyata, maka (ketika itu) petir menyambar kamu, sedang kamu menyaksikan. “ (Q.S. 2 : 55).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, ketika Nabi Musa AS berkata kepada kaumnya, yang ketika itu kaumnya telah menganiaya diri mereka sendiri atau mereka telah menipu diri mereka sendiri, karena mereka telah menjadikan anak lembu sebagai sesembahan mereka selain Allah, maka ketika itu Nabi Musa AS menyuruh mereka agar mereka bertaubat kepada Allah yang telah menjadikan mereka, dan menyuruh mereka agar mereka membunuh diri mereka sendiri atau menyuruh berhenti dari menyembah anak lembu, karena yang demikian itu lebih baik bagi mereka di sisi Allah yang telah menjadikan mereka, dan Allah akan menerima taubat mereka, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang

Akan tetapi mereka tidak percaya kepada Nabi Musa AS yang menyuruh mereka agar bertaubat kepada Allah dan berhenti dari menyembah anak lembu, sehingga mereka berkata kepada Nabi Musa AS :” Hai Musa, kami tidak akan percaya kepadamu sehingga kami melihat Allah dengan nyata menyuruh kami agar kami bertaubat kepada Allah dan berhenti dari menyembah anak lembu.” Adapun yang demikian itu karena sepengetahuan mereka tidak ada yang menyuruh mereka melainkan semuanya itu tampak nyata terlihat oleh penglihatan mereka, maka karena itu petir menyambar mereka atau mereka mendapat peringatan sedang mereka menyaksikan atas perbuatan diri mereka, bahwa mereka selalu menangguhkan perintah Allah apabila mereka hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan mereka menunggu sehingga mereka melihat Allah dengan nyata menyuruh mereka tanpa melalui surat-surat-Nya itu.

Maka bagaimana, apakah kita akan seperti mereka menangguhkan perintah Allah apabila kita hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan kita menunggu sehingga kita melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya ? ” Tidak mungkin bukan,” karena kita sudah mengetahui bahwa tidaklah kita mengerjakan perintah Allah melainkan itu sesudah kita membaca surat-surat-Nya atau mendengarnya, dan yang demikian itu karena kita sudah mengetahui bahwasanya Allah Tuhan Yang Maha Ghaib yang tidak dapat terlihat oleh penglihatan kita, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Allah tidak dapat di capai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S.6 : 103).

Sesungguhnya telah datang kepadamu beberapa pandangan dari Tuhanmu, maka barang siapa yang melihat (petunjuk-Nya) maka itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang buta (tidak melihat petunjuk-Nya) maka (kecelakaanlah) atasnya, dan aku bukan penjaga atas dirimu. (Q.S.6 : 104).

Dan seperti demikianlah Kami mengulang-ulang ayat-ayat itu, dan supaya mereka berkata : “ (Apakah) kamu telah mempelajari (ayat-ayat Allah) ?,“ dan agar Kami menjelaskan (Al Qur’an) kepada kaum yang mengetahui. (Q.S.6 : 105).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwasanya Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita, dan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Yang demikian itu ketetapan Allah Tuhan Yang Maha Ghaib, dan Allah tidak mungkin akan merobah ketetapan-Nya menjadi kelihatan oleh kita.

Maka itu tidaklah mungkin bagi kita akan menangguhkan perintah Allah apabila kita hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan kita menunggu sehingga kita melihat Allah dengan nyata menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, adapun yang demikian itu karena kita sudah mengetahui bahwa Allah tidak akan merobah ketetapan-Nya

Dan sungguh tidaklah kita mengerjakan perintah Allah, melainkan itu telah datang kepada kita beberapa pandangan sebagai petunjuk dari sisi Allah untuk mengerjakan perintah-Nya, maka barang siapa diantara kita ada yang melihat petunjuk-Nya maka itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa diantara kita ada yang buta tidak melihat petunjuk-Nya maka kecelakaanlah atasnya, dan kita bukan penjaga yang menghalangi untuk melihat petunjuk Allah dalam Al Qur’an.
Dan seperti demikian itu karena Allah telah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya kepada kita supaya kita mengatakan : “ Apakah kita telah mempelajari ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an ?,“ dan yang demikian itu karena Allah akan menjelaskan Al Qur’an kepada kita agar kita mengetahui kebenarannya.
Maka itu mari kita bersama-sama mempelajari ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an, karena dengan Al Qur’an itu Allah akan memberi pengajaran kepada kita dengan sebaik-baiknya pengajaran, supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepada kita dengan Al Qur’an, jika kita mau mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya. Adapun yang demikian itu karena Allah telah memberikan contoh suri tauladan yang baik kepada kita untuk mengerjakan segala perintah-Nya, yaitu dengan menerangkan amal perbuatan Rosul-rosul-Nya yang telah terlebih dahulu mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita dapat mengerjakan segala perintah Allah dengan baik sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rosul-rosul-Nya, jika kita mau mencontoh amal perbuatan Rosul-rosul-Nya dalam mengerjakan segala perintah-Nya itu.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita belajar menulis, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita menulis dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat menulis dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam menulis, dan apabila kita belajar membaca, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita membaca dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat membaca dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam membaca, dan apabila kita belajar mengerjakan sesuatu, maka tentu pengajar kita itu akan menyuruh kita, supaya kita mengerjakannya dengan mengikuti petunjuknya, agar kita dapat mengerjakan itu dengan baik sebagaimana yang diajarkannya kepada kita untuk kebutuhan urusan kita dalam kehidupan dunia ini, dan demikian pula apabila kita belajar yang lainnya. Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita dalam urusan belajar.

Maka itu mari kita bersama-sama mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya, agar kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan baik untuk kebutuhan urusan kita di dunia dan di akhirat nanti, dan janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengetahui : “ Mengapa Allah tidak berbicara (langsung) kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami ? ” Seperti demikian itu orang-orang sebelum merekapun telah mengatakan seperti yang diucapkan oleh mereka (bahkan) hatinyapun serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. .(Q.S.2:118).

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan (membawa) kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak diminta (pertanggungan jawab) tentang (orang-orang yang menjadi) penghuni neraka. .(Q.S.2:119).

Orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka tidak akan senang kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “ Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang (sebenarnya), dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan itu datang kepadamu, maka bagimu tidak mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.” (Q.S.2:120).

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya, dan barang siapa yang mengingkarinya, maka mereka itulah yang rugi. (Q.S.2:121).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa orang-orang yang tidak mengetahui mereka mengatakan : ” Mengapa Allah tidak berbicara langsung kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami.” Padahal sebelum mereka lahir ke muka bumi ini, sesungguhnya telah ada tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dan yang ada pada diri kita sendiri, bahwa semuanya itu kekuasaan Allah.

Maka itu perhatikanlah oleh kita, siapakah yang kuasa menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, dan siapa yang kuasa menjadikan kita dapat melihat, dapat mendengar, dapat berfikir, dapat berjalan, dapat membuat sesuatu dan sebagainya ? “ Hanya Allah bukan ! Maka jika demikian, adakah kekuasaan kita di muka bumi ini ? Sedikitpun tidak ada bukan ! Kecuali semuanya itu kekuasaan Allah yang Allah berikan kepada kita sebagian dari kekuasaan-Nya itu, supaya kita bersyukur kepada-Nya dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, bahwasanya Allah telah menurunkan Al Qur’an kepada Rosul-Nya supaya disampaikan kepada kita, yang dengan melalui Al Qur’an itu Allah berbicara kepada kita dengan menyuruh kita, agar kita mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala cegahan-Nya.

Adapun yang demikian itu karena Allah telah menetapkan diri-Nya, bahwasanya Dia Tuhan Yang Maha Ghaib yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita, maka Allah membuat Al Qur’an yang berisikan surat-surat-Nya untuk berbicara kepada kita, dan jika Allah berbicara langsung kepada kita dengan menampakan diri-Nya, maka yang demikian itu tidaklah Allah dapat disebut Tuhan Yang Maha Ghaib, karena Tuhan Yang Maha Ghaib bukan yang nampak nyata kelihatan oleh kita.

Maka janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, karena mereka selalu menangguhkan perintah Allah apabila mereka hendak mengerjakan perintah-Nya, yaitu seakan-akan mereka menunggu sehingga mereka melihat Allah dengan nyata berbicara langsung menyuruh mereka tanpa melalui surat-surat-Nya, adapun yang demikian itu karena sepengetahuan mereka tidak ada yang menyuruh mereka, melainkan semuanya itu nyata terlihat oleh penglihatan mereka, maka jika yang menyuruh mereka itu nyata terlihat oleh penglihatan mereka dan perintahnya itu sependapat dengan keinginan mereka, tentu mereka mengerjakannya. Akan tetapi karena Allah menyuruh mereka itu tidak kelihatan oleh penglihatan mereka dan peritah-Nya itu tidak sependapat dengan keinginan mereka, maka mereka menangguhkannya untuk mengerjakan perintah-Nya itu, walaupun upahnya itu lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, adapun yang demikian itu karena mereka tidak mengetahui.

Maka janganlah kita seperti orang-orang yang tidak mengetahui, sesudah kita mengetahui bahwa Allah tidaklah menyuruh kita kecuali dengan melalui surat-surat-Nya, maka itu janganlah kita menangguhkan perintah Allah sesudah Allah menyuruh kita dengan melalui surat-surat-Nya, karena kita berbuat demikian berarti kita sama saja dengan mereka menangguhkan perintah Allah, seakan-akan kita menunggu sehingga Allah berbicara langsung menyuruh kita tanpa melalui surat-surat-Nya, dan jangan pula kita mengira bahwa pahala akhirat itu terlalu lama bagi kita, sesudah Allah menjanjikan pahala dunia kepada kita yang sekarang ini, dan yang demikian itu karena Allah telah menjelaskan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kita.

Dan apabila kita yakin bahwa Allah menyuruh kita dengan ayat-ayat-Nya, maka Allah mengutus kita atau menyuruh kita agar kita membawa kebenaran Al Qur’an dari sisi-Nya dan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan kita tidak diminta pertanggungan jawab tentang orang-orang yang menjadi penghuni neraka, karena kita hanya sebatas menyampaikan amanat Allah, atas apa yang Allah amanatkan kepada kita supaya kita menyampaikannya itu.

Maka mari kita sampaikan amanat Allah dengan melalui lisan kita, jika kita mau menolong agama Allah dengan mewakili perkataan Allah yang kita baca dari Kitab-Nya, yaitu supaya kita berbicara kepada manusia dengan menyampaikan amanat-Nya, karena Allah tidak akan berbicara kepada manusia kecuali dengan melalui ayat-ayat-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, yaitu apabila kita menyampaikan amanat seseorang yang menyuruh kita agar kita mengatakan amanatnya kepada yang hak menerimanya, maka tentu kita akan mewakili perkataannya dengan melalui lisan kita, mengatakan amanatnya kepada yang hak menerimanya, dan jika kita menyampaikan amanatnya itu dengan membawa suratnya, maka tentu kita sampaikan suratnya itu kepada yang hak menerimanya, dan jika yang hak menerima suratnya itu tidak dapat membacanya, maka kita bacakan suratnya itu supaya ia mendengar amanatnya, dan sesudah itu urusannya terserah kepada keduanya, karena kita hanya sebatas menyampaikan amanatnya yang diperintahkan kepada kita. Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita dalam urusan menyampaikan amanat.

Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, walaupun orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan menyenangi kita, sehingga kita mengikuti agama mereka. Padahal sungguh petunjuk Allah itulah petunjuk agama yang sebenarnya, dan sungguh jika kita mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan itu datang kepada kita, maka jika demikian tentu kita tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Maka itu mari kita bersama-sama menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, jika kita percaya kepada Allah bahwa Allah benar-benar menyuruh kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Dan orang-orang yang telah Allah beri Al Kitab kepada mereka, mereka membacanya itu dengan bacaan yang sebenarnya, yaitu apabila mereka membaca Kitab Allah maka sesudah itu mereka kerjakan apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya itu, karena mereka beriman kepada Allah dan kepada Kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya. Dan barang siapa yang mengingkari perintah Allah sesudah mereka membaca Kitab-Nya, maka mereka itulah yang rugi, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan perintah-Nya, biarpun yang mereka kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit. Dan yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan dan tidak (pula) kamu membaca suatu ayat dari Al Qur’an, dan tidak (pula) kamu mengerjakan (perintah Kami sesudah kamu membacanya), melainkan Kami menjadi saksi atas kamu ketika kamu mengerjakannya. Dan itu tidaklah luput dari (pengetahuan) Tuhanmu biarpun yang kamu kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dan lebih besar dari itu melainkan (semua tertulis) dalam Kitab yang nyata. (Q.S.10: 61).

Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah mereka tidak ada ke khawatiran atas (apa yang telah luput dari) mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S.10: 62).

(Mereka itu) orang-orang yang beriman dan bertakwa (kepada Allah). (Q.S.10: 63).

Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia, dan dalam (kehidupan) akhirat tidak ada perobahan bagi mereka (pahala) yang telah Allah (janjikan kepada mereka) pada kalimat-kalimat-Nya itu. Yang demikian itu kemenangan yang besar. (Q.S.10: 64).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa tidaklah kita berada dalam suatu keadaan dan tidak pula kita membaca suatu ayat dari Al Qur’an, dan tidak pula kita mengerjakan perintah Allah sesudah kita membacanya, melainkan Allah menjadi saksi atas kita ketika kita mengerjakan perintah-Nya itu. Dan itu tidaklah luput dari pengetahuan Allah biarpun yang kita kerjakan itu hanya seberat zarrah di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dan lebih besar dari apa yang telah kita kerjakan melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata.

Maka itu mari kita menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita memperoleh keuntungan yang besar di akhirat nanti. Ingat ! Sesungguhnya Wali-Wali Allah mereka tidak ada ke khawatiran atas harta yang telah luput dari mereka yang mereka nafkahkan dijalan Allah, dan mereka tidak bersedih hati. Karena mereka orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Maka bagi mereka selalu mendapat kabar gembira dalam kehidupan dunia, dan dalam kehidupan akhirat nanti, pahala bagi mereka itu tidak ada perobahan kecuali sama seperti apa yang telah Allah janjikan kepada mereka pada kalimat-Nya itu. Dan yang demikian itu keuntungan yang besar bagi mereka, karena apa yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah. Dan hal itu Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah telah menurunkan kebenaran dengan Kitab (Al Qur’an), dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam (pengetahuan) Al Kitab, tentu mereka dalam perpecahan (agama) yang jauh (dari kebenaran yang telah Allah turunkan dengan Al Qur’an). (Q.S.2: 176).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, sesungguhnya Wali- Wali Allah memperoleh keuntungan yang besar itu, karena sesungguhnya Allah telah menurunkan kebenaran dengan Kitab Al Qur’an, dan mereka yakin akan kebenaran perkataan Allah yang Allah katakan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, bahwa tidaklah Allah mengatakan sesuatu yang tertulis dalam Al Qur’an kecuali benar, dan pahala yang Allah janjikan kepada mereka itu adalah benar yang sedikitpun tidak ada perobahan segala sesuatunya kecuali sama seperti apa yang telah Allah terangkan kepada mereka pada kalimat-Nya, maka dengan adanya keyakinan mereka itu, sehingga apa yang Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, mereka kerjakan dengan tidak ada kekhawatiran atau keraguan dalam mengerjakan perintah-Nya, maka mereka itulah yang mendapat kesudahan yang baik disisi Allah dan mereka itulah yang memperoleh keuntungan yang besar.

Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam pengetahuan Kitab Al Qur’an, tentu mereka dalam perpecahan agama yang jauh dari kebenaran yang telah Allah turunkan dengan Al Qur’an, adapun yang demikian itu karena tidak ada orang yang masuk Islam melainkan pengetahuannya itu dari Allah yang Allah terangkan kepadanya dengan melalui Al Qur’an, dan Allah tidak akan merobah suatu ayat yang telah Allah tetapkan dalam Al Qur’an, supaya kita tidak ada keraguan apabila kita hendak mengerjakan segala perintah-Nya, dan sepaya kita tidak berselisih pengetahuan sesudah kita membaca Kitab-Nya, dan tidaklah kita masuk Islam melainkan kita telah menta’ati panggilan Allah yang menyeru kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam seluruhnya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S.2: 208).

Maka jika kamu tergelincir (dari jalan petunjuk Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti (kebenaran), maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.2: 209).

Itulah seruan Allah yang memanggil kita agar kita masuk Islam seluruhnya, dan supaya kita tidak mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan itu hanya menuruti kemauannya sendiri yang tidak mau memperdulikan kepada aturan Allah untuk kehidupannya di dunia dan di akhirat nanti, maka janganlah kita mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kita.

Dan jika Allah yang memanggil kita agar kita masuk Islam, maka yang demikian itu tidak ada yang memasukan kita kedalam Islam kecuali Allah sendiri yang telah memanggil kita dengan ayat-Nya itu, maka bagaimana kita akan berselisih pengetahuan sesudah kita sama-sama membacanya, kecuali kita dalam perpecahan agama atau kita dalam perpecahan keta’atan yang masing-masing jauh dari menta’ati perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan jika demikian tentu tidaklah kita mengerjakan sesuatu, melainkan itu hanya menta’ati keinginan hawa nafsu kita sendiri bukan menta’ati perintah Allah, adapun yang demikian itu karena tidaklah mungkin kita akan berselisih pengetahuan jika kita sama-sama menta’ati perintah Allah yang diperintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, karena tidaklah kita mengerjakan perintah Allah melainkan itu sesudah kita membaca ayat-ayat-Nya atau mendengarnya, dan tidaklah Allah menjanjikan pahala kepada kita, melainkan pahala itu akan diberikan kepada kita menurut amal kita masing-masing atas apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya, dan yang demikian itu supaya kita tidak berselisih pengetahuan dalam mengerjakan perintah-Nya.

Maka janganlah kita berselisih pengetahuan dalam mengerjakan perintah Allah, jika apa yang telah kita kerjakan itu benar dari perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan jika kita telah tergelincir dari jalan petunjuk Allah sesudah datang kepada kita bukti-bukti kebenaran dari sisi-Nya, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, apabila kita mau bertaubat kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Dan tidaklah kita masuk Islam melainkan itu menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at, tunduk, patuh kepada perintah-Nya. Adapun yang disebut ta’at kepada Allah, yaitu apa saja yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, kita kerjakan, dan yang disebut tunduk kepada Allah, yaitu kita tidak membantah perintah Allah walaupun kita mempunyai alasan, dan yang disebut patuh kepada Allah, yaitu tidak ada yang kita kerjakan kecuali perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Akan tetapi yang demikian itu tidak ada paksaan bagi kita dalam agama atau dalam keta’atan, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Tidak ada paksaan dalam agama (atau dalam keta’atan). Sungguh telah jelas jalan yang benar (keta’atannya kepada Allah) dari jalan yang tersesat, maka barang siapa yang mengingkari (keta’atannya) kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kokoh yang tidak akan putus baginya (dari dunia sampai akhirat). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (kepada siapa ia beriman dengan menta’ati perintahnya itu). (Q.S.2: 256).

Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya terang. Dan Thoghut pelindung orang-orang kafir yang mengeluarkan mereka dari cahaya terang kepada kegelapan, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. (Q.S.2: 257).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa tidak ada paksaan bagi kita dalam agama atau dalam keta’atan, karena sungguh telah jelas jalan yang benar keta’atannya kepada Allah dari jalan yang tersesat, adapun yang benar keta’atannya kepada Allah, yaitu tidaklah ia mengerjakan sesuatu melainkan itu dari perintah Allah yang Allah perintahkan kepadanya dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka barang siapa yang mengingkari keta’atannya kepada Thoghut dan beriman kepada Allah dengan menta’ati perintah-Nya, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kokoh yang tidak akan putus baginya dari dunia sampai akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui kepada siapa ia beriman dengan menta’ati perintahnya itu.

Ingat ! Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya terang, sehingga mereka mengetahui perintah Allah yang Allah perintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, sesudah mereka tidak mengetahui. Dan Thoghut pelindung orang-orang yang mengingkari perintah Allah, karena Thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya terang kepada kegelapan, sehingga mereka tidak mengetahui perintah Allah yang diperintahkan kepada mereka dengan melalui ayat-ayat-Nya, sesudah mereka mengetahui, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Maka itu semoga Allah memberi Hikmah kepada kita sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dia-lah yang memberi Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang mengambil pengajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S.2: 269).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang mengambil pengajaran dari apa yang Allah ajarkan dengan Al Qur’an kecuali orang-orang yang mempunyai akal. Maka itu mari kita pelajari apa yang Allah ajarkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita diberi hikmah sebagai penjelasan dari padanya, karena tidaklah mungkin akan menjadi kenyataan apa yang Allah ajarkan kepada kita, jika kita tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, dan janganlah dalam mempelajarinya itu kita mendebat tentang keta’atan kita kepada perintah Allah, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Maka jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah : “ Aku telah menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikuti aku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : “ Apakah kamu telah masuk Islam ? ” maka jika mereka telah masuk Islam, maka tentu mereka telah mendapat petunjuk(nya), dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (amanat Allah), dan Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya. (Q.S.3: 20).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu jika kita dalam mempelajari ayat-ayat Allah ada yang mendebat tentang keta’atan kita kepada perintah Allah, maka katakanlah : “ Sesungguhnya aku telah masuk Islam atau aku telah menyerahkan diriku kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, dan demikian pula orang-orang yang mengikuti aku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : “ Apakah kamu telah masuk Islam menyerahkan dirimu kepada Allah ? ” maka jika mereka telah masuk Islam menyerahkan diri mereka kepada Allah, maka tentu mereka telah mendapat petunjuk untuk menyerahkan diri mereka kepada Allah, dan jika mereka berpaling, maka sungguh kewajiban kita hanya menyampaikan amanat Allah, dan Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya yang menyampaikan amanat-Nya. Adapun yang demikian itu karena Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

(Al Qur’an) ini penerangan bagi manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa (kepada Allah mengerjakan perintah-Nya). (Q.S.3: 138).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, maka jika kita telah Islam menyerahkan diri kita kepada Allah, maka tentu kita telah mendapat petunjuk Allah untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya, yaitu atas apa yang telah Allah ajarkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Maka barang siapa yang Allah menghendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, (niscaya) Allah melapangkan dadanya (dengan meluaskan pengetahuannya) untuk Islam. Dan barang siapa yang Allah menghendaki untuk menyesatkannya, (niscaya) Allah menjadikan dadanya sempit lagi kesukaran seakan-akan ia mendaki tangga ke langit. Seperti demikianlah Allah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. 6 : 125).

Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus, sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada kaum yang memperhatikan (petunjuk Kami). (Q.S. 6 : 126).

Bagi mereka telah (disediakan sorga) Darus Salam (rumah perdamaian) disisi Tuhannya, dan Dia Pelindung mereka karena apa yang mereka kerjakan. (Q.S. 6 : 127).
Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa barang siapa yang Allah menghendaki untuk memberi petunjuk kepada kita, niscaya Allah melapangkan dada kita dengan meluaskan pengetahuan kita untuk Islam, yaitu petunjuk untuk menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Dan barang siapa yang Allah menghendaki untuk menyesatkan kita, niscaya Allah menjadikan dada kita kesempitan dan kesukaran untuk menyerahkan diri kita kepada Allah, seakan-akan kita mendaki tangga ke langit. Seperti demikian itu karena Allah telah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman, sehingga mereka mengatakan Islam yang mereka sendiri tidak mengetahui.
Dan Al Qur’an ini sebagai jalan petunjuk Allah yang lurus, sesungguhnya Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaum yang memperhatikan petunjuk-Nya. Bagi mereka telah disediakan sorga Darus Salam, yaitu rumah perdamaian disisi Tuhannya, dan Allah Pelindung mereka karena apa yang telah mereka kerjakan dari keta’atan mereka kepada perintah Allah. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, agar Allah melindungi kita dari azab-Nya yang diancamkan kepada orang-orang kafir.
Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka siapakah yang akan melindungi miliknya jika bukan pemiliknya ? Sungguh tidak ada yang hak untuk melindungi miliknya kecuali pemiliknya. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah agar Allah melindungi kita, dan bukankah kita ini milik Allah ? Ya benar, akan tetapi Allah tidak akan melindungi kita, jika kita kafir kepada Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya.

Maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya,supaya Allah melindungi kita dari azab-Nya yang diancamkan kepada orang-orang kafir, dan mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya dalam Al Qur’an, supaya kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan benar, sebagaimana yang Allah tunjukan kepada kita dari perintah-Nya itu. Sebagai contoh, apabila Allah menyuruh kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S.26:214).

Maka yang demikian itu janganlah kita mengira, bahwa Allah bukan menyuruh kita melainkan Allah menyuruh orang-orang dahulu, karena jika kita mengira demikian berarti kita telah menjadikan Al Qur’an dongeng orang-orang dahulu, bukan petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka jika kita sedang mempelajari ayat-ayat Allah dan kita telah membenarkan bahwa yang demikian itu Allah menyuruh kita dengan melalui ayat-Nya, maka kerjakanlah oleh kita perintah-Nya itu, kemudian berilah peringatan kerabat-kerabat kita yang terdekat supaya mereka ingat akan kehidupan mereka diakhirat nanti, dan supaya mereka dapat memperhitungkan amal perbuatan mereka atas apa yang telah mereka kerjakan didunia, karena tidaklah Allah akan memberi pahala kepada mereka kecuali itu sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah, dan Allah tidak akan merobah janji-Nya atas apa yang telah Allah janjikan kepada mereka pada kalimat-Nya, adapun yang demikian itu supaya mereka dapat memperhitungkan amal perbuatan mereka di dunia ini, dan supaya mereka tidak ada keraguan dalam mengerjakan perintah Allah. Dan jika kita ada kelapangan dalam mengerjakan perintah Allah, maka Allah menyuruh kita dengan ayat-Nya supaya kita menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan keseluruh manusia, yang firman-Nya :

Dan tidaklah Kami mengutus kamu kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan ke seluruh manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(Q.S.34:28).

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita membawa kabar gembira dan memberi peringatan keseluruh manusia, karena kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan jika kita berpendapat bahwa yang demikian itu Allah menyuruh Rosul-Nya bukan menyuruh kita.” Maka ingatlah akan firman Allah yang menerangkan kepada kita, bahwa Rosul-Rosul-Nya itu sebagai contoh suri tauladan yang baik bagi kita untuk mengerjakan segala perintah-Nya, agar apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu baik sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rosul-Rosul-Nya. Maka jika kita benar-benar mau mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, maka patutlah kita mencontoh amal perbuatan Rosul-Rosul-Nya dengan mengerjakan apa yang telah dikerjakan oleh Rosul-Rosul-Nya, jika kita membenarkan bahwa Rosul-Rosul-Nya itu sebagai contoh suri tauladan yang baik bagi kita untuk mengerjakan perintah Allah. Dan janganlah kita mengambil contoh perbuatan yang buruk dalam mengerjakan perintah-Nya itu, karena yang demikian itu niscaya kita mendapat catatan amal yang buruk dalam mempelajari ayat-ayat-Nya itu, dan yang demikian itu hanya bagi orang-orang yang mengikuti pengajaran Al Qur’an, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Sesungguhnya kamu hanya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang mengikuti pengajaran (Al Qur’an), dan dia takut kepada (Tuhan) Yang Maha Pemurah (walaupun) tidak kelihatan. Maka berilah dia kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. 36 : 11).

Maka itu perkenankanlah kami untuk menyampaikan amanat Allah dengan membawa kabar gembira dan memberi peringatan dan mengabarkan tentang “ Kebenaran Al Qur’an “, mudah-mudahan menambah keyakinan kita dalam mengerjakan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, karena sungguh tidak ada yang memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan segala perintah Allah kecuali Allah sendiri yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, yang firman-Nya :

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alif Lam Mim.(Q.S.2:1).

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan didalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah mengerjakan segala perintah-Nya). (Q.S.2:2).

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mereka mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. (Q.S.2:3).

Dan (mereka) orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang di turunkan kepadamu, dan kepada kitab-kitab yang di turunkan sebelummu, dan mereka yakin pada (kehidupan) hari akhirat. (Q.S.2:4).

Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah yang beruntung. (Q.S.2:5).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa Al Qur’an tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Yaitu untuk kita yang beriman kepada yang gaib yang tidak kelihatan oleh penglihatan kita, dan Al Qur’an itu sebagai petunjuk untuk mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Allah berikan kepada kita, agar kita beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Apabila kita beriman kepada Kitab Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang turun-temurun sampai kepada kita, dan demikian pula kepada kitab-kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya, dan kita yakin akan kehidupan akhirat sebagaimana keyakinan kita terhadap kehidupan dunia yang telah Allah ciptakan untuk kehidupan kita sekarang ini. Yaitu sebagaimana keyakinan orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Tuhannya yang mereka telah beruntung di sisi Allah.

Dan demikian pula kita, apabila kita mau mengambil Al Qur’an sebagai petunjuk untuk bertakwa kepada Allah, atau kita mau menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dari sisi Allah, dan tentu kita termasuk orang-orang yang beruntung, jika kita mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu.

Adapun yang demikian itu karena Al Qur’an tidak ada keraguan bagi kita sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah, dan jika kita keraguan maka Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan jika kamu keraguan terhadap (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah seperti (yang telah Kami terangkan dalam Al Qur’an), dan panggilah saksi-saksimu (sebagai penolongmu) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S.2:23).

Maka jika kamu tidak (dapat ) membuatnya, dan pasti kamu tidak akan( dapat ) membuatnya, maka peliharalah dirimu dari (siksaan) api neraka yang bahan bakarnya dari diri manusia dan batu-batu yang di sediakan bagi orang-orang yang mengingkarinya. (Q.S.2:24).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, jika kita keraguan terhadap Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada hamba-Nya Nabi besar Muhammad SAW, maka buatlah satu surah seperti yang telah Allah terangkan kepada kita dalam Al Qur’an, yaitu tidaklah Allah menerangkan kekuasaan-Nya kepada kita apa yang telah Dia ciptakan dilangit dan dibumi dan apa yang ada diantara keduanya kecuali benar, maka jika kita dapat membuat satu surat pernyataan, sebagaimana surat pernyataan kekuasaan Allah yang telah Allah terangkan kepada kita dengan Al Qur’an, maka buatlah oleh kita surat pernyataan kekuasaan kita itu, dan panggilah saksi-saksi kita sebagai penolong kita selain Allah, yaitu yang menyaksikan atas kekuasan kita yang kita buat dalam surat pernyataan kekuasaan kita itu, jika kita benar orang-orang yang mempunyai kekuasaan.

Dan jika kita berpendapat bahwa kita ini dapat membuat sesuatu, maka siapakah yang menjadikan kita dapat membuat sesuatu itu ? Tidak ada yang menjadikan kita dapat membuat sesuatu bukan ! Kecuali Allah. Maka jika demikian tentu kita tidak dapat membuat surat pernyataan dari kekuasaan kita itu, dan pasti kita tidak akan dapat membuatnya, karena semua kekuasaan yang ada pada diri kita ini kepunyaan Allah, maka peliharalah diri kita dari siksaan api neraka yang bahan bakarnya dari diri manusia dan batu-batu yang di sediakan bagi orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya. Maka berimanlah kita kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan berimanlah kamu kepada (Al Qur’an) yang telah Aku turunkan untuk membenarkan apa yang telah ada bersamamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, dan jangan (pula) kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan nilai yang rendah, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa (mengerjakan perintah-Ku). (Q.S.2:41).

Dan janganlah kamu campur-adukan yang hak dengan yang batil, dan jangan (pula) kamu sembunyikan yang hak sedang kamu mengetahui. (Q.S.2:42).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diperintahkan Allah kepada kita, supaya kita beriman kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya, untuk membenarkan apa yang telah ada bersama kita yang kita telah kerjakan dari perintah Allah, dan janganlah kita menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, karena kita tidak percaya kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah yang telah ada bersama kita yang kita telah kerjakan itu, dan jangan pula kita menukarkan ayat-ayat Allah dengan nilai yang rendah, yaitu seakan-akan kita mengira bahwa mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu lebih rendah dari pada kita mengerjakan yang lainnya, sehingga kita tidak mau mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, dan kepada Allah-lah kita harus bertakwa dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan janganlah kita campur-adukan yang hak dengan yang batil, yaitu seakan-akan kita mempersamakan petunjuk Allah yang hak dengan petunjuk yang lain, karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, kecuali Allah sendiri, maka jika Allah tidak memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya, niscaya kita kesalahan dalam mengerjakan perintah-Nya itu, maka janganlah kita mempersamakan petunjuk Allah dengan petunjuk yang lain, dan jangan pula kita menyembunyikan petunjuk Allah yang hak untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu. sedang kita mengetahui bahwa tidak ada yang hak untuk memberi petunjuk kepada kita dalam mengerjakan perintah Allah kecuali Allah sendiri. Maka janganlah kita mengingkari Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu, sebagaimana orang-orang dahulu yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya, yang firman-Nya :

Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ Berimanlah kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan.” Berkatalah mereka : “ Kami hanya beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami.” Dan mereka mengingkari Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al Qur’an (Kitab) yang hak untuk membenarkan apa yang telah ada bersama mereka, katakanlah : “ Mengapa dahulu kamu membunuh Nabi-nabi Allah, jika kamu orang-orang yang beriman ? “(Q.S.2: 91).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, apabila dikatakan kepada mereka : “ Berimanlah kepada Al Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya.” Berkatalah mereka : “ Kami hanya beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami sebelumnya.” Adapun yang demikian itu karena mereka hanya percaya kepada pengetahuan mereka yang telah mereka ketahui, sebelum mereka mengetahui Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya, dan mereka mengingkari Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al Qur’an Kitab yang hak untuk membenarkan apa yang telah ada bersama mereka yang telah mereka kerjakan dari perintah Allah, maka mengapa dahulu mereka membunuh Nabi-nabi Allah yang menjadi contoh suri tauladan yang baik bagi mereka dalam mengerjakan perintah Allah, atau mengapa mereka menghilangkan contoh yang baik dengan tidak mau mencontoh apa yang telah dikerjakan oleh Nabi-Nabi dalam mengerjakan perintah-Nya itu, jika mereka beriman kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. “

Maka janganlah kita ragu-ragu terhadap kebenaran Al Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintah-Nya itu, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Q.S.2:147).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa kebenaran itu dari Allah, maka sekali-kali janganlah kita termasuk orang-orang yang ragu-ragu terhadap kebenaran Al Qur’an, apabila kita hendak mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu, karena sungguh tidaklah Allah menurunkan Al Qur’an, melainkan itu sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alif Lam Mim. (Q.S.3:1).

Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang berdiri Hidup (dengan kehendak Dia sendiri). (Q.S.3: 2).

Dia telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan benar, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada diantara kedua tangannya, dan Dia telah menurunkan Taurat dan Injil. (Q.S.3: 3).

Dari sebelum (Al Qur’an) menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia telah menurunkan Al Furqon (sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah bagi mereka siksa yang berat, dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan siksa. (Q.S.3: 4).

Sesungguhnya (bagi) Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi atas-Nya di bumi dan di langit. (Q.S.3: 5).

Dia-lah Yang membentuk (rupa tubuh)mu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki, (sungguh) tidak ada Tuhan (yang kuasa membentuk rupa tubuhmu) kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.3: 6).

Dia-lah Yang menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu, yang diantara (isi) nya itu ada ayat-ayat muhkamat (yang jelas maksudnya), itulah pokok isi Al Kitab, dan yang lain(nya ayat-ayat) mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Maka adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang dari padanya itu mereka mengharapkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya (atau penjelasannya), padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan berkatalah orang-orang yang memperdalam ilmu : “ Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, (karena) semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak ada yang mengambil pengajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S.3: 7).

(Berdo’alah mereka) : “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (rahmat).” (Q.S.3: 8).

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya untuk (menerima balasan dari perhitungan amalnya)”. (Ingat !) Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji. (Q.S.3: 9).

Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda mereka dan anak-anak mereka tidak dapat menolak (azab) Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka akan (menjadi) bahan bakar api neraka. (Q.S.3: 10).

(Keadaan mereka itu sama) seperti keadaan keluarga Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka, dan Allah sangat keras siksa-(Nya). (Q.S.3: 11).

Katakanlah kepada orang-orang kafir : “ Kamu pasti akan dikalahkan dan kamu akan digiring ke dalam neraka jahannam, dan itu tempat yang seburuk-buruknya ”. (Q.S.3: 12).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, dan Allah mempersaksikan kepada kita, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang berdiri Hidup dengan kehendak Dia sendiri, yaitu bahwa Allah tidak ada yang menciptakan dan tidak pula ada yang menghidupkan melainkan Allah berdiri hidup atas kehendak Dia sendiri.

Dan Allah telah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada Rosul-Nya dengan benar, untuk membenarkan kitab-kitab yang ada diantara kedua tangannya yang telah menjadi pegangannya. Dan yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Taurat dan Injil dari sebelum Al Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia telah menurunkan Al Furqon sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil, adapun yang hak untuk memberi petunjuk kepada kita dalam mengerjakan perintah Allah, maka itu Allah sendiri yang Allah tunjukan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, dan yang lainnya batil, karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam mengerjakan perintah-Nya kecuali Allah sendiri.

Dan sesungguhnya orang-orang yang mengingkari petunjuk Allah yang Allah tunjukan kepada mereka dengan ayat-ayat-Nya bagi mereka siksa yang berat, dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan siksa. Dan sesungguhnya bagi Allah tidak ada yang tersembunyi atas-Nya di langit dan di bumi, dan jika kita menyembunyikan keingkaran kita kepada Allah, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan dalam hati kita.

Dan Dia telah membentuk rupa tubuh kita dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki, yaitu sebagaimana bentuk rupa yang telah nyata pada tubuh kita ini, dan yang demikian itu tidak ada Tuhan yang kuasa membentuk rupa tubuh kita kecuali Allah sendiri Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maka Allah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada Rosul-Nya agar disampaikan kepada kita, yang diantara isi nya itu ada ayat-ayat muhkamat yang jelas maksudnya, dan yang demikian itu pokok isi Al Kitab yang Allah terangkan kepada kita, baik petunjuk-Nya, perintah-Nya, nasehat-Nya dan cegahan-Nya, dan yang lainnya ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung beberapa pengertian bagi orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah.

Maka adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka lebih menyukai tidak mengetahui petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, dari pada mereka mengetahui petunjuk Allah yang Allah jelaskan kepada mereka dengan melalui Al Qur’an. Maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang dari padanya itu mereka mengharapkan fitnah, untuk suatu tuduhan yang tidak benar terhadap orang apabila orang itu mengerjakan perintah Allah yang Allah perintahkan kepadanya dengan melalui Al Qur’an, dan mereka mencari-cari ta’wilnya atau penjelasannya sesudah Allah memberikan ayat-ayat yang jelas maksudnya, yaitu seakan mereka tidak cukup dari penjelasan Allah yang telah menjelaskan ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wil atau penjelasannya kecuali Allah sendiri.

Maka orang-orang yang memperdalam ilmunya mereka berkata : “ Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, karena semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Adapun yang demikian itu karena mereka selalu mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Dan tidak ada yang mengambil pengajaran dari ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang mempunyai akal.

Maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita mendapat penjelasan dengan apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, karena Allah tidaklah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kita, melainkan penjelasannya itu Allah jelaskan kepada kita, dengan pengetahuan yang Allah ketahui dari perbuatan kita yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, agar kita mengetahui mana yang salah dan mana yang benar dalam mengerjakan perintah-Nya itu, dan Allah tidaklah lengah dari apa yang kita kerjakan.

Dan bagaimana kita akan mendapat penjelasan dari sisi Allah, jika kita tidak mau mengerjakan perintah-Nya, maka apakah kita ingin penjelasan yang jauh yang Allah terangkan kepada kita dengan menceritakan perbuatan orang-orang dahulu ? Tidak mungkin bukan ! Karena yang demikian itu samar bagi kita, seakan-akan kita hanya sebagai penontonnya saja atau pendengarnya, maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, agar kita mendapat penjelasan yang dekat dengan melihat perbuatan kita sendiri yang Allah jelaskan kepada kita dengan pengetahuan yang Allah ketahui dari perbuatan kita.

Dan sebelumnya mari kita berdo’a kepada Allah sebagaimana orang-orang yang memperdalam ilmu yang telah mempelajari ayat-ayat-Nya : “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.” Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya untuk menerima balasan dari perhitungan amalnya”.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji atas apa yang Allah janjikan pada hari yang tidak ada keraguan itu, maka perhitungkanlah amal perbuatan kita sekarang ini, sebelum amal kita diperhitungkan nanti. Maka apakah benar perintah Allah yang kita kerjakan itu mengikuti petunjuk-Nya sebagaimana yang Allah tunjukkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya ? Atau tidak demikian.

Sesungguhnya orang-orang kafir yang tidak percaya kepada Allah yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya itu, harta benda mereka dan anak-anak mereka itu tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka akan menjadi bahan bakar api neraka. Keadaan mereka itu sama seperti keadaan keluarga Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka, dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Katakanlah kepada orang-orang kafir : “ Kamu pasti akan dikalahkan dan kamu akan digiring ke dalam neraka jahannam, dan itu yang seburuk-buruknya tempat menetap bagi orang-orang kafir. Adapun yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, dan mereka tidak percaya kepada Allah, bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya, maka keadaan mereka itu sama seperti keadaan keluarga Fir’aun, yang hanya menuruti keinginan hawa nafsu mereka sendiri, dan mereka tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, yaitu seperti orang yang menjadikan Tuhannya kepada hawa nafsunya yang Allah tanyakan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, yang firman-Nya :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menjadikan tuhannya kepada hawa nafsunya, maka apakah kamu akan menjadi pemeliharanya ? (Q.S.25: 43).

Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahaminya ? Tidaklah lain mereka itu kecuali seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat jalannya. (Q.S.25: 44).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya yang demikian itu Allah bertanya kepada kita :” Apakah kita tidak memperhatikan orang yang menjadikan tuhannya kepada hawa nafsunya, yaitu orang yang menta’ati keinginan hawa nafsunya sendiri, dan ia tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, maka apakah kita akan memelihara perbuatan yang demikian itu seakan-akan kita menjadikan Tuhan kepada hawa nafsu kita sendiri ?

Apakah kita mengira bahwa kebanyakan orang-orang kafir itu mendengar apa yang Allah bicarakan kepada mereka dengan ayat-ayat-Nya atau memahaminya ? Tidaklah lain mereka itu kecuali seperti binatang ternak yang apabila binatang itu diajak bicara, maka ia tidak memahaminya, bahkan orang-orang kafir itu lebih tersesat jalannya dari pada binatang ternak, karena binatang itu kadang-kadang dapat diperintah dan dicegah oleh pemiliknya.

Maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, dan mari kita jauhi cegahan-Nya, supaya kita tidak seperti orang-orang kafir, dan apabila kita telah berdo’a kepada Allah atas do’a yang telah Allah ajarkan kepada kita, maka itu perhatikanlah oleh kita sehingga kita memahaminya dan mengikutinya dengan benar, yaitu tidaklah kita memohon kepada Allah dengan mengucapkan : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.”

Maka sesudah itu bagaimana, apakah benar keinginan kita ini sama seperti apa yang kita mohon kepada Allah ketika kita mengucapkannya itu ? Adapun yang demikian itu karena Allah bertanya kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Apakah kamu tidak memperhatikan kepada orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab ? mereka membeli (memilih) kesesatan (sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka), dan mereka menghendaki supaya kamu tersesat jalan (dari jalan petunjuk Allah). (Q.S.4: 44).

Itulah pertanyaan Allah kepada kita sesudah kita memohon kepada-Nya :” Maka apakah kita tidak memperhatikan kepada orang-orang yang telah diberi bagian dari Al Kitab ? Mereka memilih kesesatan sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka untuk mengerjakan perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena hati mereka lebih condong kepada kesesatan dari pada mengikuti petunjuk Allah dalam mengerjakan perintah-Nya itu, padahal Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya, akan tetapi mereka tetap saja tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, maka yang demikian itu tidaklah mereka berbuat demikian melainkan mereka telah memilih kesesatan dari pada mereka memilih petunjuk Allah untuk mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu karena mereka hendak menyesatkan kita dari jalan petunjuk Allah, apabila kita ikut mengerjakan perintah Allah bersama mereka, dan sungguh seandainya mereka tidak akan menyesatkan kita dari jalan petunjuk Allah yang telah Allah berikan kepada mereka dengan melalui Kitab-Nya, tentu mereka tidak memilih kesesatan dan tentu mereka mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu. Maka apakah kita akan seperti mereka sesudah Allah memberikan Al Qur’an kepada kita sebagai petunjuk untuk mengerjakan perintah-Nya itu ? Dan yang demikian itu Allah bertanya kepada kita dengan melalui ayat-Nya, yang firman-Nya :

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? dan jika (Al Qur’an) bukan dari sisi Allah, tentulah didalamnya itu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak. (Q.S.4: 82).

Itulah pertanyaan Allah kepada kita, apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? dan jika Al Qur’an bukan dari sisi Allah, tentulah didalamnya itu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak, yaitu banyak mendapati keterangan-keterangan yang tidak benar yang menyimpang dari kebenaran yang telah ada bersama mereka, sehingga keterangan-keterangan itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama mereka.

Maka bagaimana, apakah keterangan-keterangan yang Allah terangkan kepada kita itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita ? Baik Allah menerangkan ciptaan-Nya kepada kita, yaitu langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, baik Allah menerangkan pemberian-Nya kepada kita, yaitu petunjuk untuk mengerjakan segala perintah-Nya dan rizki yang telah Allah ciptakan untuk makanan kita, baik Allah menerangkan kejelekan kita dalam mengerjakan perintah-Nya, dan baik pula Allah menerangkan yang lainnya. Maka apakah itu bertentangan dengan kebenaran yang telah ada bersama kita ? Tidak bukan ! Karena kita menyaksikan kebenarannya atas apa yang telah Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu.

Maka bagaimana, apakah kita akan memilih kesesatan yang tidak ada kebenarannya disisi Allah dan disisi kita ? Atau apakah kita akan mengerjakan sesuatu yang tidak dibenarkan Allah dan tidak pula dibenarkan oleh kebenaran yang telah ada bersama kita ? Atau apakah kita akan memilih kesesatan dalam mengerjakan perintah Allah sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya itu ? Tidak mungkin bukan !, karena kita telah memohon kepada Allah, supaya Allah tidak menjadikan hati kita condong kepada kesesatan sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya, dan yang demikian itu tentu kita termasuk orang-orang yang diberi rahmat Allah, jika kita mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya. Dan yang demikian itu Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan (membawa) kebenaran, supaya kamu mengadili diantara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang untuk (membela) orang-orang yang berkhianat. (Q.S.4:105).

Dan mohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:106).

Dan jangan (pula) kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang telah mengkhianati diri mereka sendiri, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa. (Q.S.4:107).

Mereka bersembunyi dari manusia, padahal mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, dan pada suatu malam Allah beserta mereka ketika mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak di ridhai Allah. Dan (pengetahuan) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Q.S.4:108).

Beginilah keadaanmu, (tidaklah) kamu berdebat (melainkan itu hanya membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, maka pada hari kiamat siapakah yang akan mendebat Allah (untuk membela) mereka ? Atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka (dari azab Allah) ? (Q.S.4: 109).

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapat (ampunan) Allah, (sesungguhnya Allah) Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:110).

Dan barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan (dosa) untuk dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (Q.S.4:111).

Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian ia melemparkannya dengan (menuduh) orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. (Q.S.4:112).

Dan sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya segolongan dari mereka itu akan menyesatkan kamu, dan tidaklah mereka menyesatkan melainkan mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan sedikitpun mereka tidak dapat memberi madharot kepadamu. Dan (yang demikian itu karena) Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadamu, dan Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak mengetahui, dan itu amat besar karunia Allah atasmu. (Q.S.4:113).

Tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan mereka, kecuali (bisikan) orang yang menyuruh sedekah, atau mengerjakan kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi pahala yang besar kepadanya. (Q.S.4:114).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, sesungguhnya tidaklah kita dapat mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya, melainkan itu sesudah Allah menurunkan Kitab Al Qur’an kepada kita dengan membawa kebenaran, supaya kita mengadili diantara perbuatan manusia dalam mengerjakan perintah Allah dengan kebenaran yang telah Allah wahyukan kepada kita dengan melalui Al Qur’an, adapun yang demikian itu karena tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, melainkan mereka supaya mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala cegahan-Nya, dan janganlah kita menjadi penentang kebenaran untuk membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, yaitu membela orang-orang yang telah menyembunyikan kebenaran Al Qur’an yang didalamnya keterangan-keterangan dan petunjuk untuk mengerjakan perintah Allah, dan tidaklah mereka menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk Allah, melainkan mereka tidak mau mengerjakan perintah Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya itu, sesudah mereka membacanya dalam Al Qur’an.

Dan seandainya kita telah berdebat membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, maka mohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan jangan pula kita berdebat untuk membela orang-orang yang telah menghianati diri mereka sendiri, yaitu membela orang-orang yang telah menghianati perintah Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, setelah hati mereka menyanggupi untuk mengerjakan perintah Allah, kemudian sesudah itu mereka mengganti perintah Allah dengan mengerjakan selain yang telah diperintahkan Allah kepada mereka, padahal Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan perintah-Nya, maka yang demikian itu mereka telah menghianati diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa.

Mereka bersembunyi dari manusia, padahal mereka tidak dapat bersembunyi dari pengetahuan Allah yang selalu mengawasi perbuatan mereka, dan pada suatu malam Allah beserta mereka, ketika mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak di ridhai Allah, yaitu menetapkan suatu urusan dari selain yang telah diperintahkan Allah kepada mereka, sesudah mereka mengambil keputusan dalam hatinya untuk mengerjakan perintah Allah. Dan pengetahuan Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Maka itu janganlah kita berdebat untuk membela orang-orang yang berkhianat kepada Allah, karena tidaklah kita berdebat melainkan itu hanya membela mereka dalam kehidupan dunia ini, maka pada hari kiamat siapakah diantara kita yang akan mendebat Allah untuk membela orang-orang yang berhianat itu ? Atau siapakah diantara kita yang akan menjadi pelindung mereka dari azab Allah ?

Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kejahatan, atau kita telah berhianat kepada Allah dalam urusan agama kita, atau dalam keta’atan kita kepada perintah Allah sesudah kita memeluk agama Islam, atau sesudah kita menyerahkan diri kepada Allah dengan tujuan hendak ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, kemudian sesudah itu kita berkhianat kepada Allah dengan tidak mau mengerjakan perintah-Nya, atau kita menganiaya diri kita sendiri dengan tidak mau mengerjakan perintah Allah, atau kita menipu diri kita sendiri sesudah kita mengaku Islam, padahal kita tidak menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya. Kemudian sesudah itu kita mohon ampunan kepada Allah, niscaya kita mendapat ampunan Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan dosa hanya untuk dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian ia melemparkannya dengan menuduh orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.

Dan sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kita, niscaya segolongan dari orang-orang yang telah berhianat itu akan menyesatkan kita, akan tetapi tidaklah mereka menyesatkan melainkan mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan sedikitpun mereka tidak dapat memberi madharot kepada kita. Dan yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepada kita, dan Dia telah mengajar kita apa yang kita tidak mengetahui, dan itu amat besar karunia Allah yang dilimpahkan atas kita, jika kita orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Maka itu mari kita pelajari ayat-ayat Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, karena tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan orang-orang yang berhianat, kecuali bisikan orang yang menyuruh sedekah, atau mengerjakan kebaikan, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa diantara kita ada yang berbuat demikian karena mencari ke ridhaan Allah, maka kelak Allah akan memberi pahala yang besar kepadanya, yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Kami masukkan mereka ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada (perkataan) Allah ? (Q.S.4:122).

(Pahala dari sisi Allah) bukan menurut angan-angan kosongmu dan bukan (pula) menurut angan-angan kosong Ahli Kitab. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas dengan (kejahatan), dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Allah. (Q.S.4:123).

Dan barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia orang-orang yang beriman, maka mereka itulah yang masuk sorga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. (Q.S.4:124).

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia orang yang mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya . (Q.S.4:125).

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan (pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu. (Q.S.4:126).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, yaitu jika kita beriman kepada Allah dan beramal sholeh menolong agama Allah dengan menyampaikan amanat-Nya, dan mengerjakan segala perintah-Nya, maka kelak Allah akan memasukkan kita ke dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, kita kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada perkataan Allah ?

Maka itu mari kita kerjakan segala perintah-Nya, karena pahala dari sisi Allah bukan menurut angan-angan kosong kita dan bukan pula menurut angan-angan kosong Ahli Kitab. Dan barang siapa diantara kita ada yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas dengan kejahatan, dan baginya tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Allah. Dan barang siapa diantara kita ada yang beramal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat, maka mereka itulah yang masuk sorga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Dan siapakah diantara kita yang lebih baik agamanya atau keta’atannya dari pada orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah Allah, dan dia orang yang mengerjakan kebaikan dan mengikuti keta’atan Nabi Ibrahim yang lurus kepada Allah dengan tunduk patuh kepada perintah-Nya ? Dan Allah telah mengambil Nabi Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Maka apabila kita telah menyerahkan diri kita kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, niscaya Allah mengetahui apa yang telah kita kerjakan dari perintah-Nya itu, dan yang demikian itu Allah menyuruh kita dan berwasiat kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan jangan kamu mati kecuali kamu telah menyerahkan diri (kepada Allah). (Q.S.3:102).

Itulah yang diperingatkan Allah kepada kita, supaya kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, yaitu supaya kita mengerjakan segala perintah Allah dengan sebenar-benarnya mengerjakan perintah-Nya, dan Allah berwasiat kepada kita yang wasiat-Nya, jangan kita mati kecuali kita telah menyerahkan diri kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, maka itu mari kita tunaikan segala perintah-Nya sebelum kita menemui kematian, jika kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat. Dan Allah menerangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan sesungguhnya Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu dan kepada kamu, supaya kamu bertaqwa kepada Allah. Dan jika kamu mengingkarinya, maka sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan dibumi, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S.4:131).

Dan kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (Q.S.4:132).

Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kita dan kepada kita, supaya kita bertaqwa kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya. Dan jika kita mengingkarinya karena kita tidak percaya dan tidak mau mengerjakan perintah Allah, maka sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan dibumi, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Apakah benar langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya itu kepunyaan Allah ? Dan apakah benar kita ini kepunyaan Allah ? Jika benar, apakah salah kalau yang punya menggunakan kepunyaan-Nya, atau Allah menyuruh kita sebagai milik-Nya agar kita mengerjakan segala perintah-Nya ? Tidak ada salahnya bukan ! Karena yang punya itu hak untuk menggunakan kepunyaan-Nya. Dan jika itu benar, maka kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya itu, karena sungguh apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan cukuplah Allah sebagai pelindung kita, dan siapa lagi yang akan melindungi kita jika bukan Allah yang memiliki kita, dan tidak ada yang melindungi miliknya kecuali pemiliknya. Maka itu mari kita serahkan diri kita kepada Allah, dengan tujuan kita hendak mengabdi kepada Allah dengan ta’at tunduk patuh kepada perintah-Nya, adapun yang demikian itu karena Allah telah memberi peringatan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Hai manusia, jika Allah menghendaki, (niscaya) Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan (kaum) yang lain (sebagai pengganti kamu), dan Allah Maha Kuasa atas yang demikian. (Q.S.4:133).

Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (apa yang kamu kerjakan). (Q.S.4:134).

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan karena Allah dengan menjadi saksi (terhadap perbuatan manusia), walaupun itu terhadap (perbuatan) dirimu sendiri, atau terhadap (perbuatan) ibu-bapak(mu) dan kaum kerabat(mu), dan jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui terhadap (perbuatan) keduanya, maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu(mu) supaya kamu dapat berbuat adil. Dan jika kamu memutar balikkan atau kamu menentang, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.4:135).

Wahai orang-orang yang beriman, tetapkanlah imanmu kepada Allah dan Rosul-Nya dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah Allah turunkan kepada Rosul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya. Dan barang siapa yang kafir kepada Allah dan kepada Malaikat-Malaikat-Nya dan kepada Kitab-Kitab-Nya dan kepada Rosul-Rosul-Nya dan kepada hari akhirat, maka sesungguhnya ia telah tersesat dengan sejauh-jauhnya tersesat (dari jalan petunjuk Allah). (Q.S.4:136).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian mereka ingkar, kemudian mereka beriman lagi, kemudian mereka ingkar lagi, kemudian mereka bertambah-tambah ingkar, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak memberi petunjuk ke jalan (yang lurus). (Q.S.4:137).

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwasanya mereka akan ditimpa azab yang sangat pedih. (Q.S.4:138).

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pelindung dari selain orang-orang mu’min, apakah mereka akan mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir ? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah. (Q.S.4:139).

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan (peringatan) atasmu dalam Al Qur’an, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari (oleh orang-orang kafir) dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk-duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena jika (kamu berbuat) demikian sesungguhnya kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir dalam neraka jahannam. (Q.S.4:140).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah yang diperingatkan Allah kepada kita, yaitu jika Allah menghendaki niscaya Allah memusnahkan kita dan mendatangkan kaum yang lain sebagai pengganti kita, dan Allah Maha Kuasa untuk memusnahkan kita dan mengganti kita. Adapun yang demikian itu karena kita ini kepunyaan Allah, maka jika kita tidak mau mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, maka Allah berhak untuk memusnahkan kita dan mengganti kita dengan kaum selain kita, karena kita termasuk yang tidak berguna bagi Allah.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita mempunyai sebidang tanah, kemudian tanah kita itu dihuni oleh rumput-rumputan yang tidak berguna bagi kita, maka jika kita menghendaki tentu rumput-rumputan itu kita musnahkan dan kita ganti dengan tanaman yang berguna bagi kita. Dan jika tanaman yang kita tanamkan sebagai pengganti rumput-rumputan itu jelek pertumbuhannya, tidak sebagaimana apa yang kita kehendaki dari padanya, maka kita berhak pula memusnahkannya dan menggantinya dengan tanaman yang lebih baik pertumbuhannya dari padanya, adapun yang demikian itu karena kita pemilik tanah itu, yang berhak untuk memusnahkan apa yang ada ditanah itu dan menggantinya.

Dan demikian pula Allah pemilik langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, maka jika kita tidak berguna bagi Allah karena kita tidak dapat melaksanakan apa yang dikehendaki Allah dari kejadian kita sesudah Allah menciptakan kita, maka jika demikian apa yang Allah katakan itu adalah benar, bahwa Allah akan memusnahkan kita dan mengganti kita dengan kaum yang lain, karena kita termasuk yang tidak berguna bagi Allah, dan yang demikian itu karena Allah tidaklah menciptakan kita melainkan kita supaya mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kita menyaksikan kebenarannya dari apa yang Allah katakan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, dan apa yang Allah katakan itu bukan senda gurau, melainkan itu adalah benar, dan apa yang Allah katakan itu benar-benar telah tertulis dalam Kitab-Nya, yang tidaklah mungkin akan dirobah atau dihapus, melainkan itu pasti dilaksanakan, karena janji Allah adalah benar.

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Sesungguhnya Allah telah menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kebutuhan kita dalam kehidupan dunia ini, yaitu matahari untuk kita berusaha mencari karunia Allah dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, bulan untuk perhitungan hari agar kita mengetahui bilangan bulan dan tahun, air hujan yang Allah turunkan untuk kita minum dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, ikan yang ada di air tawar dan di lautan sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang ada di bumi sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, binatang ternak yang ada di daratan sebagai rizki untuk kita makan dan untuk kebutuhan kita yang lainnya, dan banyak pula yang lainnya yang telah Allah ciptakan untuk kebutuhan kita, yang semuanya itu berguna bagi kita. Maka apakah kita ini berguna bagi Allah sehingga Allah menciptakan semua itu hanya semata-mata untuk kebutuhan kita ? Tentu saja berguna bagi Allah bukan ! Jika kita mau mengabdi kepada-Nya. Maka itu mari kita semua mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, supaya kita berguna bagi Allah.

Dan tidaklah Allah menurunkan Al Qur’an kepada kita, melainkan Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita dan hendak menyempurnakan kejadian kita, supaya kejadian kita sempurna sebagaimana apa yang Allah kehendaki dari kejadian kita, yaitu tidaklah Allah menciptakan kita melainkan kita supaya mengabdi kepada-Nya, dan belumlah sempurna kejadian kita sebelum kita mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya.

Dan itu persaksikanlah oleh kita kepada kebenaran yang telah ada bersama kita, maka bagaimana apabila kita membuat sesuatu yang berguna bagi kita, kemudian sesuatu yang kita buat itu belum dapat digunakan oleh kita dengan sebagaimana apa yang kita kehendaki dari padanya, maka apakah sesuatu yang kita buat itu sudah sempurna kejadiannya ? Tentu saja kejadiannya itu belum sempurna bukan ! Itulah kebenaran yang telah ada bersama kita, maka itu perhatikanlah oleh kita supaya kejadian kita ini menjadi jelas apabila kita hendak melihat kejadian kita sendiri, yaitu apakah kejadian kita ini sudah sempurna atau belum ?

Dan jika kejadian kita ini telah sempurna dengan pengabdian kita itu, maka janganlah kita merusak diri kita sendiri dengan melanggar aturan Allah, petunjuk,nasehat dan cegahan-Nya dalam mengerjakan perintah-Nya itu, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan lagi melampaui batas.

Dan jika kita merasa belum sempurna dalam kejadian kita dengan pengabdian kita itu, maka terimalah Al Qur’an sebagai petunjuk untuk pengabdian kita kepada Allah, karena dengan Al Qur’an itu Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita dan hendak menyempurnakan kejadian kita, supaya kita dapat mengabdi kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya, dan Allah telah menyediakan pahala dunia dan pahala akhirat sebagai balasan dalam pengabdian kita atas apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya itu, dan yang demikian itu karena Allah hendak menyempurnakan ni’mat-Nya atas kita, supaya kita bersyukur kepada-Nya.

Maka barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah telah tersedia pahala dunia, dan barang siapa diantara kita ada yang menghendaki pahala akhirat, maka di sisi Allah telah tersedia pahala akhirat, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat apa yang kita kerjakan dari perintah-Nya, maka itu mari kita kerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita beruntung di dunia dan di akhirat nanti.

Wabillahittaufik wal hidayah,
Wassalaamu’alaikum Wr wb.

Kategori:Al-Quran bag. 1 Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: